5 Hal yang Harus Kamu Pahami Kalau Mau Kuliah Arsitektur

person-reading-on-ipad

Hai Sobat ICampus! Menjadi seorang yang berkuliah di jurusan arsitektur, tentunya akan membuatmu bisa sedikit berbangga ketika ditanya oleh orang tentang jurusan yang kamu ambil dalam kuliah. Terkenal mahal, susah dan juga terlihat memiliki masa depan yang mentereng melalui desain-desain bangunan hasil karyanya.

Namun, apakah anggapan orang awam itu benar? Mengingat, peraturan yang mengatur tentang dunia seputar arsitek baru terbit pada tahun 2017 lho. Bagi kamu yang terpikir untuk kuliah di jurusan arsitektur, simak 5 hal yang harus kamu perhatikan sebelum memilih arsitektur.

1. Bisa gambar itu belum tentu cocok kuliah arsitektur

Kamu merasa jika kamu memiliki kemampuan menggambar, lalu orangtuamu langsung menyarankan kuliah di jurusan arsitektur? Hmm… sebaiknya kamu teliti lebih dalam lagi style gambarmu itu sebenarnya cocok ke bidang apa.

Misalnya, kamu menyukai menggambar anime, kartun, dan karikatur, maka jika kamu memilih arsitektur mungkin malah gak cocok, karena di arsitektur gambar yang diajarkan adalah cara menggambar seputar bangunan.

Nah, kebanyakan orang-orang salah pengertian jika seseorang memiliki bakat menggambar, maka dia harus kuliah arsitektur, karena melihat seorang arsitek lebih menjanjikan ketimbang seniman lukisan atau seni rupa lainnya.

Biar kamu gak mengalami nasib salah milih jurusan, kamu harus tahu apakah kemampuan gambarmu itu cocok dengan arsitektur atau bidang seni rupa lainnya.

Baca Juga : 8 Hal Ini Pasti Kamu Rasakan saat Kuliah di Luar Negeri 

2. Kuliah arsitektur berarti kamu harus rela mendedikasikan sebagian hidupmu untuk tugasnya

Kata orang, kuliah di arsitektur itu sering lembur benar gak sih? Jawabannya bisa benar bisa tidak. Tergantung universitas dan manajemen waktumu.

Sebenarnya, tugas kuliah di arsitektur dalam satu semester itu hanya satu tema, misal bangunan bertingkat tinggi. Maka, semua mata kuliah akan mengacu dan mengajarkan sistem bangunan bertingkat tinggi.

Namun, kamu bisa bayangkan berapa banyak gambar yang harus dikerjakan, mulai dari denah, tampak, potongan, detail, dll? Belum lagi harus menerima kenyataan kerjaanmu direvisi oleh dosen dan kamu harus menggambarnya dari awal dan deadline senantiasa mengikutimu.

Jadi, jika kamu seorang yang terbiasa santai, suka nongkrong sana-sini, mending kamu berpikir dua kali sebelum mantap memilih arsitektur sebagai jurusan kuliahmu, karena bisa tidur sesuai anjuran kesehatan yakni 8 jam saja kamu sudah patut bersyukur.

3. Harus siap dengan biaya kuliah yang tergolong mahal

Mahal di sini bukan hanya biaya per semester yang harus kita bayar ya. Namun juga biaya peralatan gambar, laptop, dan juga biaya print gambar saat menjelang UTS dan UAS. Laptop yang dimiliki juga harus memiliki spesifikasi khusus yang kuat untuk menjalankan aplikasi gambar seperti AutoCad, SketchUp, Lumion, dan kawan-kawannya.

Kabar buruknya untuk dapat laptop sesuai dengan standar aplikasi yang harus kita punya sebagai anak arsitek, kita harus menyiapkan dana lebih dari 5 juta rupiah. Hal lainnya adalah saat mencetak gambar kerja kita. Buat kamu yang menganggap harga 1.000 rupiah saja sudah mahal untuk print warna di kertas A4, bisa kamu bayangkan berapa nominal yang kita keluarkan untuk print warna di kertas A1 dan jumlahnya bisa mencapai puluhan lembar?

Jadi, kamu juga harus mempertimbangkan finansial kamu sebelum kuliah daripada harus berhenti di tengah jalan karena kehabisan biaya.

4. Kamu akan bingung bedanya arsitek dan drafter saat mulai masuk dunia kerja

Lulus dengan gelar S1 arsitektur, tak lantas membuatmu langsung menjadi seorang “arsitek”, karena banyak tahapan yang masih harus kamu lalui seperti mengambil profesi, tergabung dalam IAI (Ikatan Arsitek Indonesia), mengambil ujian dsb. Lantas jika kamu bekerja di sebuah konsultan kamu akan merintis dari menjadi seorang drafter arsitek.

Drafter sendiri dalam artian umumnya adalah tukang gambar, yang bisa dilalui tak harus kuliah di arsitektur, namun dari SMK jurusan gambar bangunan juga bisa menjadi seorang drafter.

Gaji seorang drafter, tentunya lebih rendah daripada seorang arsitek. Namun, apakah kamu sanggup menerima kenyataan pemasukanmu yang mana kamu seorang sarjana, tak jauh berbeda dengan lulusan SMK? Di sini mungkin batinmu akan mulai bergejolak.

Baca Juga : 6 Hal yang Perlu Dilakukan Mahasiswa Biar Langsung Kerja Setelah Lulus

5. Rentan jadi bahan tertawaan ketika bekerja tidak sesuai dengan jurusan

Tak sedikit lulusan arsitek tidak memilih pekerjaan di bidang arsitektur saat mereka bekerja. Ada beberapa faktor yang memengaruhi, mulai dari honor yang tak sesuai dengan capeknya bekerja, hingga memang dari awal tidak memiliki passion di dunia arsitektur.

Namun, seringkali orang sekitar akan lebih memberikan reaksi heran bahkan menertawakan ketika seorang lulusan arsitek tidak bekerja sebagai arsitek. Apalagi orang tersebut memilih untuk masuk ke dunia perbankan. Padahal, banyak pula lulusan psikologi ataupun sastra yang bekerja di bank, tidak mendapatkan sorotan yang begitu tajam.

Nah, itu dia 5 hal yang harus kamu perhatikan sebelum memilih arsitektur sebagai jurusan yang ingin kamu tekuni. Tentunya hal di atas bukan bertujuan untuk menghilangkan semangat dan percaya dirimu untuk berkuliah di arsitektur, namun pastinya hal-hal tersebut memang wajib kamu cek dan persiapkan kembali.

Yakinlah, sesulit apa pun kondisi bidang yang kita pilih, jika memang kita memiliki passion dan ketekunan, maka kamu akan sukses pada waktunya.

 

 

Sumber : Idntimes.com

Komentar