5 Alasan Metode ‘Scaffolding’ Perlu Diterapkan dalam Pembelajaran

person-reading-on-ipad

Hai Sobat ICampus! Meski kurikulum sering berganti, namun ada satu kultur pembelajaran yang masih dominan di Indonesia. Guru masih menjadi pusat pembelajaran di kelas dengan materi sedikit-sedikit. Akibatnya, perkembangan siswa sesuai standar yang ditetapkan kurikulum jadi terhambat.

Metode scaffolding dalam pembelajaran bisa menjadi alternatif meningkatkan perkembangan siswa tanpa mengesampingkan peran guru. Apa yang dimnaksud dengan metode scaffolding?

Scaffolding adalah metode pembelajaran dengan memberikan dukungan belajar secara terstruktur. Dukungan belajar bisa berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pembelajaran, memberikan contoh ataupun yang lain sesuai kemampuan siswa sehingga memungkinkan siswa tumbuh mandiri.

Selain itu, terdapat alasan-alasan lain metode ini penting diterapkan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam dunia pembelajaran? Yuk, simak ulasan berikut!

Baca Juga : 6 Tips Belajar Penuh Konsentrasi Agar Terhindar dari Banyak Gangguan

1. Membiasakan diri belajar mandiri

Metode scaffolding sangat memungkinkan peserta didik terlatih belajar secara mandiri. Tugas atau materi pembelajaran yang diberikan lebih kompleks ketimbang metode biasanya. Hal ini sengaja dilakukan agar peserta didik mempelajarinya secara mandiri.

Belajar secara mandiri artinya dia tidak selalu bergantung pada guru atau mentor serta waktu dan tempat yang lebih fleksibel. Selain arahan di awal-awal, peran guru atau mentor hanya membimbing di saat peserta didik mengalami kesulitan.

2. Peserta didik berkesempatan berinteraksi dengan ahli di bidang tertentu

Nah, disinilah asiknya belajar dengan pendekatan scaffolding. Sifatnya yang konstruktif dan luwes, membuat peserta didik berkesempatan belajar dengan ahli sesuai bidangnya. Artinya, metode ini tidak hanya cocok diterapkan untuk anak-anak sekolah, tapi juga untuk semua kalangan.

Kamu bisa belajar sesuai passion dan bidang yang kamu minati demi beragam kepentingan seperti bisnis, startup, magang atau menembus perusahaan tertentu. Selain kerja keras, kamu juga perlu bimbingan dari guru atau mentor yang ahli dan memiliki banyak pengalaman dalam bidang yang sama.

3. Sistem belajar lebih luwes

Sistem belajar yang luwes maksudnya fleksibel dari segi waktu, tempat dan konten. Jika perkembanganmu pesat, maka semakin banyak materi atau konten yang bisa kamu selesaikan. Kamu gak hanya menikmati proses belajarmu selama di jam sekolah dengan pola yang membosankan. Kamu bisa menyelesaikannya dengan tantangan di setiap prosesnya beserta bimbingan guru secara kontinyu.

Sistem belajar yang luwes bikin kamu tidak mudah bosan sekaligus rileks. Bukankah sudah seharusnya suasana belajar seperti ini setiap harinya?

Baca Juga : 5 Hal yang Harus Dipikirkan Fresh Graduate Ketika Pertama Kali Bekerja 

4. Melatih kecerdasan sosial

Dengan metode ini, tidak hanya wawasan yang akan kamu peroleh. Dalam prosesnya, kecerdasan sosial dalam dirimu pun ikut terasah. Kamu jadi lebih sering berkomunikasi dengan guru maupun mentormu terkait kesulitan dan saran yang bisa kamu terapkan. Selain itu, inisiasi untuk mencari mentor tambahan yang ahli di bidangnya pun membuatmu terbiasa memilah kata dan etika terbaik agar tujuan belajar tercapai.

Hasilnya, kamu akan bertemu pengalaman berharga mengenai urgensi komunikasi dengan berbagai kalangan.

5. Mempercepat perkembangan belajar

Tujuan lain metode atau pendekatan scaffolding adalah mempercepat perkembangan belajar siswa. Tidak hanya cepat tapi juga sejalan dengan kualitas yang bisa diraihnya.

Perkembangan yang cepat memungkinkan buat kamu beralih ke tahapan selanjutnya. Dengan begitu, proses belajarmu jadi lebih produktif. Jangan lupa untuk mencoba beragam proyek terkait materi pembelajaran! Pemahamanmu akan bertambah dan sangat potensial kamu terapkan dalam keseharian.

Nah, itulah alasan pentingnya metode scaffolding diterapkan dalam proses pembelajaran. Gak hanya kaya wawasan, tapi juga pengalaman.

 

 

 

Sumber : Idntimes.com

Komentar