Acap Terlupa, Ini 6 Persiapan Krusial sebagai Mahasiswa Internasional

selandia

Hai Sobat ICampus! Memperoleh kesempatan untuk melanjutkan studi ke luar negeri merupakan salah satu peluang yang agaknya layak untuk diperjuangkan. Pasalnya, selain memperdalam kompetensi secara akademik, seorang mahasiswa internasional pun dapat memperluas jaringan pertemanan sekaligus mengasah kemampuan bahasa asing.

Kendati demikian, tak jarang persiapan-persiapan yang terkesan remeh justru kerap terlupa menjelang dan pasca awal kedatangan di negara tujuan. Nah, inilah beberapa hal tersebut.

1. Menghimpun informasi tentang perhimpunan mahasiswa senegara

Informasi tersebut dapat dihimpun melalui rekomendasi langsung dari salah seorang kenalan maupun dari internet, termasuk nomor kontak atau akun media sosial terkait. Pasalnya, saat menyambangi daerah baru, apalagi kancah internasional, memang butuh persiapan yang diusahakan sematang mungkin.

Baca Juga : 5 Motivasi buat Kamu yang Gap Tahun Kuliah agar Tetap Semangat!

Informan tersebut agaknya berkenan membantu membimbing si anak baru tersebut. Misalnya, rute perjalanan, penginapan, tempat makan, fasilitas untuk membeli keperluan harian, skema pembayaran, tata aturan yang berlaku, tips & trick, dan lainnya.

2. Menukar mata uang yang berlaku di negara tujuan (sesuaikan dengan kebutuhan)

Sebelum berangkat, pastikan untuk menyediakan sejumlah uang tunai sesuai mata uang di negara tujuan dan sebaiknya variasikan dalam nominal kecil hingga besar.

Bawa sesuai anggaran untuk akomodasi dan hal penting lainnya supaya memudahkan aktivitas transaksi di negara tujuan kelak. Sebab, tak jarang kartu ATM yang seharusnya dapat digunakan lintas negara malah tak berfungsi saat bertransaksi di luar negeri nanti. Mulai dari kesulitan menemukan lokasi mesin ATM, mesin ATM yang kebetulan sedang bermasalah di area sekitar, hingga keterbatasan nominal tarik tunai per hari.

3. Memeriksa ulang akomodasi, moda transportasi, lokasi tempat makan, dan lain sebagainya

Walaupun sudah kian memesan kamar di penginapan dan mencari tahu sekilas tentang area penginapan, tak ada salahnya untuk tetap memeriksa ulang informasi tersebut. Misalnya, tentang moda transportasi dari penginapan menuju kampus untuk melakukan registrasi ulang, hingga tempat makan yang agaknya pas di lidah dan di kantong.

Bahkan, agaknya kedai kelontong yang memungkinkan untuk menyediakan keperluan di luar dugaan atau terlupa dibawa dari negara asal, seperti port charger yang kadang berbeda antar negara. Intinya, jangan sepelekan hal-hal remeh.

Baca Juga : Bukan Beban, Ini 5 Alasan Kenapa Belajar itu Sebenarnya Seru!

4. Mengikuti perkembangan tahapan untuk pengurusan Student VISA dengan cermat

Menjadi seorang mahasiswa asing harus siap untuk berurusan dengan rentetan proses yang panjang dan cenderung berbelit. Misalnya saja Student VISA, yang tak cuma harus diurus saat masih berada di negara asal, melainkan juga kembali dibenahi ketika sudah berada di negara tujuan, tepatnya pasca registrasi ulang di kampus tersebut.

Cermati dan patuhi persyaratan, jadwal, dan aturan imigrasi terkait. Pastikan proses Student VISA tersebut berjalan lancar agar tak berurusan dengan pihak imigrasi setempat, seperti ditahan karena tak punya izin tinggal, bahkan dideportasi sebab overstay.

5. Menjalin relasi positif dengan senior di program studi bersangkutan

Menjalin relasi dengan senior di program studi yang sama akan memberikan keuntungan tersendiri. Tak dapat dipungkiri, senior tersebut memang telah lebih dahulu mencicipi asam-garam bangku kuliah sehingga agaknya dapat berbagi saran terkait perkuliahan.

Mulai dari mata kuliah yang sebaiknya diambil pada semester awal, skema tugas, tipikal dosen, ataupun gambaran terkait tugas akhir. Bahkan, tak jarang senior turut melibatkan mahasiswa baru untuk liburan bersama saat semester break, lho!

6. Mempelajari bahasa lokal di negara tujuan untuk percakapan sederhana

Terutama jika menjadi mahasiswa asing di negara yang non-native English speaking countries, sangat disarankan untuk mempelajari setidaknya percakapan sederhana sesuai bahasa lokal di negara tujuan. Pasalnya, mau tak mau, interaksi akan terjalin dengan penduduk lokal.

Misalnya, ucapan ‘terima kasih’, ‘maaf’, ‘permisi’, dan ungkapan lain seperti meminta tolong, menanyakan arah atau alamat, dan sebagainya. Hal ini agaknya akan lebih memuluskan hari-hari awal saat tiba di negara tujuan.

 

 

 

Sumber : Idntimes.com

Komentar