7 Tindakan Bikin Mahasiswa Tingkat Akhir Menyesal, Maba Jangan Tiru

membaca

Hai Sobat ICampus! Lulus sekolah menengah atas memang membahagiakan. Namun, kebahagiaan itu hanya sebentar saja. Sebab di depan mata jalan panjang sudah menunggu. Ada yang bekerja, langsung menikah dan berjuang demi bisa mendapatkan bangku kuliah.

Tidak tanggung-tanggung, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tujuan utamanya. Ketika satu per satu jalur masuk PTN dicoba, dan salah satu didapatkan, tiada kata-kata yang terucap kecuali syukur.

Tak elok rasanya menjalani aktivitas perkuliahan mulai dari semester awal hingga akhir hanya dengan sekadar bersantai. Cobalah ingat, perjuangan memasuki bangku perkuliahan sangatlah luar biasa.

Namun, tahukah kamu? Bahwa banyak mahasiswa yang menjalani aktivitas perkuliahan denganbiasa-biasa saja. Namun, saat memasuki semester akhir, kebanyakan dari mereka menyesal.

Kira-kira, apa saja yang membuat mahasiswa semester akhir menyesal? Berikut tujuh penjelasannya. Para maba jangan melakukannya biar kelak kamu tidak menyesal.

Baca Juga : 9 Perbedaan Kuliah dan Kerja yang Kamu Perlu Ketahui 

1. Rajin beli buku tapi tidak membacanya

Pekan pertama masuk kelas biasanya dosen melakukan aktivitas kontrak perkuliahan. Selain itu dosen juga memberikan rekomendasi beberapa buku rujukan untuk mata kuliah tertentu. Saking semangatnya menjadi maba, minimal satu atau bahkan semua buku yang direkomendasikan dosen dibeli semua oleh maba. Alih-alih dibaca, ternyata hanya dibawa saat jam kuliah aja.

Hmmm, padahal semua buku tersebut penting untuk menguasai mata kuliah tersebut. Jadi, bagi maba, jangan sampai hanya membeli buku saja. Tapi bacalah juga buku tersebut. Tips agar bisa menyelesaikan suatu buku, bacalah setiap sebelum dan sesudah jam perkuliahan. Lima belas sampai tiga puluh menit sudah cukup kok.

2. Menjadi mahasiswa yang pemalu

Pemalu yang dimaksud di sini adalah malu untuk berkespresi di kelas. Saat jam perkuliahan sedang berlangsung, maba hanya berdiam diri. Aktivitas yang dilakukan hanya mendengarkan dosen dan mencatat beberapa hal penting. Biasanya maba merasa canggung bahkan takut untuk bersuara di kelas. Entah bertanya atau sekadar mengungkapkan sedikit pengetahuannya di depan umum.

Sifat-sifat semacam itu jika dipertahankan terus-menerus tidaklah baik. Sebab hal tersebut mengakibatkan kita tidak memiliki keberanian untuk menyuarakan pendapat. Padahal, siapa tahu pendapat kita adalah yang selama ini dicari-cari sebagai solusi oleh kebanyakan orang. Terlebih banyak dosen menggunakan ukuran keaktifan seorang mahasiswa adalah dari seberapa sering ia bersuara di kelas, minimal memberikan sebuah pertanyaan.

3. Tidak memperdalam Bahasa Inggris

Ada sebagian kampus yang mewajibkan mahasiswanya untuk menguasai Bahasa Inggris. Namun tidak jarang juga yang tidak mewajibkan. Maba di kampus yang tidak mewajibkan untuk menguasai Bahasa Inggris, biasanya merasa leha-leha. Dalam artian, mereka tidak mau belajar mendalami Bahasa Inggris.

Padahal Bahasa Inggris adalah bahasa internasional. Banyak hal yang akan kita dapatkan ketika kita menguasai Bahasa Inggris, salah satunya adalah memudahkan kita untuk  mengikuti berbagai forum internasional. Nah, forum internasional ini dapat menghantarkan kita menjadi sosok mahasiswa berprestasi yang berbeda daripada yang lainnya. Selain itu, penguasaan terhadap Bahasa Inggris juga dapat memudahkan kita untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri.

4. Tidak menabung. Selalu mengedepankan gaya hidup berlebihan

Uang bulanan yang orang tua berikan cukup untuk memenuhi kebutuhan makan hingga perkuliahan. Ukuran habis dan tidaknya uang bulanan, terkadang disebabkan oleh gaya hidup kita.

Sering kali kita mengedepankan untuk bisa makan di kafe instagramable ketimbang makan di warteg. Ajakan-ajakan hedonisme sering kali susah untuk kita abaikan. Padahal, dalam  mengarungi perkuliahan ini, seharusnya kita selalu berpikir jangka panjang.

5. Tidak bergabung dengan organisasi kampus

Saat baru memasuki dunia kampus, kebanyakan maba hanya ingin fokus pada kesuksesan akademik. Hal tersebut dilakukan dengan cara menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang – kuliah pulang). Saat ada ajakan dari teman untuk bergabung dengan suatu organisasi, jawaban yang paling sering diberikan adalah, “Enggak ah, aku mau fokus ke akademik saja.” atau “Enggak dulu deh, nanti saja kalau sudah semester dua atau tiga.”

Maba pikir semester satu masih sibuk, sedangkan semester selanjutnya tidak. Padahal, faktanya tidak begitu. Biasanya kalau sudah menunda-nunda untuk bergabung dengan organisasi karena alasan kesibukan, sampai wisuda pun tidak akan jadi bergabung.

Padahal bergabung dengan organisasi dapat memberikan kita banyak hal. Mulai dari pengalaman yang tidak kita dapatkan saat di kelas, teman dan jaringan yang luas, hingga berbagai skill yang dapat menunjang kesuksesan perkuliahan dan masa depan kita.

Baca Juga : Keren, 7 Dampak Positif yang Didapat Saat Memilih Kuliah Sambil Kerja

6. Tidak pernah mengikuti lomba

Banyak perlombaan yang diadakan untuk mahasiswa. Mulai dari olahraga, menulis, debat hingga keagamaan. Melalui alasan kesibukan akademik, sering kali menjadikan mahasiswa tidak sempat mengikuti suatu perlombaan. Padahal keikutsertaan kita terhadap suatu perlombaan amat penting lho.

Saat kita mengikuti suatu perlombaan, mungkin kesempatan kita untuk menang memang sangat kecil. Lebih dari itu sesungguhnya kita akan mendapatkan pengalaman baru dan jaringan yang luas. Hal tersebut tentu bermanfaat bagi masa depan kita, baik untuk keberlanjutan studi kita maupun kehidupan saat kita bekerja.

7. Tidak melatih skill menulis

Menulis adalah satu satu jantung perkuliahan. Bagaimana tidak, syarat mahasiswa normal meraih kelulusan adalah dengan menulis. Menulis skripsi ataupun semacamnya. Saat mendapatkan berbagai tugas menulis dari dosen, semisal menulis esai atau makalah, mahasiswa mengandalkan copas alias copy-paste saja.

Jika sudah seperti itu, mahasiswa akan merasa ketagihan. Hingga ketika menghadapi skripsi ataupun semacamnya, mereka merasa kualahan dalam menyusun kata-kata di dalam skripsi. Maka dari itu, sukailah aktivitas menulis sedini mungkin. Dalami bagaimana cara menulis yang baik dan benar, semua itu demi masa depanmu!

Itulah ketujuh penyesalan yang sering mahasiswa tingkat akhir rasakan. Jangan sampai maba turut merasakan penyesalan-penyesalan di atas.

 

 

 

 

Sumber : Idntimes.com

Komentar