Siapakah ‘Kids Zaman Now’?

Postingan tentang penggunaan kata yang benar tentang Kids jaman now

Butterfly fly away so high
As high as hopes I pray
To come and reach for you
Rescuing your soul
The precious messed up thought of me and you

Apakah kalian tahu penggalan lirik lagu di atas? Lirik lagu berbahasa Inggris tersebut ternyata adalah lagu Indonesia, berjudul Butterfly yang dinyanyikan oleh Melly Goeslaw dengan Andhika Pratama.

Lagu yang hadir tahun 2013 ini menjadi sebuah lagu andalan remaja saat itu. Sebuah lagu bernada sendu ini digandrungi oleh remaja bukan karena liriknya yang sedih, namun juga penyanyi laki-lakinya yang tampan. Ternyata sudah sejak lama masyarakat menyukai sesuatu yang berbau internasional, contohnya mencampur bahasa dalam sebuah lagu.

Mencampur-campur bahasa, mungkin kita sebut saja ‘bahasa gado-gado’, biasa menjadi tren ditambah adanya bahasa gaul yang tidak jelas asal-usulnya. Jika sudah ada Kamus Bahasa Indonesia, lalu Kamus Bahasa Inggris, mungkin nanti ke depannya akan ada Kamus Bahasa Gaul untuk membantu orang-orang yang tidak mengerti.

Perkembangan bahasa pun begitu cepat, dulu seorang aktris Indonesia bernama Cinta Laura terkenal karena kecakapannya dalam berbahasa Indonesia yang tidak baik, sehingga orang-orang meniru logatnya. Lalu muncul juga lagu-lagu yang liriknya mencampurkan bahasa-bahasa sehingga orang yang menyanyikannya memiliki kebanggaan. Apakah budaya seperti itu yang diajarkan?

Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan yang dilengkapi dengan berbagai macam suku dan budaya serta bahasa. Pulau yang terdapat di geografis Indonesia tercatat lebih dari 16.000 pulau, maka jumalah budaya yang ada di Indonesia tentu juga banyak.

Lalu pertanyaannya, berapa banyak jumlah bahasa daerah yang dimiliki? Menurut informasi yang saya dapatkan melalui website kemdikbud.go.id, Indonesia memili 442 bahasa daerah. Dari begitu banyak jumlah bahasa daerah, namun negara ini dipersatukan dengan bahasa kesatuan, yaitu bahasa Indonesia.

Membahas tentang bahasa, pasti setiap Warga Negara Indonesia (WNI) memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Setidaknya bahasa Indonesia. Namun apakah keadaan itu benar? Menurut saya tidak. Kemajuan teknologi menjadi salah satu pendukung kurangnya pengetahuan WNI, terutama generasi milenial, memahami bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu. Lalu siapa yang harus disalahkan?

Akses Internet
Kemajuan teknologi di Indonesia yang akan saya bahas di sini bukan dari segi produknya, namun kegunaannya. Internet menjadi salah satu produk yang mendukung pesatnya kemajuan. Pada tahun 1992-1994 internet mulai masuk ke Indonesia, dan pada 2010 perkembangannya semakin pesat. Saya ingat pada sekitar tahun itu saya baru mengenal komputer dan internet. Bagi saya internet hanya sekedar Yahoo!. Semenjak itu akhirnya internet terus berkembang hingga akhirnya mucul media sosial guna mempermudah dalam berhubungan.

Pada saat itu Yahoomail menjadi salah satu perusahaan yang menyediakan aplikasi untuk bercakap-cakap melalui internet. Akhirnya terdapat sebuah website yang terkenal hingga sekarang, Facebook. Sebuah kanal yang beriskan informasi baik dari dalam negeri hingga luar negeri beserta kemampuan lainnya. Semenjak bermunculan media sosial, keadaan suatu budaya mulai berubah hingga terciptalah bahasa-bahasa baru yang sebenarnya tidak baku. Misalnya istilah alay, saya rasa kalian juga mengetahui dengan istilah tersebut.

Bahasa Baru
Bahasa digunakan sebagai alat untuk merepresentasikan sesuatu. Bahasa baru, atau istilah baru, yang bermunculan akhirnya digunakan seseorang untuk merepresentasikan sesuatu dalam masyarakat. Saya ambil contoh alay, istilah tersebut muncul untuk merepresentasikan seseorang atau sekelompok orang yang bertingkah tidak wajar dengan masyarakat lainnya. Sebenarnya alay itu sendiri juga tidak memiliki arti yang jelas.

Bukan hanya alay, kata-kata yang sering saya dengar baru-baru ini adalah kids jaman now. Ternyata arti dari istilah tersebut merupakan arti secara harfiah bahasa Inggrisnya, atau bisa dibilang anak zaman sekarang. Saya sering menemukan istilah itu digunakan dalam media sosial, bahkan baru-baru ini saya melihat kata tersebut menjadi judul sebuah Film Televisi (FTv) di salah satu stasiun televisi swasta. Dengan mudahnya sebuah istilah baru muncul dalam masyarakat. Dan penyebab munculnya istilah tersebut tidak lain dan tidak bukan melalui internet.

Seseorang dengan mudah membuat suatu tulisan baik itu dari kebenaran maupun tidak muncul di media sosial. Dengan mudahnya seseorang terlihat memiliki kuasa di dunia maya, namun tidak halnya pada dunia nyata. Dengan mudahnya juga orang membuat suatu hal yang tidak biasanya menjadi biasa. Begitu pula dengan mudahnya orang membuat istilah yang tidak biasa menjadi bahasa sehari-hari.

Deklarasi Sumpah Pemuda
Lalu apakah isi Sumpah Pemuda masih belaku saat ini? Poin ketiga dari isi Sumpah Pemuda mengatakan “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Apakah isi tersebut masih relevan?

Sebenarnya bukan hanya istilah tidak baku yang muncul menjadi tren di dunia linguistik, namun juga bahasa asing. Orang berlomba-lomba menggunakana bahasa asing supaya dianggap menjadi kalangan atas. Orang berlomba-lomba menggunakan istilah tidak baku supaya bisa dikatakan kekinian atau gaul.

Sebenarnya mau dibawa ke mana bangsa ini? Mungkin bahasa baku nantinya menjadi sebuah sejarah dan digantikan bahasa asing atau bahasa gaul tersebut. Dalam meperingati Hari Sumpah Pemuda dan menjadi puncaknya Bulan Bahasa dan Sastra Nasional, bagi ini perlu adanya perubahan. Sebuah kegiatan diadakan tiap tahunnya bukan hanya sekedar dijadikan seremonial, namun dituntut adanya perubahan. Bagi saya tidak perlu perubahan yang besar, yang penting perubahan kearah yang lebih baik.

Menjaga sejarah tentu susah, apalagi sejarah dalam bentuk artefak. Namun bukankah tidak susah menjaga sejarah dalam bentuk bahasa dalam kehidupan sehari-hari? Kita tidak dituntut untuk membawa kamus untuk menjaga kesatuan dalam berbahasa. Kita tidak dituntut untuk menggunakan bahasa yang baku dalam sehari-hari. Tapi kita dituntut untuk menjaga bahasa kita sendiri terhadap lingkungan kita.

Gunakanlah bahasa yang baik untuk tidak menyebarkan kebencian. Cukup dengan menciptakan suasana yang nyaman dalam berbahasa, itu sudah cukup untuk menjaga keutuhan bangsa ini.

Source : CNN INDONESIA

Komentar