Tanam Kangkung, Petani Bogor Ini Raup Rp97,2 Juta per Bulan

02ca0511240e6765bef72cca8d79b44b
Bisnis di sektor pertanian terkdang dipandang sebelah mata. Sebab bisnis tersebut bersinggungan langsung dengan lumpur, sangat berbeda dengan pekerja kantoran yang selalu mengenakan kemeja rapi dan berdasi.

Namun ternyata, bila dikelola dengan baik, di balik bisnis ‘bau lumpur’ tersebut ada omzet yang sangat besar setiap bulannya, melebihi gaji para karyawan yang setiap hari berdasi hilir mudik di berbagai pusat perkantoran Ibu Kota.

Chalie Tjendapati, mantan karyawan Garuda Indonesia dan perusahaan minyak Chevron meraup omzet Rp97,2 juta per bulan dari hasil bertani kangkung.

Kangkung yang ditanam Charlie disuplai ke beberapa restoran dan supermarket besar di seluruh Indonesia. Itulah salah satu pendorong omzet penjualan kangkung sangat besar.

“Kami memasok ke Superindo dan Carrefour mengggunakan merek sendiri,” ucap Charlie kepada Otonomi.co.id, beberapa waktu lalu.

Pertanian yang dikelola Charlie dinamai Specta Farm, lokasinya ada di Kabupatem Bogor dan Kabupaten Bandung. Total luas lahan pertanian sekitar 2,5 hektar, namun yang dipergunakan untuk bertani kangkung baru seluas 3.000 meter.

Charlie tidak sendirian menjalankan usaha tersebut, dia bekerjasama dengan penyokong dana dari Ibu Kota Jakarta, bernama Zekky Bachri. Total investasi awal untuk bertani kangkung tersebut memang cukup besar, sekitar Rp700 juta. Termasuk membeli lahan untuk pertanian.



Tetapi dengan omzet hampir Rp100 juta per bulan tadi, tentunya kembalinya tidak akan lama. “Sembilan bulan juga sudah bisa kembali,” tutur Zekky.

Selain sebagai investor, Zekky sendiri bertindak sebagai marketing pemasaran. Dia memiliki jaringan luas di Ibu Kota untuk memasarkan kangkung. Dia mengaku, tahu betul seluk-beluk distribusi kangkung ke beberapa hotel mewah dan restoran ternama di Jakarta.

Ternyata bila sudah masuk ke tempat tersebut, kangkung bisa dihargai lebih mahal dari pasar tradisional, bahkan supermarket. “Tetapi kangkung yang dikirim tentunya harus kualitas terbaik, sudah melalui proses seleksi terlebih dulu,” ujarnya.

Zekky mengaku, terjun ke dunia pertanian belum cukup lama. “Total di bidang ini baru 1,5 tahun,” kata dia. Awalnya dia mendapatkan tawaran menyuplai kangkung ke restoran D’Cost. Dalam satu minggu dia bisa menyuplai sekitar Rp1,5 ton hingga 2 ton kangkung ke rumah makan tersebut.

Namun saat ini, rumah makan tersebut sudah tidak lagi disuplai. Kini Specta Farm, kata Zekky hanya fokus menyuplai ke supermarket saja. Karena menurut dia, menyuplai ke Superindo dan Carrefour saja butuh 270 kilogram kangkung dalam sehari.

[otonomi.co.id]

Komentar