Bahaya Depresi di Kalangan Anak Muda

pria-yang-miliki-anak-di-usia-muda-lebih-rentan-alami-depresi
Kurangnya pemahaman akan gangguan kesehatan mental menjadi salah satu kendala pengobatan depresi. Teman-teman penderita depresi harus bisa memahami tanpa menghakimi.

Psikologi UI menggelar program Psychological First Aid guna menyosialisasikan pencegahan dan penanganan depresi yang bisa mengarah ke bunuh diri.

Departemen Pengabdian Masyarakat BEM Fakultas Psikologi Universitas Indonesia bekerja sama dengan Pusat Krisis UI, Badan Kesehatan Mahasiswa UI, dan Komunitas Into the Light—yang berfokus pada konsultasi seputar depresi dan bunuh diri—menggelar program Psychological First Aid (PFA) sebagai upaya edukasi dan sosialisasi tentang bahaya depresi di kalangan anak muda pada Sabtu (13/5/2017).

Sejumlah pakar, pemerhati masalah depresi, dan penyintas hadir mengisi acara tersebut seperti dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ (Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia cabang DKI Jakarta), Mira Caliandra, MA (perwakilan dari Pusat Krisis Fakultas Psikologi UI), serta Ahmad Rofai dan Listiyani Indriya Novanthi dari Komunitas Into the Light yang berkampanye tentang pencegahan bunuh diri dengan pendekatan berbasis ilmiah.

Dalam program PFA ini, para pembicara menyuguhkan pengetahuan seputar gejala-gejala depresi yang tak jarang melanda anak-anak muda beserta langkah-langkah pencegahan dampak buruk dari depresi tersebut, termasuk keinginan untuk bunuh diri. Pada salah satu segmen, Listiyani membagikan pengalamannya kepada para peserta program tentang depresi yang pernah dihadapinya hingga membuat perempuan tersebut berniat mengakhiri hidup beberapa waktu lampau.

“Nilai akademis saya mulai memburuk, saya jarang masuk kuliah, proposal skripsi ditolak. Saya sempat menghadapi masalah relasi dan ketika saya bercerita ke teman-teman, malah dibilang lebay. Sejak itu saya sering kehilangan energi, tetapi tetap sulit tidur. Saya juga menjadi malas bertemu orang-orang karena stigma-stigma atau ucapan mereka yang malah memperburuk kondisi emosi saya,” demikian kesaksian sebagai penyintas depresi.

Lebih lanjut, Listiyani menceritakan bahwa dirinya sempat berobat ke beberapa psikolog dan psikiater setelah membaca beberapa referensi di internet dan menyadari ada sesuatu yang salah dengan kesehatan mentalnya. Namun, proses pengobatan yang dijalani Listiyani tidak dengan mudah dan segera membuatnya lepas dari depresi. Diakuinya, beberapa psikolog cenderung bersifat menghakimi dan malah ada yang meremehkan permasalahan yang dihadapinya. Kata-kata bernada menstereotipkan pasien juga sempat didapatkannya ketika berobat.



Ketika ia memperoleh diagnosis dari psikiater terakhir yang didatanginya, Listiyani baru menyadari ia mengidap clinical depression yang bisa membuatnya merasa tidak bahagia selama berbulan-bulan. Di samping itu, ia juga divonis mengalami gejala bipolar. Mendapati fakta ini, Listiyani berupaya mencari pertolongan dengan mulai mengomunikasikannya dengan orang-orang terdekat. Akan tetapi, alih-alih mendapat simpati dan dukungan untuk sembuh, kata-kata meremehkan permasalahan kembali didapatinya. “Ada teman saya yang bilang, ‘banyak juga tuh, artis yang punya bipolar,’ seolah-olah dia berpikir bipolar itu keren,” imbuh Listiyani.

Kurangnya pemahaman akan gangguan kesehatan mental seperti ini memang menjadi salah satu kendala pengobatan depresi yang kerap ditemui pada anak-anak muda. Maka tak heran jika beberapa waktu silam, pemberitaan mengenai bunuh diri dan depresi memicu timbulnya wacana Indonesia darurat permasalahan depresi karena minimnya sosialisasi tentang hal yang diam-diam dapat membunuh seseorang ini.

Akibat depresi berat yang dihadapinya, Listiyani mulai berkeinginan bunuh diri dan mencari cara untuk melakukannya. Beruntung ia menemukan beberapa hal yang membuat kesadaran untuk tetap hidupnya kembali seperti kehadiran hewan peliharaan dan pengalaman bertualang di negeri orang. Sejak itu, ia tertarik untuk terlibat dalam kehidupan komunitas yang memiliki irisan dengan pengalaman yang sempat dikecapnya, Komunitas Into the Light.

Menanggapi pengalaman Listiyani, Mira Caliandra menyampaikan sejumlah cara yang lazim diterapkan para psikolog dalam menangani masalah depresi. “Pertama, seseorang mesti mencari tahu apa yang sedang dialaminya sebagai upaya untuk mengenali diri. Dari gejala-gejala bertahan yang sempat dialami seseorang yang depresi, ia perlu menyadari apakah semuanya pernah terjadi pada satu waktu yang sama,“ jelas Mira. Ia juga mengatakan bahwa pengalaman tertentu dapat mengubah keinginan seseorang untuk bunuh diri seperti yang dialami Listiyani.

“Interpersonal therapy adalah hal lain yang bisa mendukung kesembuhan mental seseorang seperti pelibatan dirinya oleh teman-teman sepergaulan. Yang penting dicatat adalah teman-teman orang yang depresi mau duduk, mendengarkan dan berempati tanpa buru-buru menghakimi orang tersebut,” pungkas Mira.

[Patresia Kirnandita dari tirto.id]

Komentar