Ini 4 Bukti Kecerdasan Buatan Sudah Kalahkan Manusia

1436017alphago780x390

Sehari yang lalu, Kompas.com sempat mengulas mengenai hasil survei para ilmuwan Yale dan Oxford mengenai kecerdasan buatan. Diumumkan dalam dua konferensi besar, survei yang melibatkan 350 peneliti  tersebut memprediksikan bahwa manusia akan kalah dari kecerdasan buatan pada tahun 2060.

Namun, tampaknya kekalahan manusia terhadap kecerdasan buatan sudah dimulai dari sekarang. Berikut adalah empat pertarungan besar di mana manusia kalah dari kecerdasan buatan:

1. Deep Blue versus Garry Kasparov (1997)

Sebenarnya pertandingan antara Deep Blue dengan juara dunia catur Garry Kasparov tidak terjadi sekali. Pada tahun 1996, superkomputer IBM tersebut sudah pernah menantang Kasparov untuk pertandingan catur enam babak dan kalah.

Pada tahun berikutnya, Deep Blue, dengan kemampuan mengalkulasi yang sudah ditingkatkan, kembali menantang Kasparov untuk pertandingan serupa. Sang juara dunia dengan mudah melewati babak pertama, tetapi kalah di babak kedua. Dideskripsikan oleh NPR, Kasparov tampak jelas merasa frustrasi, sebelum akhirnya berdiri dan mengundurkan diri.

Kasparov kemudian berkata bahwa alasannya mengundurkan diri adalah karena langkah Deep Blue yang begitu mengejutkan dan tidak seperti mesin. Dia bahkan menduga bahwa tim IBM berbuat curang.

Namun, tanpa diketahui Kasparov, langkah tersebut bukanlah sebuah fitur komputer, tetapi gangguan pada program Deep Blue. Diungkapkan dalam buku The Signal and The Noise, Murray Campbell, salah seorang peneliti yang merancang Deep Blue, berkata bahwa ketika dihadapkan dengan terlalu banyak pilihan, Deep Blue memutuskan untuk memilih secara acak.

2. Watson versus dua pemenang Jeopardy (2011)

Kekalahan manusia dari kecerdasan buatan berikutnya terjadi pada tahun 2011 ketika Watson, sebuah superkomputer IBM, mengalahkan dua kontestan tersukses dalam acara permainan televisi berjudul Jeopardy. Dalam permainan ini, kontestan disajikan petunjuk dalam bentuk jawaban dan harus membentuk pertanyaan yang berhubungan dengan jawaban tersebut.

Untuk berpartisipasi dalam permainan tersebut, para peneliti IBM melengkapi Watson dengan memori yang luar biasa besar dan sebuah processor yang 2000 kali lipat lebih kuat dari komputer pada masanya.Watson kemudian dijejali dengan informasi dari 200 juta halaman ensiklopedia, koran, dan sumber lainnya.

Dalam tiga detik, Watson mampu menemukan 100 jawaban yang memungkinkan dan setiap jawaban kemungkinan diuji 100 kali sebelum digunakan.

3. AlphaGo versus Lee Sedol (2016)

Setelah Kasparov, pemain profesional yang tumbang berikutnya adalah Lee Sedol yang sudah 18 kali menjadi juara dunia go. Diciptakan sekitar 2500 tahun yang lalu, permainan catur dari China ini memang dikenal dengan tingkat kesulitannya yang tinggi. Setiap langkah dalam go juga memiliki begitu banyak kemungkinan sehingga AlphaGo tidak akan bisa mengalahkan Lee jika hanya mengandalkan kemampuan mengalkulasi seperti Deep Blue.

Oleh karena itu, para peneliti dari Google DeepMind pun melengkapiAlphaGo dengan jaringan neural yang terdiri dari hardware dan software sehingga menyerupai neuron dari otak manusia. AlphaGo juga dilengkapi dengan teknologi untuk belajar dan memperbaiki kemampuannya bermain go dengan memainkan jutaan pertandingan dengan manusia dan dirinya sendiri.

Dalam lima babak pertandingan melawan AlphaGo, Lee hanya kalah satu babak. Namun, kekalahan itu tetap menggoncangkan duniakecerdasan buatan, go, dan pemerintah Korea Selatan.

4. Libratus vs empat pemain poker profesional (2017)

Selama bertahun-tahun lamanya, poker telah menjadi target pakarkecerdasan buatan. Permainan yang pada dasarnya adalah berjudi ini mengharuskan pemain untuk menyembunyikan informasi, melebih-lebihkan, dan berani meletakkan semua uang mereka di meja.

Poker seharusnya menjadi permainan yang tidak bisa ditebak dan sangat manusiawi. Namun, sebuah mesin poker bernama Libratuskeluar sebagai pemenang setelah bermain poker selama 20 hari dengan empat pemain poker profesional.

Untuk membangun Libratus, para peneliti dari Carnegie Mellon tidak hanya menggunakan satu atau dua kecerdasan buatan, melainkan tiga sekaligus.

Lalu, menggunakan metode reinforcement learning yang juga digunakan oleh AlphaGo, Libratus belajar menjadi pemain poker handal dengan bertanding melawan dirinya sendiri. Sistem tersebut terus-menerus bekerja, bahkan di tengah permainan melawan para pemain profesional  hingga lawan Libratus pun mengira bahwa mesin tersebut dapat melihat kartu mereka.

Dikutip dari Wired 2 Januari 2017, Dong Kim, salah satu di antara empat pemain poker profesional yang melawan Libratus, mengatakan, aku tidak bilang bahwa ( Libratus) curang. Tapi mesin itu sangat-sangat pintar dalam bermain poker.”

 

[kompas.com]

Komentar