Peran Mahasiswa Sebagai Penentu Keberhasilan BPJS Kesehatan 2019

bpjs

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan salah satu program unggulan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla di bidang kesehatan. Segala upaya dan optimalisasi peranan pemerintah dalam meregulasi dan melayani rakyat Indonesia untuk mendapatkan akses kesehatan yang memadai. Salah satu program kerja dan mengoptimalisasikan JKN tersebut ialah dengan cara mengeluarkannya Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang dikelola penuh oleh Badan Pelayanan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. BPJS Kesehatan diberikan mandat secara penuh dalam meregulasi dan melayani masyarakat pada bidang kesehatan oleh Presiden sejak dikeluarkannya Perpres Nomor 1 tahun 2015 dan Per Dir BPJS Nomor 2 tahun 2015.

Kamis (16/3) kemarin, salah satu tim iCampus Indonesia (Akbar Dwi Rohadi) mengikuti seminar kesehatan nasional yang diselenggarakan oleh DPP HMPI (Dewan Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia) di auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Jadi bagi kalian yang belum mengetahui apa itu kebijakan JKN-BPJS Kesehatan terbaru dan bagaimana caranya menjadi member yang baik, langsung saja simak review materi seminar kesehatan nasional dengan tema: “Peran Mahasiswa Indonesia Universal Health Coverage 2019”.

Seminar kesehatan nasional ini dimulai sejak pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 12.00 WIB yang diawali dengan sambutan Ketua Umum HMPI 2016-2018 yakni Andi Fajar Asti, M. Sc., M. Pd.. Dalam sambutannya, ia menjelaskan peran penting HMPI sebagai penjembatan beberapa ornamen aparatur negara untuk membangun intelektualitas bangsa dan negara dalam membangun Indonesia kedepannya.

Pada kesempatan ini, Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M. Sc., Ph.D. juga memberikan sambutannya. “Semakin banyak pengguna BPJS, maka semakin banyak juga yang dilayani oleh pemerintah dalam menangani kesehatan” (Ungkap Rektor UGM).

Seminar kesehatan nasional ini dimoderatori oleh Andi Anis Munawarah, S. Kep. Ners. (Mahasiswi Pascasarjana Ilmu Kesehatan dengan fokus studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja tahun 2016). Kemudian dihadiri pula oleh beberapa narasumber yang ahli di bidang kesehatan. Dr. Mubassyir Hasan Basri, MA (Pakar Kesehatan, Kaprodi S2 Kesehatan Masyarakat FK UGM), Dr. dr. Andriesta Meliala (Direktur Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan UGM), serta I Gusti Ayu Mirah (Kepala Departemen Pemasaran dan Kepesertaan BPJS Kesehatan Regional VI).

Salah satu kunci utama dalam keberhasilan program JKN ini ialah karena adanya peran mahasiswa dalam mebgkampanyekan dan mengedukasikan kepada masyarakat manfaat dari program JKN bagi pelayanan dan mengakodomasikan kesehatan rakyat Indonesia. Dalam hal ini, Mubasyyir juga menegaskan peran mahasiswa ialah harus mengawasi BPJS dari para cukong-cukong para tikus-tikus berdasi.

Ia juga menegaskan dalam hal meregulasi pelayanan kesehatan di kampus itu ialah kewajiban penuh rektor dalam mengalokasikan dana. Serta kesadaran penuh bagi seluruh elemen masyarakat untuk mendukung BPJS Kesehatan dalam keberhasilannya mengelola dan mendistribusikannya bagi pasien yang dirawat rumah sakit ialah dengan cara menjadi member yang baik dari program JKN yang dikelola oleh BPJS Kesehatan dengan program pendistribusian KIS bagi masyarakat kels menengah ke bawah dalam mendapatkan akses kesehatan yang memadai.

Lain halnya dengan Andriesta Meliala yang melihat kesuksesan dari program pendistribusian BPJS Kesehatan ialah terletak pada jumlah kesasadaran member yang konsisten untuk bergabung dalam program BPJS Kesehatanini. Dalam materinya ia menjelaskan beberapa member yang berkualitas tinggi yang bergabung sebagai bahan pertimbangan kembali keefektifan layanan BPJS Kesehatan bagi masyarakat.“Member yang berkualitas ialah ialah yang konsisten membayar premi dan selalu menjaga kesehatannya dengan baik,” terangnya.

Pada seminar kesehatan ini, ia juga memaparkan beberapa keselahan persepsi tentang Universal Health Coverage yang dipahami oleh tenaga kesehatan dan masyarakatnya. Contohnya di Thailand ketika diterapkan Universal Health Coverage ini, kualitas pelayanan kesehatan justru menurun dan tidak memadai. Disamping itu, pasien juga banyak yang tidak rajin merawat kesehatan serta menjadi “manja” dan meminta pelayan yang berlebihan.

“Alhasil beban yang ditanggung pemerintah menjadi lebih berat” tambahnya. Berdasarkan hal tersebut, ia juga setuju dengan Mubassyir peran mahasiswa sangat relevan dalam memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat tentang JKN perlu adda pihak yang memberi sosialisasi yang solutif.

Kepala Departemen Pemasaran dan Kepesertaan BPJS Kesehatan Regional VI, I Gusti Ayu Mirah, menambahkan peran mashasiswa bisa menjadi peserta BPJS Kesehatan melalui kepesertaan kolektif yang dikelola perguruaan tinggi. “Hingga saat ini sudah ada 13 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 18 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang ada di Indonesia yang sudah menjalin kerjasama dengan BPJS Kesehatan,” ungkapnya.

Manfaat lain yang didapatkan lembaga pendidikan melalui kepesertaan kolektif sekaligus menjadi optimalisasi pemberdayaan fasilitas kesehatan. Bagi perguruan tinggi, biaya pelayanan kesehatan yang tadinya variabel cost menjadi fixed cost serta efisiensi SDm dan SDS. Kemudian bagi mahasiswa yaitu biaya pelayanan kesehatan yang diberikan secara komperehensif akan memberikan rasa aman dan ketersediaan fasilitas kesehatan.

Jadi, sobat iCampers dimanapun Anda berada tunggu apalagi kalian? Mari secara bersama kita membantu pemerintah dalam menyukseskan program BPJS Kesehatan demi tercapainya pelayanan kesehatan masyarakat yang memadai untuk seluruh rakyat negara Republik Indonesia.

Komentar