Haruskah Punya Sertifikat TOEFL IBT untuk Daftar Beasiswa Pendidikan Indonesia?

scholarship

Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) yang dikelola oleh LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) merupakan salah satu beasiswa yang paling banyak diminati di republik ini. Jumlah pendaftar dari tahun ke tahun terus bertambah baik yang akan melamar beasiswa di dalam negeri maupun di luar negeri. Dilansir dari kompas.com dinyatakan bahwa kenaikan jumlah terlihat sejak tahun 2013 yaitu mencapai 2500 peserta, dan pada tahun 2015 jumlahnya mencapai 3100 peserta.

lpdp

Seperti kebanyakan beasiswa lainnya, beasiswa yang satu ini juga mensyaratkan tes yang mengukur sejauh mana kemampuan bahasa inggris kita. Dari beberapa jenis tes kemampuan bahasa inggris yang ada, TOEFL (Test of English as a Foreign Language) merupakan salah satu yang paling banyak digunakan.

Sekadar informasi tambahan buat sobat iCampers yang belum tahu. TOEFL merupakan suatu tes yang diorganisir oleh ETS (Educational Testing Service), yang terbagi menjadi 2 jenis yaitu TOEFL PBT dan TOEFL IBT. TOEFL PBT (Paper Based Test), menguji kemampuan listening, structure dan reading, dari berbagai sumber diperoleh informasi biaya untuk tes TOEFL ITP sekitar Rp. 450.000 – Rp.500.000 dan sekitar Rp.100.000 – Rp.300.000 untuk TOEFL Prediction. Sedangkan TOEFL IBT (Internet Based Test) menguji 4 kemampuan yaitu listening, structure, reading dan writing dengan biaya yang lebih mahal dibandingkan dengan TOEFL PBT, dari informasi yang didapatkan biayanya sekitar Rp. 2.000.000 – Rp.2.600.000.

Nah, sobat iCampers selama ini yang kita ketahui pada salah satu persyaratan pendaftaran BPI jalur reguler (bukan BPI Afirmasi) masih boleh menggunakan hasil TOEFL ITP, persyaratan ini berlaku untuk mereka yang hendak melanjutkan kuliah di dalam negeri dan juga yang ingin mengajukan beasiswa studi di luar negeri. Namun, informasi terbaru mengenai persyaratan BPI yang di tampilkan di laman (www.lpdp.kemenkeu.go.id) pada poin ke-12 khusus untuk program beasiswa magister dan doktoral luar negeri tersurat bahwa yang digunakan adalah TOEFL IBT, yang mengartikan bahwa TOEFL ITP tidak digunakan untuk pendaftaran lagi.

Kebijakan pemerintah yang baru inilah yang menimbulkan pro dan kontra (Tanpa memihak pada siapapun, tidak ada salahnya kita beragumen sedikit menanggapi kebijakan ini). Pertama kita akan bahas dari sisi kontra mengenai ketidaksetujuan akan adanya kebijakan ini. Bagaimana tidak, kebijakan ini mengartikan bahwa persyaratan untuk memperoleh beasiswa semakin ketat. Ditinjau dari segi biaya tentu untuk mengikuti tes TOEFL IBT biayanya akan lebih mahal dibanding TOEFL ITP. Belum lagi kalau peserta gagal mencapai skor yang ditetapkan. Bisa dibayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan? Mungkin akan mudah bagi yang memiliki dana lebih, tapi sebaliknya akan sulit bagi yang lain. Mengikuti tes seperti ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Menyoroti kebijakan ini, berbagai pihak kurang setuju. Muncul persepsi akan kebijakan ini, mungkin ini adalah salah satu cara agar lebih mudah menjaring calon awardee. Artinya yang benar-benar siaplah yang akan lolos dari proses seleksi. Namun, kembali lagi dengan pertanyaan, apakah berarti yang tidak lolos belum siap hanya karena belum bisa memberikan sepucuk bukti bahwa sudah menguasai bahasa asing dengan sertifikat TOEFL IBT? Apakah itu berarti mereka yang tidak mampu secara finansial mengikuti tes ini tidak akan mencapai impian mereka kuliah keluar negeri?

Masih dengan bahasan TOEFL IBT yang menjadi pokok pembahasan kali ini, kita tidak akan melewatkan pandangan dari sisi pro. Kita melihat bahwa ini adalah keputusan dari pemerintah. Tentu saja langkah yang diambil ini tidak diputuskan dengan begitu saja, namun telah melewati berbagai pertimbangan.

Bila ditinjau dari segi biaya memang untuk mengikuti tes TOEFL IBT lebih mahal dibanding TOEFL ITP. Tapi, yang perlu dicatat adalah beberapa universitas di luar negeri sudah tidak menerima tes dengan TOEFL ITP. Singkatnya, mungkin karena tesnya lebih kompleks jadi parameter penilaian lebih baik. Berbicara mengenai kegagalan apabila dilihat memang tes ini tidak mudah. Tidak menutup kemungkinan peluang kegagalan itu ada. Berusaha untuk bangkit dari kegagalan bukan hal yang mudah, namun disinilah kesungguhan kita untuk menggapai cita akan nampak. Apabila gagal berarti uang yang keluar juga akan lebih banyak. Jelas, tapi keadilan alam pasti akan berlaku. Memang ada harga mahal yang harus dibayar untuk pencapaian besar bukan hanya soal waktu dan tenaga tapi juga materi.

Persepsi mengenai kebijakan ini yang menegaskan bahwa ini adalah salah satu jalan untuk menjaring calon awardee yang berkualitas tidak dapat dikatakan salah. Memang bila diambil nilai positifnya, ini adalah salah satu cara untuk memilih calon-calon awardee terbaik. Tidak salah apabila proses seleksi diperketat mengingat uang yang digunakan adalah hasil keringat rakyat.

Mengutip dua dari beberapa pesan yang diberikan oleh ibu Sri Mulyani kepada awardee LPDP. Pertama bahwa awardee adalah pemegang estafet perjuangan pembangunan Indonesia yang menjadi harapan bangsa. Maka terlepas dari pendapat-pendapat di atas, harapannya semoga persyaratan TOEFL IBT bukan menjadi kendala bagi calon pemegang estafet untuk merebut kesempatan emas ini. Semoga akan ada jalan keluar untuk masalah ini. Kedua, jangan pernah hitung-hitungan dengan negara karena negara tidak pernah hitung-hitungan sewaktu memberikan beasiswa. Tentunya pesan ini juga mengingatkan kita akan pesan tokoh dunia John F Kennedy yang mengatakan bahwa “Jangan tanyakan apa yang negara dapat perbuat untuk anda, tetapi tanyakanlah apa yang dapat anda perbuat untuk negara!”.

Bagaimana sobat iCampers? Akan dipihak manakah kamu? Yang jelas semua kebijakan kita kembalikan kepada pemerintah yang pastinya lebih tahu mana yang terbaik untuk negeri ini. Untuk kita yang masih berjuang, jangan pernah putus asa. Tingginya tembok akan dapat juga terlewati dengan usaha yang kuat.

Editor: Afiqie Fadhihansah

Komentar