Peran Mahasiswa untuk Melawan Kekerasan Anak

edit9

Di Indonesia salah satu masalah yang marak diperbincangkan adalah tindak kriminal terhadap anak, mulai dari kekerasan fisik maupun non fisik. Seharusnya anak itu disayang dibekali pendidikan untuk masa depan mereka bukan untuk disiksa ataupun dimaanfaatkan kepolosanya demi mencapai suatu hal.

Meskipun orang tua adalah tempat anak untuk berlindung justru orang tua juga yang menhancurkan harapan tersebut sehingga meraka takut oleh orang tuanya sendiri, tidak sedikit dari mereka bahkan takut untuk berbicara dengan orang dewasa. Dan sebagai orang dewasa kita wajib untuk melindungi masa depan anak kita dan tidak akan membiarkan seorangpun mampu untuk merebut harapan dari anak kita.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan, kekerasan pada anak selalu meningkat setiap tahun.

Hasil pemantauan KPAI dari 2011 sampai 2014 terjadi peningkatan yang sifnifikan.

  • Pada Tahun 2011 terjadi 2178 kasus kekerasan
  • Tahun 2012 ada 3512 kasus
  • Tahun 2013 ada 4311 kasus
  • Tahun 2014 ada 5066 kasus.

Ada 5 kasus tertinggi dengan jumlah kasus per bidang dari 2011 hingga april 2015 Pertama, anak berhadapan dengan hukum hingga april 2015 tercatat 6006 kasus. Selanjutnya, kasus pengasuhan 3160 kasus, pendidikan 1764 kasus, kesehatan dan napza 1366 kasus serta pornografi dan cybercrime 1032 kasus.

 

3 TIPE KEKERASAN

Ada 3 tipe kekerasan yang dilakukan terhadap anak, yaitu di lingkungan keluarga, di lingkungan sekolah dan di lingkungan masyarakat.

Hasil monitoring dan evaluasi KPAI tahun 2012 di 9 provinsi menunjukkan bahwa 91% anak menjadi korban kekerasan di lingkungan keluarga, 87.6% di lingkungan sekolah dan 17.9% di lingkungan masyarakat.

Dan 78.3% anak menjadi pelaku kekerasan dan sebagian besar karena mereka pernah menjadi korban kekerasan sebelumnya atau pernah melihat kekerasan dilakukan kepada anak lain dan menirunya.
Dengan begitu pelaku kekerasan pada anak bisa dibagi menjadi tiga pertama orang tua, keluarga, atau orang yang dekat di lingkungan rumah.

Kedua, tenaga kependidikan yaitu guru dan orang-orang yang ada di lingkungan sekolah seperti cleaning service, tukang kantin, satpam, sopir antar jemput yang disediakan sekolah.

Ketiga, orang yangg tidak dikenal. Berdasarkan data KPAI di atas tersebut, anak korban kekerasan di lingkungan masyarakat jumlahnya termasuk rendah yaitu 17,9%. Artinya, anak rentan menjadi korban kekerasan justru di rumah dan sekolah dan pelaku kekerasan pada anak justru lebih banyak berasal dari kalangan yang dekat dengan anak.

Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Ir. Agustina Erni M.Sc mengatakan bahwa anak sangat mudah dipersuasi orang dewasa menjadi sasaran empuk orang-orang tak bertanggung jawab untuk memanfaatkan kepolosan anak.

Menurut ibu Erni media masa juga bisa menjadi pemicu kekerasan terhadap anak secara tidak langsung.
Peran media sebagai sarana informasi memang sangat diperlukan tetapi tidak untuk memplubikasikan sebuah kasus yang menimpa seorang anak secara berlebihan karna ini dapat menjatuhkan mental mereka.
Maka dari itu sebaiknya media lebih memperbanyak berita yang positive dari pada negative juga mengurangi pemberitaan berlebihan dalam kasus penindasan anak agar korban tidak perlu merasa malu dan menjadi target bullying disekolah mereka.

Banyak sekali kasus kekerasan yang menimpa anak termasuk penyalahgunaan Napza dengan memakai obat Komix sachet dan Lem Aibon yang juga sangat memprihatinkan. Dampak konsumsi komix secara berlebihan sangat berbahaya bagi, syaraf, hati, ginjal dan organ tubuh lainya, hingga bisa menyebabkan kanker.

Sementara ngelem atau inhalan juga tidak kalah berbahaya meski hanya dihirup sekali, efeknya juga bisa fatal jika telah melewati ambang batas yang bisa ditoleransi oleh tubuh uap lem dan thinner bisa membunuh dalam seketika.

Anak SD dan SMP lah yang sering ditemukan memakai obat-obatan ini, biasanya mereka akan berkumpul digedung tua yang kosong dan berpesta komix disana dalam peristiwa ini juga sering dimaanfatkan oleh para pengedar narkoba untuk merekrut anak-anak ini.

Jika sudah seperti ini jelas peran Pemerintah, Mahasiswa/I, Masyarakat dan LSM sangat diperlukan oleh kita semua dalam melawan kekerasan terhadap anak yang sudah meraja rela ini. Sudah jelas KPAI harus melakukan pendekatan terhadap pemerintah daerah untuk bekerja sama untuk menangkap dan mencegah kasus kekerasan ini dan juga memberikan wadah sebagai sarana pengaduan anak dan melakukan sosialisasi terhadap orang tua agar tetap menjaga anak mereka.

Kita juga bisa membuat sarana pendekatan anak dan orang tua karena banyak sekali orang tua yang kesusahan dalam berkomunikasi dengan anak yang tentu saja hal sekecil ini bisa menimbulkan masalah besar bagi anak dan orang tua.

Dan yang jelas memperluas jaringan bantuan bersama LSM, dan memudahkan Masyarakat dan Pemerintah untuk turun langsung di daerah-daerah dimana kasus kekerasan biar bagaimanapun anak adalah pioritas utama kita karena mereka adalah generasi penerus kita dan tentu kita tidak akan menghancurkan harapan diri sendiri bukan?

Kekerasan tidak hanya terdapat secara fisik, secara tidak sadar kekerasan terhadap anak bisa timbul dari perkataan kita juga maka dari sekarang cobalah menelaah kembali perkataan anda sebelum anda mengucapkannya terhadap anak- anak dan jangan bersikap acuh tak acuh dengan lingkungan di sekitar.

Dan tentu saja kita Mahasiswa\i dapat ikut turut serta dalam mengakhiri kekerasan anak, lalu bagaimana caranya agar kita bisa berkontribusi?

Bergabung dalam oraganisasi juga merupakan hal penting bagi seorang mahasiswa dengan pelajaran yang telah kamu peroleh dari organisasi kamu dapat menerapkan ilmu itu untuk membentuk komunitas organisasi untuk mengurangi kekerasan kepada anak. di mulai dari komunitas kecil, kamu dapat mengembangkannya menjadi komunitas yang lebih besar melakukan kegiatan amal untuk membantu anak-anak seperti kekerasan seksual atau anak-anak terlantar dan gelandangan.

Membentuk organisasi tentang mengurangi kekerasan terhadap anak kamu bisa melakukan sosialisasi kepada masyarakat bersama anggota komunitas mu hal ini efektif untuk memperkenalkan kepada masyarakat tentang pentingnya melindungi hak anak dan bahaya yang dapat timbul akibat kekerasan terhadap anak kita juga bisa melakukan kunjungan ke tempat ibadah,sekolah dan daerah untuk melakukan sosialisasi untuk melindungi hak asasi anak .

Dan tidak lupa kita juga bisa memanfaatkan teknologi sebagai wadah kita untuk memberikan informasi kepada pemerintah dan masyarakat tentang kekerasan anak atau kepedulian kita terhadap anak terutama dizaman Citezen Journalism ini memudahkan kita untuk melaporkan kekerasan anak dengan sangat mudah bukan hanya untuk masyarakat juga terhadap pemerintah.

Melaluli cara tersebut kita, Masyarakat, LSM, Mahasiswa dan Pemerintah sudah membantu untuk mengakhiri kekerasan anak dan memperjuangkan hak mereka karena sudah tidak ada waktu lagi untuk kita semua berdiam diri, kita semua harus melakukan perlawanan jika tidak mau kejadian ini menimpa adik kecil, saudara bahkan anak kita.

Komentar