Harga Sebuah Kejujuran Saat UAS

exam

UAS sendiri sering menjadi momok bagi mahasiswa. Belum lagi salah satu komponen IPK di tentukan dari hasil UAS dengan bobot penilaian normalnya 45% ini, mau tak mau membuat mahasiswa memutar otaknya untuk mendaptkan hasil terbaik di semester ini. Tak jarang diantara mahasiswa ada yang belajar larut malam demi mendapatkan nilai baik di UAS. Ada juga mahasiswa yang tinggal mengulang karena sudah mencicil pelajaran kemarin-kemarin. Bahkan tak sedikit pula mahasiswa belajar sistem kebut semalam (SKS).

Demi mendapatkan nilai bagus di UAS beberapa mahasiswa sampai mengorbankan kejujurannya. Misalnya dengan mencontek atau meminta jawaban dari teman. Kecanggihan teknologipun sering di salah gunakan. Aplikasi seperti polaris misalnya. Dengan aplikasi penyimpan dokumen ini, tak jarang beberapa mahasiswa menggunakannya untuk open gadget alias ngepek.  Bahkan beberapa lainnya menggunakan smartphone mereka sebagai media browsing jawaban.

Banyak cara yang digunakan dosen dalam rangka meminimalisir kecurangan ini. Seperti sistem close book; mengumpulkan berbagai macam buku, mulai dari modul buku pelajaran, buku catatan hingga close gadget; pengumpulan gadget seperti handphone, tab, dan laptop di meja dosen. Namun, kembali ada-ada saja cara canggih terbaru mahasiswa mengorbankan kejujurannya. Seolah mereka lebih takut pada dosen dari pada Tuhan. Pertanyaannya, apakah kuliah hanya sebatas nilai yang di tentukan oleh UAS? Apakah kuliah sebatas nilai?

Ki Supriyoko  mengatakan, “Kejujuran barangkali merupakan karakter yang paling “mahal” sekarang ini. Betapa sulitnya menemukan kejujuran Tak hanya di ranah kekuasaan dengan perilaku koruptifnya, tetapi juga di dunia pendidikan.” Kejujuran telah hilang dari hati nurani insan-insan terdidik. Tanpa bermaksud melakukan generalisasi, fakta tersebut tak mungkin dimungkiri. Ketidakjujuran menggejala di mana-mana, bahkan menjangkiti mahasiswa sebagai salah satu insan terdidik di perguruan tinggi. Bagaimanapun Ketidakjujuran akan berpengaruh pada mental. Jika di UAS saja mahasiswa tidak jujur bagaimana nantinya jika mendapat amanah yang lebih besar?

Kejujuran sebagai sebuah perbuatan utama selayaknya tidak berhenti pada pengetahuan semata, tetapi hendaknya menjadi pola sikap dan tindakan yang dimiliki mahasiswa. Mengacu pada Hukum Kekekalan Energi, setiap perilaku yang tak baik sebenarnya akan memberikan dampak yang tidak baik. Dampak yang terjadi itu bisa dirasakan saat ini atau malah di masa mendatang. Ketidakjujuran mahasiswa mungkin bisa membuat prestasi akademiknya memuaskan dan lulus dengan baik, namun mahasiswa akan menerima akibat buruknya suatu saat. Yang namanya kehidupan selalu berfluktuasi. Apalagi nilai. Kita kembali pada UAS, yang penting bagaimana kita memahami setiap pelajaran. Dengan memahami, ilmu jadi mudah di dapat. Kuliah itu jangan hanya berorientasi nilai. Nilai memang penting, tapi yang terpenting adalah bagaimana proses mendapatkannya. Karena proses itulah akan di dapat pembelajaran terbaik. Semoga dengan UAS, harga sebuah kejujuran tak melambung tinggi. Sehingga, harga jujur tersebut dapat kita temui dengan murah meriah di manapun berada. Berani jujur. Jujur itu HEBAT! (rra)

Komentar



error: Konten dilindungi!