Prof. Herman Johannes Sang Pahlawan dan Ilmuwan dari Pulau Rote

img_1823

Sobat iCampers yang budiman, sudahkah dengar berita terbaru mengenai Bank Indonesia (BI) mengeluarkan lembar mata uang rupiah baru yang digunakan untuk transaksi oleh masyarakat Indonesia? Iya, uang rupiah baru Indonesia kali ini hampir mirip dengan mata uang euro dan yuan, cek berita lengkapnya disini

Kini berita tersebut sedang menjadi trending topic di berbagai media sosial. Banyak yang pro dan kontra terhadap kebijakan BI yang mengeluarkan rupiah baru Indonesia, baik mengenai bentuk kemiripannya dengan mata uang euro dan yuan, ataupun juga dengan alasan mengambil beberapa pahlawan nasional yang masih belum diketahui khalayak ramai yang diabadikan dalam mata uang rupiah tersebut. Oleh karena itu, admin mencoba memberikan fakta unik salah satu pahlawan dan ilmuwan nasional yang diabadikan dalam mata uang Rp 100, yaitu Prof. Dr. Ir. Herman Johannes.

Prof. Dr. Ir. Herman Johannes atau yang sering disebut dengan nama panggilan Pak Jo adalah seorang cendekiawan, politikus serta ilmuwan Indonesia. guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Pahlawan Nasional Indonesia. Ia lahir di Rote, NTT, 28 Mei 1912 sebagai anak ke 4 pasangan Daniel Abia Johannes dengan istrinya, Aranci Dirk dan meninggal di Yogyakarta, 17 Oktober 1992 pada umur 80 tahun. Ia pernah menjabat Rektor UGM (1961-1966), Koordinator Perguruan Tinggi (Koperti) tahun 1966-1979, anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI (1968-1978), dan Menteri Pekerjaan Umum (1950-1951).

Semasa mudanya ia harus meninggalkan desa dan Sekolah Melayu yang hanya diikutinya selama setahun, agar dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu pada Europesche Lagere School (ELS) di Kupang.Herman Johannes remaja kemudian berangkat ke Makassar untuk melanjutkan pendidikannya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dan kemudian dilanjutkan ke AMS (Algemeene Middelbare School) di Batavia. Berkat nilainya yang tinggi saat sekolah di AMS, Pak Jo diberikan beasiswa untuk melanjutkan studinya ke Technische Hooge School di Bandung tahun 1934 yang baru dapat diselesaikannya pada tahun 1946.

Di samping itu, Herman Johannes tercatat pernah berkarier di Bidang militer. Tanggal 4 November 1946, beliau menerima surat perintah yang ditandatangani Kapten Soerjosoemarno yang mengatasnamakan Kepala Staf Umum Kementerian Keamanan Rakyat, Letjen. Urip Sumohardjo, yang isinya Agar segera hadir dan melapor ke Markas Tertinggi Tentara di Yogyakarta. Ternyata, Herman Johannes diminta membangun sebuah laboratorium persenjataan bagi TNI. Laboratorium yang terletak di bangunan Sekolah Menengah Tinggi (SMT) Kotabaru ini berhasil memproduksi bermacam bahan peledak untuk kepentingan perjuangan.

Keahlian Herman Johannes sebagai fisikawan dan kimiawan ternyata berguna untuk memblokade gerak pasukan Belanda selama clash I dan II. Bulan Desember 1948, Letkol Soeharto sebagai Komandan Resimen XXII TNI yang membawahi daerah Yogyakarta meminta Herman Johannes memasang bom di jembatan kereta api Sungai Progo. Karena ia menguasai teori jembatan saat bersekolah di THS Bandung, Johannes bisa membantu pasukan Resimen XXII membom jembatan tersebut. Januari 1949, Kolonel GPH Djatikoesoemo meminta Herman Johannes bergabung dengan pasukan Akademi Militer di sektor Sub-Wehrkreise 104 Yogyakarta. Dengan markas komando di Desa Kringinan dekat Candi Kalasan, lagi-lagi Herman Johannes diminta meledakkan Jembatan Bogem yang membentang di atas Sungai Opak. Jembatan akhirnya hancur dan satu persatu jembatan antara Yogya-Solo dan Yogya-Kaliurang berhasil dihancurkan Johannes bersama para taruna Akademi Militer. Aksi gerilya ini melumpuhkan aktivitas pasukan Belanda sebab mereka harus memutar jauh mengelilingi Gunung Merapi dan Gunung Merbabu melewati Magelang dan Salatiga untuk bisa masuk ke wilayah Yogyakarta.

Pada tahun 2003, nama Herman Johannes diabadikan oleh Keluarga Alumni Teknik Universitas Gadjah Mada (KATGAMA), atas prakarsa Ketua Katgama saat itu, Airlangga Hartarto, menjadi sebuah penghargaan bagi karya utama penelitian bidang ilmu dan teknologi: Herman Johannes Award. Sesuai Keputusan Presiden RI (Keppres) No. 80 Tahun 1996, nama Herman Johannes diabadikan sebagai nama Taman Hutan Raya bagi kelompok hutan Sisinemi-Sanam seluas 1.900 hektare di Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Nama Prof Herman Johannes juga diabadikan menjadi nama jalan yang menghubungkan Kampus UGM dengan Jalan Solo dan Jalan Jenderal Sudirman di kota Yogyakarta.

Almarhum Herman Johannes mendapat anugerah gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 2009 melalui Keppres No. 58/TK/2009.

 

 

Sumber Informasi:

 

 

Komentar



error: Konten dilindungi!