Teater Gadjah Mada Kembali Meluncurkan Sebuah Buku Pentas Akhir Tahun!

huge-6-33646

Hai iCampers, teater merupakan salah satu jenis seni pertunjukan yang menampilkan beberapa karya seni dalam pagelarannya. Teater Gadjah Mada (TGM) yang merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berada di bawah naungan Universitas Gadjah Mada  (22/12) kemarin telah berhasil meluncurkan salah satu karya pagelarannya dalam bentuk buku.  Buku tersebut berjudul “Catatan-catatan: Masihkah Ada Cinta d(ari) Kampus Biru?” kemarin dihadiri oleh lebih dari 50 orang peserta.

Peluncuran buku ini merupakan serangkaian acara dari “Membaca Dee: Supernova” berlangsung pada pukul 15.00 WIB dan bertempat di IFI LIP Yogyakarta. Acara ini terlaksana berkat kerjasama Teater Gadjah Mada dengan penerbit Kadang Kala.

Ridho mengungkapkan kegembiraannya atas terbitnya buku ini yang menjadi saksi bisu dari ide-ide kecil teman-teman TGM yang berhasil menafsirkan kembali  naskah lakon “Masihkah Ada Cinta Di Kampus Biru?”  karya Ashadi Siregar terbitan 1974 dalam bentuk pementasan teater. “Buku ini hadir sebagai bentuk dokumentasi dari proses panjang kami dalam menafsirkan karya agung Ashadi Siregar dalam bentuk yang berbeda. Kami mengajak para pegiat kesenian, khususnya seni teater dalam menangkap tafsiran kami tidak hanya lewat gambar dan video, melainkan juga dengan buku ini. Semoga dengan hadirnya buku ini, dapat menjadi sarana bagi kita dalam memahami teater dalam teks” tambahnya dalam memberikan sambutannya.

Buku ini dibedah oleh salah satu Founder Buah Pena, Vita Soemarno dan Direktur Bengkel Mime Theater, Andy Sri Wahyudi dan dimoderatori oleh Muhammad AB, Aktor Senior TGM.

Menurut Vita, TGM telah berhasil dalam mempertanyakan kembali  kedudukan kampus sebagai intitusi intelektual dalam bentuk pementasan teater kemudian didokumentasikan dalam bentuk gambar, video, dan juga buku. Tri dokumentasi yang diterapkan oleh TGM ini sebagai bentuk dari kemajuan teater kampus dalam mengeksistensikan dirinya dalam melihat realitas sosial. Apalagi dengan menafsirkan karya Ashadi Siregar ini dengan kondisi cerita cinta di kampus sesuai dengan era 2000an, yang memiliki banyak isu kontroversial.

Tidak hanya Vita, Andy juga mengapresiasi hasil karya pementasan teater yang dibawakan oleh TGM ini. “TGM memiliki keberanian yang sangat luar biasa dalam menafsirkan karya Ashadi Siregar dalam melihat realita kampus yang carut-marut pada era 200an ini. Berbeda dengan komunitas teater kampus lainnya, TGM ini juga menggunakan teknik keaktoran bilateater. Teknik keaktoran bilateater ialah sebuah teknik pagelaran teater yang menafsirkan seorang tokoh utama “Anton” yang diperankan oleh beberapa orang, tanpa peduli yang perankan itu cowok pun cewek. Menurut saya, dengan menggunakan teknik ini, Ghozali selaku Sutradara dan dibantu teman-teman TGM berhasil mengkritik realitas sosial, khususnya isu LGBT yang berkembang pada dewasa ini.” tutupnya dengan dismabut tepuk tangan yang meriah oleh para hadirin.

Hal menarik lainnya dalam peluncuran buku ini ialah hadirnya Agung Kurniawan, seorang pegiat seni di era 90an juga memberikan apresiasinya dalam mendeskripsikan etalase kisah cinta kampus biru pada era 98an yang memiliki kemiripan konidisi sosiologisnya pda era 2000an. Dia juga membandingkan teater era Ashadi Siregar, tepatnya pada era 70an itu lebih cenderung menuntut kebebasan dalam berekpresi. Sedangkan, teater era 200an sekarang lebih cenderung aktif mengekang kebebasan mahasiswa dalam berekpresi. Oleh karena itu, beliau mengapresiasi keberanian TGM dalam mengeksistensikan dirinya dalam melakukan pemberontakan ekspresi di tataran kampus.

#Rensta #Repost: @kadang_kala via @renstapp ··· “ PELUNCURAN BUKU: Catatan-catatan: masihkah ada cinta d(ar)i Kampus Biru? dalam rangkaian Membaca Dee: Supernova. . JADWAL: Kamis, 22 Desember 2016 pukul Pukul 15.00 wib-selesai IFI-LIP Yogyakarta . ********************************** BERSAMA: Moderator @muh.ab | Pembicara @vitasoemarno & Andy Sri Wahyudi. . Buku ini adalah salah satu hasil Tafsir Ulang Novel Cintaku di Kampus Biru, yang dibingkai dalam satu frasa “masihkah ada cinta di dan dari Kampus Biru?.” Sebuah tafsiran dan upaya kontekstualisasi dari karya agung Ashadi Siregar. Buku ini juga menandai bila nalar kritis di Kampus Biru belum mati. . Acara ini gratis dan tidak dipungut biaya apapun. Terselenggara atas kerja sama antara @kadang_kala dan @teatergadjahmada. . Informasi: 0857-2924-4220 (@mas_topik ) ”

[SEDANG BERLANGSUNG] Acara peluncuran buku catatan proses 'masihkah ada cinta d(ar)i Kampus Biru?' di IFI LIP Sagan

Komentar



error: Konten dilindungi!