Jika Informasi ini bermanfaat, jangan lupa share di medsos kamu :)

" />

Otonomi Zakat: Kecil-Kecil Cabe Rawit

zakat3

hai, sahabat iCampers! Tulisan di bawah ini semoga bisa memberi pandangan lain tentang zakat bagi kalian.

Selamat membaca ^_^

Bukan. Ini bukan macam tulisan anak-anak ‘hiperaktif’. Yang masih kecil, tapi tangan kakinya sudah kemana-mana. Maksudnya, punya sumbangsih besar. Untuk negara, nusa bangsa.

Tepatnya, ini tentang hal kecil, yang punya peran besar. Super besar. Saking besarnya, bisa menghidupi negara. Hukum, politik, keamanan, social budayanya. Rakyat? Pasti kenyang. Tidak ada chaos gara-gara perut keroncongan. Tidak ada sedih yang mendilemakan, dari peminta-minta di jembatan penyeberangan, persimpangan, depan toko, atau mampir ke rumah-rumah.

Zakat. Ya, zakat.

Keterlaluan jika seorang Muslim menggeleng tidak tahu.

Zakat itu kecil, hanya 2,5%. Tapi, bisa menggerakkan⸻dalam ekonomi konvensional⸻circular flow diagram. Hingga empat sektor!

Sederhananya seperti ini.

Ada Pak Kaya, Pak Miskin, Pak Dagang, Pak Presiden, dan Pak Investor. Pak Kaya dengan berbesar hati, mendistribusikan hartanya ke Pak Miskin, 2,5% dari nishab hartanya. Syukurillah, Pak Miskin menerima dengan tangan terbuka. Sebagian lain untuk makan, sebagian lain diusahakan, diproduktifkan, dikembangbiakkan.

Pak Miskin berusaha dan bertawakal. Kian lama, tingkat konsumsinya naik asbabun usahanya lancar. Labanya meningkat. Pak Dagang menambah jumlah produksinya, agar cukup di pasaran, karena tambahan satu pelanggan. Pak Presiden menerima tambahan pajak dari Pak Miskin, yang menjadi Pak Miskin-Kaya. Dana APBN pun meningkat.

Suatu hari, Pak Investor datang. Tertarik prospek usaha Pak Miskin-Kaya. Perjanjian dibuat. Hasil usaha kini tidak lagi hanya untuk Pak Miskin-Kaya, Pak Investor juga. Para karyawan, supplier, tidak ketinggalan dapat manisnya.

Ingat, ini masih sederhana! Berawal dari Si Kecil 2,5%. Manis sekali.

Untuk mewujudkan kesederhanaan itu menjadi bombastis, Pak Presiden yang hanya punya dua tangan itu, harus dibantu. Apalagi menghadapi hasil beranak-pinaknya rakyat Indonesia. Tersebar di seluruh wilayah. Pelosok-pelosok. Titik terdepan, hingga titik terluar Indonesia.

Pak Gubernur dan Pak Bupati, harus!

Membuka panca indera lebar-lebar, itu perlu. Profil masyarakat yang beragam di Indonesia ini, tidak semua Pak Presiden tahu. Tidak semua Pak Presiden mengerti. Pak Presiden butuh ‘mata’ lagi, untuk melihat hingga di balik ilalang. Butuh ‘telinga’ lagi, untuk mendengar rintihan di balik malam. Butuh ‘lidah’ lagi, untuk menenangkan anak kecil yang menangis. Kelaparan. Butuh ‘tangan dan kaki’ lagi, untuk ‘menyuapi’ mereka, yang berhari-hari ‘puasa’.

Hadirnya Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) di daerah-daerah, adalah kesempatan. Peluang. Karena pemerintah daerah dapat mengoptimalkan zakat, lewat Peraturan Daerah (Perda). Tapi bukan aji mumpung. Jangan mentang-mentang Pemerintah Daerah tahu tetek bengek daerahnya, tahu potensi daerahnya, lantas sembunyi-sembunyi. Tidak amanah. Tidak mendukung Pak Presiden. Tidak mendukung cita-cita luhur Indonesia, menuju adil makmur. Menuju masyarakat madani.

BAZNAS, pusat maupun daerah, harus independen. Terutama BAZNAS daerah. Jangan meluputkan diri dari pengawasan pusat. Lantas terkooptasi oleh kepentingan kelompok dan golongan.

Jangan!

Itu pelanggaran UU 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat! Meskipun UU ini tidak mengakomodir masukan masyarakat yang sudah disaring. Yang sudah diperas. Sayangnya, masih mengakomodir ‘keinginan’ Pak Legislatif dan Pak Presiden. Tapi keduanya kurang menguasai zakat tanah air. Ya, sayangnya begitu. Jangankan UU, UUD 1945 amandemen tiga kali!

Peran Pak Gubernur dan Pak Bupati, dalam hal ini, otonomi Si Kecil 2,5%, urgent sekali. Dua pemerintah daerah ini, dapat mengolah sedemikian rupa, program-program kerjanya. Program-program kerja yang luwes. Tidak kaku. Sederhana, namun mengena. Menyerahkan kepada masyarakat, bahwa sederhana itu, luar biasa. Bahwa kebaikan itu, perlahan, menjadi lifestyle. Improvisasi.

Ikut berperannya pemerintah daerah, dana masyarakat yg idle, akan terdistribusi. Ke delapan ashnaf. Ada tindakan afektif hingga ke daerah di sini, yang difasilitasi Pak Gubernur dan Pak Bupati. Daerah pun berkasih sayang. Kurang apa. Nilai-nilai luhur Pancasila diterapkan. Semua!

Berbagai penelitian telah menyebutkan. Sekian-sekian rupiah potensi zakat di Indonesia. Untuk 2016 saja, wakil ketua umum Badan Amil Zakat Nasional Zainulbahar Noor mengatakan, potensi zakat Indonesia mencapai Rp 217 triliun (m.tempo.co, 2016). Hampir 10% dari nilai APBN. Sayangnya, 1,2% atau Rp 3 triliun baru terhimpun.

Dapat dilihat. Masih banyak pekerjaan rumah BAZ, LAZ (Lembaga Amil Zakat), dan LPZ (Lembaga Pengelola Zakat). Membantu menggerakkan nurani masyarakat untuk sadar berderma. Sadar saling meningkatkan kesejahteraan.

Pemberlakuan Perda Zakat, terbukti, meningkatkan pengumpulan zakat di daerah yang bersangkutan. Berdasarkan penelitian oleh Litbang Departemen Agama. Propinsi Banten, contohnya, Kabupaten Serang khususnya. Sebelum Perda Propinsi Banten Nomor 6 tahun 2004 disahkan, penghimpunan zakat di kabupaten, tidak optimal. Nominalnya meningkat signifikan sejak disahkan. Mencapai Rp 1,6 miliar di tahun 2005. Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Lombok Timur, adalah contoh yang lainnya.

Namun, peningkatan signifikan itu, tetap masih belum dirasa optimal. Banyak faktor. Perda Zakat kebanyakan menilai sempit UU No 38 tahun 1999. Padahal setiap daerah itu khas. Belum lagi pengaruh tokoh masyarakat. Yang masih tradisional. Seolah zakat hanya berkutat di masjid dan pesantren. Kemudian, lemahnya sosialiasi Perda Zakat, di tengah hebatnya arus komunikasi dewasa ini. Ironi. Faktor lain lagi, masalah kepercayaan masyarakat. Kebiasaan model distribusi zakat, face to face dengan mustahiq, sulit hilang. Anggapanya tepat sasaran. Anggapannya lebih mudah. Transparansi dan akuntabel pemerintah daerah di sini, krusial sekali.

Singkatnya, otonomi zakat itu perlu dukungan regulasi. Brainware juga tidak kalah pentingnya. Peran pemerintah daerah, tanpa intervensi pengelolaan dana. Amil yang amanah. Masyarakat yang peduli, sadar zakat, menjaga martabat penerima zakat. Dan mustahiq yang menjaga kehormatannya.

Semua itu tertuju pada satu tujuan: memakmurkan masyarakat yang berketuhanan. Yang berkeinginan sejahtera dunia dan akhiratnya. Pak Presiden, sebagai khalifah di bumi, bersama ‘panca indera’-nya yang lain, berusaha memfasilitasi itu.

 

Jadi, ayo, salurkan zakatmu untuk Indonesia lebih baik!

Sumber: iCampus Indonesia

Komentar



Leave a Reply

error: Konten dilindungi!