Indonesia Outlook 2017

id-lgflag

 Yogyakarta, (16/12) Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerjasama  dengan Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) mengadakan rangkaian Dies Natalis UGM yang ke-67 dan Kagama yang ke 49 tahun. Salah satu rangkaian tersebut adalah acara Indonesia Outlook 2017. Acara tersebut merupakan acara dongeng kebangsaan dan dialog kebangsaan yang dihadiri oleh beberapa pakar UGM yang masing-masing ahli di bidangnya dalam melihat dan memprediksi keadaan Indonesia pada tahun 2017 mendatang.

Acara ini dimulai sejak pukul 09.00 WIB yang dimulai dengan sambutan ketua panitia yang disampaikan oleh Trias Setyawan, kemudian dilanjutkan dengan dongeng kebangsaan yang dibawakan oleh trio Endah Laras, Sukardi Rinakit, dan Edo Kondologit. Selama satu jam lebih tiga puluh menit mereka sukses menghibur para hadirin. Kemudian dilanjutkan dengan sesi dialog kebangsaan.

Dalam kesempatan dialog kebangsaan ini mengundang Prof. Dwikorita Karnawati, Ph.d. (Rektor UGM), Dr. A. Tony Prasentiantono (Dosen FEB UGM), Dr. Arie Sudjito (Pakar FISIPOL UGM), dan Dr. Zainal Abidin Bagir (Director CRSCS UGM) sebagai narasumber. Selain itu turut hadir juga bebarapa tokoh kebangsaan yang merupakan alumni UGM, salah satunya Prof. Pratikno (Mensesneg RI). Sesi dialog kebangsaan ini dimoderatori oleh Bayu Astono.

Tony memulai memaparkan pandangannya dalam melihat Indonesia 2017. “Indonesia tahun 2017 akan mencoba melepaskan diri dari pengaruh komoditas ekonomi. Hal ini disebabkan karena terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden USA” ungkapnya dengan tenang. “Tidak hanya Indonesia yang merasakan efek terpilihnya Trump sebagai Presiden USA, melainkan beberapa negara besar produksi minyak seperti Rusia dan Arab Saudi. Menurutnya, negara produksi minyak terbesar di dunia mengalami kenaikan harga sebesar 1 juta barel/minyak. Dengan demikian, dia juga memberikan apresiasi terhadap kebijakan Tax Amnesty yang diberikan oleh Pemerintah guna mengontrol kembali harga komoditas yang over suply” tambahnya dengan lugas.

Ary juga memberikan pandangannya untuk Indonesia 2017 dengan menggunakan perspektif politik. Menurutnya, yang harus dibutuhkan Indonesia untuk tahun 2017 ialah reelokasi pembangunan dalam segala bidang, menguatkan konsolidasi antar parpol (partai politik) di Indonesia, dan menmberdayakan sumber daya manusia. Tony menegaskan apabila tindakan politik ini dilakukan secara tegas dan konsisten oleh pemerintah RI, mak akan menghasilkan sebuah politik ekonomi demokrasi sesuai yang dicita-citakan bangsa Indonesia.

Berbeda dengan kedua pemateri sebelumnya, Zainal melihat kondisi Indonesia di tahun 2017 dengan menggunakan kacamata budaya yang dikaitkannya dengan insiden-insiden besar yang terjadi di tahun 2016 dan di tahun-tahun sebelumnya. “Saya melihat aksi 212 kemarin bukanlah sebuah aksi radikalisasi atau semacamnya yang disampaikan oleh beberapa teman saya dan di media sosial pada umumnya. Melainkan, saya melihat aksi 212 sebagai bentuk polarisasi integrasi kebhinekaan warga negara RI” sahut Director CRCS UGM tersebut. Zainal melihat kasus tersebut hampir sama dengan kasus konflik pasca reformasi 1998 yang terjadi di Ambon, Poso, dan lain sebagainya yang terjadi karena hal kecil yang didiamkan dan akan berakibatkan sebagai rasa intoleransi dalam keberagamaan. “Oleh karena itu, pemerintah harus melakukan persiapan peredangan rasa intoleransi tersebut dengan cara menegakkan hukum dengan adil dan juga harus memiliki sifat komitmen politik yang tinggi” tutupnya.

Pada sesi terakhir, Dwikorita memberikan imbauannya terhadap zona-zona yang rawan bahaya yang memiliki potensi produksi komoditi untuk selalu mengetahui dan mematuhi peta-peta yang telah diberi tanda bahaya oleh pemerintah sebagi bentuk konkret dari solusi tanggap bencana. Selain itu, dia juga mengingatkan kepada pemerintah untukbselalu memberikan edukasi tanggap bencana kepada masyarakat secara prima.

Acara ini dilaksanakan pada hari jum’at, 16 desember 2016, bertempat di Gedung Purbacaraka FIB UGM dan disiarkan secara langsung oleh RRI dan Pro 3 Fm. Acara ini berlangsung berkat dukungan dan kerjasama Kagama dengan Kompas.

Komentar