Menilik Asal Muasal Kebakaran Hutan di Kalimantan

14-titik-kebakaran-hutan-terdeteksi-di-kalimantan

Hai Sobat iCampers. Di tengah maraknya kasus kebakaran hutan di Indonesia, kita perlu tahu penyebab utamanya. Selasa (29/11), Ikatan Alumni (IKA) Ilmu Sejarah Universitas Airlangga mengadakan diskusi terbatas dengan menilik penyebab kebakaran dari sisi historis. Diskusi yang berjudul Ketika Hutan Rimba Hampir Lenyap: Eksploitasi Hutan di Kalimantan Timur pada Masa Orde Baru 1970-1998 ini dipandu oleh Akhmad Ryan Pratama.

Setelah Soekarno turun dari jabatannya sebagai Presiden, perekonomian di Indonesia masih kacau balau. Soeharto yang pada tahun 1968 diangkat menjadi Presiden Indonesia kedua perlu mengembalikan kondisi ekonomi di Indonesia. Kemudian diberlakukanlah UUPMA (Undang-Undang Penanaman Modal Asing) No.1 Tahun 1967. Akibat dari undang-undang ini adalah hutan dieksploitasi secara massif. Hutan-hutan di kawasan Kalimantan Timur banyak ditebangi. Dua komoditas kayu yang menjadi incaran adalah kayu ulin dan kayu meranti. Kayu ulin dihasilkan dari pohon ulin yang memiliki nama lain pohon kayu besi. Pohon ini baru bisa ditebang jika usianya sudah 250 tahun. Kayu ulin yang sudah gelondongan ini kualitas kayunya akan semakin baik jika terkena air. Sehingga pengangkutan kayu ulin dilakukan dengan cara menghanyutkannya ke sungai-sungai. Selain kayu ulin, komoditas kayu lain yang saat itu dikejar adalah kayu meranti. Kayu ini lazim dipakai untuk bahan konstruksi, pamil kayu untuk dinding, loteng, sekat ruangan, bahan mebel, dan perabotan rumah tangga.

Padahal, bila ditilik dari sisi ekologi, kedua pohon ini memiliki manfaat yang sangat besar. Pohon ulin misalnya. Ia menghasilkan oksigen yang menyerap karbondioksida melalui proses fotosintesis, mempertahankan air tanah, menahan air dan tanah serta mempengaruhi iklim mikro. Sehingga tanah disekitaran tumbuhnya pohon-pohon ini akan terus lembab meskipun musim kemarau. Ketika pohon-pohon ditebangi, kadar air dalam tanah berkurang. Sehingga tanah menjadi kering. Dengan mengeringkan kadar air dalam tanah, pengusaha beranggapan akan dengan mudah menebang pohon. Nyatanya tidak. Akibatnya di tahun 1982-1983 terjadi kebakaran besar.

Sistem silvikultur yang seharusnya setiap menebang satu pohon diganti dengan menanam pohon baru atau istilahnya tebang pilih tanam Indonesia (TPTI) tidak berlaku. Para pengusaha hanya memberikan janji palsu kepada masyarakat. Muncul istilah tebang pilih tanam Insyaallah (TPTI). Penanaman pohon akan dilakukan kembali jika Pemerintah memberikan dana untuk reboisasi. Nyatanya, dana reboisasi malah diselewengkan untuk membuka lahan sawah baru dan membuat pesawat. Eka, mahasiswa Ilmu Sejarah angkatan 2015 mengatakan bahwa diskusi yang diadakan di Unit Kajian Kebudayaan Jawa Timur ini sangat menarik. Karena selama ini masih jarang sekali ada tulisan sejarah yang membahas tentang sejarah lingkungan.

Jadi sobat iCampers, sebelum hutan kita gundul, sebelum banjir dan longsor menerpa kembali, mari mereboisasi hutan kita. Yuk bagikan artikel ini ke beranda media sosialmu. Semakin banyak share akan semakin banyak yang peduli dengan kondisi hutan kita.

Komentar



error: Konten dilindungi!