Berburu Paus di Lamalera

iCampus Indonesia

Berburu Paus di Lamalera

Indonesia hadir dengan beragam kebudayaan dan tradisi, kali ini saya akan membahas tradisi memburu paus di Pulau Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya desa Lamalera. Desa Lamalera dulunya adalah sebuah desa terpencil, terisolasi, dan jauh dari keramaian, namun seiring dengan perkembangan pembangunan yang terjadi saat ini sudah dibagun PLN dan pembuatan jalan aspal. Kampung-kampung Lamalera pun dibangun di atas batu cadas dan karang tepat di kaki atau di lereng bukit atau gunung. Desa Lamalera dengan panorama alam pegunungan yang sedikit gersang serta deruhnya ombak pantai selatan, topografinnya yang bergunung-gunung dan bebatuan dan disertai dengan kemiringan yang cukup terjal yang menantang kehidupan orang Lamalera.

Banyak orang orang merasa heran dengan tradisi menangkap paus yang ada di Desa Lamalera karena mereka tidak menggunakan perahu-perahu besar dan peralatan yang modern dalam menangkap Mamalia Laut supra besar ini, meraka cuma menggunakan sebuah perahu kayu tradisional yang sering disebut Peledang, dan Tombak yang dikenal dengan istilah Tempuling yang nantinya akan dipegang oleh sosok nelayan pemberani yang disebut Lamafa.

Untuk mendapatkan paus, nelayan di Lamalera tidak langsung terjun ke laut dan mencari hingga ke tengah samudera Laut Sawu. Mereka tetap beraktivitas di darat, sambil sewaktu-waktu melihat ke lautan. Siapa pun yang melihat paus akan meneriakkan baleo, kemudian disambung bersahut-sahutan memenuhi isi desa. Nelayan di Lamalera selalu mengincar paus sperma atau koteklema yang memiliki semburan tepat di atas kening. Nelayan Lamalera tidak memburu paus biru atau kelaru yang memiliki semburan tepat di atas kepala mereka, Nelayan Lamalera juga memburu Paus Pembunuh atau orca, yang dalam bahasa Lamalera disebut Seguni.

Seorang Lamafa biasanya melakukan tikaman yang langsung tertuju ke jantung Paus, Tantangan terbesar seorang Lamafa adalah saat melakukan tikaman pertama karena tikaman ini membuat Paus mengamuk dan biasanya akan menyeret peledang ke dalam laut atau membalikkannya bahkan menghancurkan peledang menggunakan kepala atau ekornya. Biasanya setelah 4 sampai 5 kali tikaman maka akan ditunggu 40-50 menit sampai Paus lemas, dan untuk mempercepat kematian Paus maka biasanya Sang Lamafa akan turun ke laut untuk menikam jantung Paus dengan pisau berkali-kali. Setelah Paus mati maka akan ditarik menuju pinggir pantai untuk dipotong dan dagingnya dibagi-bagi. Pembagian daging sudah memiliki ketentuan sendiri sejak nenek moyang.

Begitulah Lamalera yang tidak pernah bisa dipisahkan dengan Laut dan Paus. Alam Lamalera sepertinya selalu berpihak pada mereka, selalu menghantarkan paus untuk diburu. Selama bulan Mei-Oktober terjadi imigrasi Paus antara samudra hindia dan pasifik secara besar-besaran, ketika itulah para Lamafa dari Lamalera sudah menunggu untuk berburu.

Komentar



error: Konten dilindungi!