Mengenal Abdul Muis Pahlawan sekaligus Sastrawan Sumatera Barat

download

Mengingat kembali sejarah pahlwan Indonesia memang tidak akan ada habisnya, banyak sekali pejuang-pejuang Negeri yang mengorbankan seluruh tumpah darahnya demi Indonesia. Tidak perduli nyawa menjadi taruhan, demi bangsa dan negara nyawa dipertaruhkan.

Jika berbicara mengenai sejarah bangsa Indonesia tentu kita sudah tau jika bangsa Indonesia memiliki beribu pahlawan dan pejuang demi memerdekakan bangsa, hampir semua masyarakat Indonesia pada saat itu berjuang memerdekakan bangsa Indonesia dari tangan penjajahan Belanda tak terkecuali Abdul Muis. Abdul Muis dikenal di dalam dunia sastra sebagai pengarang roman Salah Asoehan yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, ia dilahirkan di Bukittinggi, Sumatra Barat pada tahun 1886 dan meninggal pada tahun 1959 di Bandung, Jawa Barat.

Sebagai seorang politikus ia pernah menjadi anggota Volksraad atau Dewan Rakyat Hindia-Belanda, pernah bersekolah di Sekolah Dokter (STOVIA) di Betawi, namun putus ditengah jalan. Kemudian ia menjadi seorang wartawan, redaktur majalah Soeara Merdeka yang terbit di Bandung.

Pada tahun 1923 Abdul Muis melancarkan aksi politik menentang penjajahan Belanda di Ranah Minang. Hal ini terdapat dalam sumber belanda sendiri yaitu surat Residen Sumatra Barat W.A.C Whitlau kepada Gubernur Jendral Fock tanggal 20 April 1923.

Belanda menjadi khawatir karena hadirnya Abdul Muis di Sumatra Barat, Belanda ingat peran Abdul Muis di Tolitoli Sulawesi dan pada pemogokan para pegawai rumah gadai di Jawa. Sebagaimana dibaca dalam surat Residen Sumatra Barat, Jaksa Agung Raad van Indië mengusulkan agar Abdul Muis dikeluarkan dari Sumatra Barat. Ia tidak diizinkan tinggal di situ.  Dahulu ada “zaman saisuk” dan terdapat larangan untuk memasuki sesuatu daerah disebut  passentelsel dan pada tahun 1930-an yang merasakan passentelsel adalah Mr.Muhammad Yamin ketika hendak mengunjungi Sumatra Barat untuk menggalang dukungan bagi dirinya supaya dipilih kemabali dalam Volksraad.

Selain menulis roman Salah Asoehan (1930) ia juga menulis Pertemoean Djodoh (1930) dan Soerapati (1950). Abdul Muis menerjemahkan karya pengarang Amerika Mark Twain, Tom Sawyer Anak Amerika (1949) dan karya Cervantes Don Kisot (1949).

Abdul Muis dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional yang pertama oleh Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno, pada  tanggal 30 Agustus 1959

Komentar



error: Konten dilindungi!