Jenis-jenis Kesalahan Logika

Jenis-Jenis Kesalahan Logika

Jenis-Jenis Kesalahan Logika

Halo sobat iCampers, Kita sebagai akademisi tentu tidak lepas dari situasi-situasi yang mengharuskan kita berargumen dan berdebat, tapi apakah kita sadar bahwa kita kadangkala melakukan kesalahan-kesalahan Logika didalamnya. Yuk kita pelajari apa itu kesalahan logika dan apa saja jenis-jenis kesalahan logika. Kesalahan Logika atau Logical Fallacy merupakan kesalahan penalaran dalam berargumen dan menanggapi argumen. Kesalahan Logika ini sangat sering dilakukan (secara tidak sengaja) oleh orang-orang yang kemampuan menalarnya kurang dan juga sangat sering digunakan (secara sengaja) oleh orang-orang tertentu,media tertentu, untuk membenarkan argumennya dan mempengaruhi orang lain. Sebagai orang yang berpendidikan maka kita harus memahami apa-apa saja yang tergolong Logical Fallacy, Berikut ini Jenis-Jenis Kesalahan Logika:

  1. Strawman

Membuat interpretasi yang salah atau bahkan memalsukan argumen orang lain, demi membuat argumen anda lebih masuk akal.

Contoh: Clara ditegur oleh Ibunya karena terlalu sering bermain komputer, lalu Clara balik mnyerang dengan mengatakan bahwa Ibunya menginginkannya berhenti bermain komputer selamanya dan belajar sampai stres.

  1. False Cause

Mengasumsikan bahwa segala sesuatu yang terjadi secara bersamaan sebagai hubungan sebab akibat.

Contoh: Pacar saya sangat suka menonton Drama Korea, dan pada saat yang sama berat badannya bertambah drastis. Maka berat badan pacar saya bertambah drastis karena sering menonton Drama Korea.

  1. Appeal to Emosion

Memanipulasi perasaan (emosi) seseorang dari pada membuat argumen yang logis dan valid.

Contoh: Seorang pejabat menjadi tersangka kasus korupsi, namun dibela dengan argumen bahwa sangat tidak mungkin menjadi tersangka korupsi karena sering membantu dan menyumbang ke orang-orang miskin.

  1. The Fallacy Fallacy

Jika seseorang melakukan kesalahan logika dalam berargumen maka argumen orang itu sepenuhnya salah.

Contoh: Andy mengatakan bahwa kita tidak boleh membunuh karena itu larangan populer di dunia, ini tentu salah dan ditanggapi oleh Ucok bahwa Andy melakukan kesalahan berpikir maka membunuh itu diperbolehkan.

  1. Slippery Slope

Mengasumsikan bahwa Jika kejadian A dilakukan maka kejadian B,C,D akan terjadi, tanpa alasan yang logis. Lalu disimpulkan, A tidak boleh terjadi.

Contoh : Agus berargumen bahwa Jika kita menyetujui pernikahan Sesama Jenis maka suatu saat nanti Pernikahan dengan orang tua juga bisa dilegalkan.

  1. Ad Hominem

Menyerang sifat seseorang untuk melemahkan argumennya dibanding membalas argumen tersebut.

Contoh: Rudi memberikan argumen tentang pentingnya kerja sama tim dalam berorganisasi, Dodi mengatakan apa yang bisa dipercaya dari orang yang suka bangun kesiangan.

  1. Tu Quoque

Melawan kritikan dengan kritikan dan bukan membalas argumen lawan.

Contoh: Anna memperingatkan David agar tidak lagi merokok karena sudah mengalami gejala kanker paru-paru. David menolak itu karena Anna juga perokok.

  1. Personal Incredulity

Menganggap suatu hal tidak benar karena sulit dipahami

Contoh: Dodi menganggap tidak ada Relawan calon gubernur yang gratis. Jadi dia langsung menyimpulkan bahwa semua Relawan itu dibayar.

  1. Loaded Question
    Mengajukan pertanyaan yang memiliki praduga secara implisit, sehingga tidak bisa dijawab tanpa terlihat bersalah.
    Contoh: Meskipun Bob tahu Charlie tidak merokok, untuk menarik perhatian Alice, Bob menanyakan pertanyaan ini kepada Charlie: “Apakah kamu sudah berhenti merokok? Sudah atau belum?”
  1. Burden of Proof

Menyatakan bahwa orang lainlah yang harus membuktikan klaim, bukan Si Pembuat klaim.

Contoh: Beni mengklaim bahwa Yanto menghina keluarganya. Karena belum ada yang membuktikan bahwa opininya salah, Maka Ia mengklaim opininya benar.

Itulah beberapa jenis kesalahan logika yang sering terjadi di masyarakat, Terkadang kita melakukan/mempraktekannya tanpa kita sadari maupun kita sadari namun dengan tujuan menyerang argumen orang lain. Namun memahami kesalahan-kesalahan dalam berlogika bukan berarti menjadi benar secara argumen dan opini karena Logika bukanlah satu-satunya faktor penentu kebenaran.

Komentar