Taman Pendidikan Al-Qur’an sebagai Wajah Baru Pendidikan Karakter di Indonesia

pendidikan-al-quran

Taman Pendidikan Al Qur’an, disingkat TPA/TPQ, menurut wikipedia adalah lembaga atau kelompok masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan nonformal jenis keagamaan Islam yang bertujuan untuk memberikan pengajaran membaca Al Qur’an sejak usia dini, serta memahami dasar-dasar dinul Islam pada anak usia taman kanak-kanak, sekolah dasar dan atau madrasah ibtidaiyah (SD/MI) atau bahkan yang lebih tinggi. TPA/TPQ setara dengan RA dan taman kanak-kanak (TK), di mana kurikulumnya ditekankan pada pemberian dasar-dasar membaca Al Qur’an serta membantu pertumbuhan dan perkembangan rohani anak agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Berdasarkan data historis, lembaga ini tidak bisa dipisahkan dari peran KH Dahlan Salim Zarkasi dan KH As’ad Humam.

KH Dahlan Salim Zarkasi berperan merintis berdirinya TK Al-Qur’an yang pertama, yaitu TK Al-Qur’an “Mujawwidin” di Semarang (1986) yang menggunakan metode “Qiroati”, sedang KH As’ad Humam bersama timnya, yaitu Tim Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Mushola (AMM) Yogyakarta. Pada tanggal 16 Maret 1988, KH As’ad Humam mendirikan TK Al-Qur’an “AMM” di Yogjakarta yang menggunakan  metode “Iqra” kemudian diikuti Taman Pendidikan Al-Qur’an “AMM”, Ta’limul Qur’an Lil Aulad “AMM” , Kursus Tartilil Qur’an “AMM”.

Pendidikan terhadap anak-anak sangat diperhatikan dalam Islam, karena Islam memandang bahwa setiap anak dilahirkan dengan membawa fitrah (potensi) yang di kembangkan melalui pendidikan. Pendidikan Agama mempunyai fungsi dan peran yang lebih besar daripada pendidikan umumnya. Oleh karena itu, peran TPA/TPQ sangatlah penting dalam mengajarkan kepada anak-anak tentang Dinul Islam secara dini.

Hal ini juga senada dengan harapan bangsa., Fatchul Muin (2011) dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Karakter Konstruksi Teoretik dan Praktik” yang telah membuat definisi dan pemetaan mengenai karakter manusia dan faktor-faktor yang membentuknya. Dalam bukunya ini, dia mengemukakan ada dua dominan penting yang harus diperhatikan dalam memepengaruhi pendidikan karakter di Indonesia  harus diterapkan kembali. Pertama, dominan telah hilangnya rasa (karakter) produktif-kreatif sehingga menjadi bangsa yang tidak suka mencipta dan hanya suka membeli dan meniru gaya hidup bangsa lain. Kedua, dominan karakter apatis dan putus asa yang kemudian diisi oleh pikiran-pikiran sempit yang dicekokkan oleh kepentingan politik yang salah satunya bersembunyi dalam kedok moral-agama yang kemudian akan tergelincir kepada gerakan fundamentalisme keberagamaan.

Bagi penulis, TPA/TPQ ini sangatlah kompleks dalam mengkomparasikan berbagai aliran di dalam filsafat pendidikan. Artinya, TPA/TPQ ini dapat dilihat dari beberapa sudut pandang yang berbeda. Dengan demikian, itu tergantung bagaimana seseorang melihat peran penting TPA/TPQ sebagai wajah baru di Indonesai dalam membangun pendidikan karakter.

Jika kita melihat corak lembaga TPA/TPQ ini maka kita akan mengetahuinya bahwasanya lembaga ini bercorak idealisme. Artinya, lembaga ini lebih mengedepankan ajaran dunia spiritual (mengenai agama, ibadah, adi kodrati, dan tuhan). Namun apabali kita ingin melihat corak metode belajarnya maka kita akan mengetahui corak metode belajarnya ini lebih bersifat nativisme, empirisme, naturalisme, dan konvergensi, karena lebih memperhatikan siklus perkembangan potensi anak didik. Secara tujuannya juga dapat ditelisik lebih jauh TPA/TPQ ini coraknya sedikit lebih dinamis dari ajaran realisme religius. Artinya, tujuan utama diadakannya lembaga TPA/TPQ ini ialah untuk mendorong siswa memiliki keseimbangan intelektual yang baik, dan bukan semata-mata penyesuaian diri terhadapa lingkungan fisik dan sosial.

Kurikulum menurut etimologi  dari Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah sebuah perangkat mata pelajaran/mata kuliah yang diajarkan pada lembaga pendidikan. Hilda Taba (1962) yang merupakan salah seorang filsuf pendidikan di USA berpendapat, kurikulum sebagai a plan of learning yang berarti bahwa kurikulum adalah sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh siswa yang memuat rencana untuk peserta didik. Dalam bukunya “Curriculum Development Theory and Pratice” . Term “membingungkan” adalah ciri utama dari teori kurikulum tersebut. “Suatu kurikulum biasanya mengandung suatu pernyataan mengenai maksud dan tujuan tertentu; ia harus memberikan suatu petunjuk tentang beberapa pilihan dan susunan isinya, baik bersifat tersirat ataupun tersirat, baik yang dikehendaki bersama pun tidak” tambahnya dalam Beeby (1979:145).

Taman Kanak-kanak Al-Qur’an dan Taman Pendidikan Al-Qur’an adalah lembaga luar sekolah (nonformal) jenis keagamaan. Oleh karena itu muatan pengajarannya lebih menekankan aspek keagamaan Islam dengan mengacu pada sumber utamanya, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Hal itu pun dibatasi dan disesuaikan dengan tarap perkembangan anak, yaitu kelompok usia 4-12 tahun (usia TK/ SD/ MI). Dengan demikian, porsi pengajarannya tebatas pada pemberian bekal dasar pengetahuan, sikap dan keterampilan keagamaan, misalnya pengajaran baca tulis al-Qur’an, pengajaran sholat, hafalan surat dan ayat al-Qur’an serta do’a harian, penanaman aqidah dan akhlaq, dan lainnya. Dan hal tersebut harus berasakan religius, filosofis, sosio-kultural, dan psikologis.

Bagi penulis, dengan hadirnya TPA/TPQ sebuah lembaga pendidikan karakter yang berbasis pada keagamaan dapat menjadi sebuah wadah dan wajah baru di Indonesia dalam mengkaji beberapa isu-isu strategis pendidikan yang memiliki keterkaitan dengan kebutuhan untuk membentuk karakter anak didik dan generasi bangsa sesuai dengan upaya untuk menjawab kontradiksi-kontradiksi dan masalah-masalah kemanusiaan yang mendominasi suatu masyarakat, seperti kemiskinan, kebodohan, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, Fatchul Muin (2011) mengistilahkan sebagai cahaya pengharapan pendidikan karakter bangsa.

Daftar Pustaka

  • Beeby, C. E. Pendidikan di Indonesia. Jakarta. PT Djaya Pirusa. 1979.
  • Muin, Fatchul. Pendidikan Karakter: Konstruksi Teoretik dan Praktik. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. 2011.
  • Entin Sutinah. Peranan Taman Pendidikan Al Qur’an  Dalam Pendidikan Agama Pada Anak Usia Sekolah Dasar Studi Kasus Di Taman Pendidikan Al-Qur’an (Tpa) Nurusshobah Desa Palasari Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor. https://kelompok4bogor.wordpress.com/2011/06/12/peranan-taman-pendidikan-al-qur%E2%80%99an-dalam-pendidikan-agama-pada-anak-usia-sekolah-dasar-studi-kasus-di-taman-pendidikan-al-qur%E2%80%99an-tpa-nurusshobah-desa-palasari-kecamatan-cijeruk-k/ dipost pada 12 Juni 2011, dan diakses pada 14 Desember 2016.
  • Seksi Pendidikan Islam. Standar Kurikulum Taman Pendidikan Al-Qur’an. http://pendiskayongutara.blogspot.co.id/2013/09/kurikulum-taman-pendidikan-al-quran.html dipost pada tahun 2013,  dan diakses pada 24 Desember 2016.
  • Mangun Budiyanto. Pedoman Penyelenggaraan Taman Pendidikan Al-Qur’an. https://mangunbudiyanto.wordpress.com/2010/10/19/pedoman-penyelenggaraan-taman-pendidikan-al-qur%E2%80%99an/ dipost pada 19 Oktober 2010, dan diakses pada 14 Desember 2016.
  • Kemenag.go.id: Manajemen Pengelolaan TKA/TKQ, TPA/TPQ dan TQA dalam Wikipedia.Org dipost pada 13 Mei 2016 Pukul: 13.24 WIB dan diakses pada 14 Desember 2016 Pukul 09.00 WIB.

 

Komentar



error: Konten dilindungi!