Curahan Hati Seorang Aktivis Kampus

ilustrasi-tangan-merah-genggam-pena-siluet-orang

Tulisan ini hanya sekadar curhatan. Ya, sekadar curhatan akibat banyak yang mempermasalahkan background dalam memilih organisasi. Kalau sekiranya tulisan ini gak penting, boleh skip saja. Aku hanya butuh untuk bercerita, melihat realita sekarang yang makin surut semangat dalam berorganisasi, khususnya untuk tergabung ke dalam organisasi sosial politik (baca: BEM & DPM).

Aku adalah orang yang sama sekali buta dengan organisasi sospol. Dari SMP hingga TPB aku rohiser sejati. Pernah sih masuk OSIS waktu SMA, hanya setahun saja tapi.
Niatnya ketika kuliah, aku akan ikut organisasi yang inline sama background-ku (baca: rohis). Pada tahun pertama, aku aktif di dewan musala, BBQ, dan ISC. Aku nyaman dan senang berada di organisasi yang sesuhu dengan background-ku sebelumnya.

Tingkat dua adalah fase masuk fakultas. Otomatis organisasi pun berganti. Entah mengapa ada pikiran bahwa aku terlalu asyik di zona nyaman dalam berorganisasi. Dengan nekat, aku banting stir. Aku daftar DPM fakultas padahal sama sekali aku buta dengan organisasi sospol. Ya, aku buta banget, bahkan pada awal-awal aku kira “pleno” itu sidang, wkwk (jadi tiap minggu kukira DPM sidang, wkwk).

Ada beberapa alasan aku masuk DPM:

1. Sadar diri karena aku harus meningkatkan kapasitas di bidang lain, tidak hanya merasa aman pada zona nyaman.
2. Pernah ada pikiran, “DPM kan bukan background-ku, terus nanti kerjaku di organisasi gimana?” Hm… kalau terus mikir gitu, kapan waktunya kita belajar sesuatu yang baru, kerena pikiran itu menjadikan kita menyerah sebelum mencoba.
3. DPM membutukan pengurus. Ya, setiap tahun ormawa pasti membutuhkan orang untuk dapat mengisinya dan membuatnya lebih baik. Aku sadar kalau tiap lini ormawa perlu diisi. (Maaf) Gak harus melulu BEM aja yang penuh sedangkan organisasi lainnya krisis kader. Ingat loh, DPM punya fungsi dimana fungsi itu akan berpengaruh terhadap ormawa lain. Begitupun ormawa. Ormawa tanpa DPM bagai orang yang pincang. DPM tanpa ormawa bagai orang yang hilang.

Sebelum tulisan ini berakhir, kusampaikan bahwa kesimpulannya: “Setiap orang punya kemampuan untuk belajar baik punya ataupun tidak punya background dalam suatu bidang.” Aku berharap komposisi ormawa di fakultasku seimbang sehingga fungsinya berjalan dengan baik. Aku sangat berharap kita berubah ke arah yang lebih baik. Tidak selalu pikiran kita dikekang dogma-dogma yang menelaga. Simpan alasan dalam peti, mari berpikir realistis dan peka situasi. “Perubahan dalam segala hal adalah hal yang manis.” (Aristoteles)

Komentar



error: Konten dilindungi!