Manajemen Hati, untuk Si ‘Maba Lintas Jurusan’

Ciri-Ciri-Mahasiswa-Baru4+

“Eh, serius kamu engga bisa bedain akun yang di kredit dan di debit? Ini kan materi dasar waktu SMA dulu.”
“Iya nih, aku belum paham soalnya aku dulu jurusan IPA.”
“Oh, pantas saja.”

Sepenggal percakapan diatas mungkin bisa kita lihat hanya percakapan sederhana, namun bisa memberi makna yang dalam terlebih untuk kamu ‘Maba Lintas Jurusan’.

Dahulu sewaktu menjalani tahun terakhir di SMA (Sekolah Menengah Atas) kita dihadapkan kepada pilihan-pilihan untuk masa depan studi kita. Kita boleh memilih untuk bekerja, melanjutkan kuliah, atau kuliah sambil bekerja.

Saat kita memilih melanjutkan studi dibangku perkuliahan kita dihadapkan kembali dengan berbagai opsi perguruan tinggi hingga jurusan-jurusan yang akan kita pilih. Saat menentukan jurusan yang akan kita pilih, kebanyakan akan memilih jurusan sesuai dengan keinginan yang harapannya bisa menghantarkan kita kepada pekerjaan impian. Sehingga kadang ada calon mahasiswa yang memilih untuk lintas jurusan, misalnya dari jurusan IPA yang akan mengambil studi Manajemen Bisnis yang merupakan rumpun ilmu sosial, atau sebaliknya.

Namun untuk kasus  pilihan lintas jurusan inilah yang terkadang membuat orang-orang nyinyir dengan pilihan kita. Terkadang kita sebagai yang di-nyinyirin juga sebal dengan kata-kata dan perlakuan yang kadang walau tidak sengaja cukup membuat kita tersinggung. Seperti,

“Eh, maaf kamu engga paham ya, lupa kalau kamu dulu IPA, aku tanya teman lain yang dari IPS saja,”
“Kalian anak IPA, masuk jurusan sosial, kalian ngambil lapangan kerja kita yang IPS tahu!”

Maksud teman bercanda, namun candaan ini cukup membuat baper lho. Daripada kita berlarut-larut dengan nyinyiran yang terkadang menjatuhkan, ayo kita menata hati untuk bangkit. Kita simak bersama yuk, cara memanajemen hati kita agar tidak galau berkepanjangan.

1. Menyadari benar alasan kita memilih jurusan kita sekarang.
“Aku memilih jurusan manajemen, karena menurut aku orang yang bisa mengkondisikan sebuah organisasi dengan banyak orang beserta tugas masing-masing untuk mencapai sebuah tujuan itu hebat. Aku ingin belajar banyak tentang hal ini”
Sebuah alasan adalah pondasi selama kita menjalani perkuliahan. Gali lebih dalam alasan dan tujuanmu berputar arah untuk mempelajari ilmu tersebut. Peganglah erat alasan itu agar kamu tidak kehilangan arah dan lupa tujuan.

2. Mundur selangkah, untuk maju lima langkah.
Disaat kita belum menguasai dasar-dasar ilmu studi kita, sedangkan teman-teman sekelas sudah mempelajarinya di SMA, jangan berkecil hati. Ketertinggalan yang cukup jauh terkadang memang membuat kita minder dan berpikir bahwa kita terlalu bodoh dan tidak mampu. Pemikiran tersebut makin lama dapat membunuh potensi kita untuk berkembang lho, jangan diteruskan. Lebih baik mundurlah selangkah dan gunakan waktu untuk hening, dan membangun rasa percaya diri kita sambil menyusun strategi untuk memperkecil ketertinggalan. Kejarlah dengan membaca lebih banyak buku, belajar kepada teman yang lebih paham dari kita, aktif tanya jawab dalam kelas, juga berorganisasi di kepanitiaan kampus atau organisasi kemahasiswaan. Kita sudah dewasa, jangan sampai kita menyesal karena tidak serius dari semester awal. IP yang rendah akan menghambat kita dalam mendapatkan IPK yang cukup untuk mendapatkan pekerjaan impian. Keaktifan kita di kelas dan organisasi memperkuat softskill kita, seperti kemampuan public speaking dan bekerja dalam tim.

3. Bukan berarti mereka lebih baik daripada kamu.

Motivasilah dirimu untuk bangkit. Bangun rasa percaya terhadap dirimu sendiri bahwa kamu yang masih terbilang newbie untuk ilmu ini bisa disejajarkan pengetahuannya dengan kawan-kawan lain yang sudah mempelajarinya terlebih dahulu.

Banyak hal yang dapat menjatuhkanmu, termasuk perkataan serta perlakuan teman-temanmu. Namun satu-satunya yang dapat menjatuhkanmu adalah dirmu sendiri, jadikanlah kata-kata nyinyir mereka menjadi cambuk kita untuk maju dan menunjukkan taring bahwa kamu pun mampu dan serius mempelajari ilmu ini.

Pimpinlah dirimu untuk menjadi dirimu yang lebih baik. Keputusan ada dalam tanganmu, masa depanmu ada ditanganmu sendiri bukan orang lain. Buat mereka malu karena dahulu meremehkanmu!

Banyak dari teman-teman penulis yang termasuk dalam si-lintas jurusan, namun mereka mampu menangkap materi dengan cepat dan dapat pula menjelaskan dengan baik dibandingkan dengan teman-teman yang sudah mendapatkan materi yang sama di sekolah menengah. Jadi tidak ada pengecualian untuk menjadi lebih unggul, semua tergantung kemauan diri sendiri.

4. Evaluasi diri
Secara berkala kita harus selalu merefleksikan kembali tujuan kita mempelajari sebuah ilmu. Apakah kita sudah lebih memahami ilmu ini? Jika lebih memahami dan ada progress yang baik, baiknya terus kita kembangkan, namun jika belum mungkin dalam prosesnya kita belum terlalu serius sehingga hasilnya belum memuaskan.

Dari evaluasi tersebut kita dapat menentukan langkah selanjutnya yang lagi-lagi digunakan untuk mencapai tujuan kita fokus mempelajari ilmu ini.

5. Life the present
Membayangkan masa SMA sebagai anak jurusan IPA yang kemudian mempelajari ilmu Manajemen di bangku kuliah, seringkali membuat saya tertawa miris. Terkadang juga bertanya dalam hati kegunaan kimia, fisika, dan biologi di SMA dulu jika sekarang mempelajari hal yang benar-benar berbeda dan baru?. Saya hanya dapat menjadikan ‘pengetahuan yang belum terpakai hari ini’ menjadi nilai tambah, artinya saya juga satu langkah lebih unggul dari segi pengetahuan.

Dulu saat SMA, kita memilih penjurusan dengan alasan yang cukup sederhana : suka atau tidaknya dengan mata pelajaran itu, tidak suka hitungan maka masuk ke jurusan IPS, tidak suka hafalan maka masuk ke jurusan IPA. Namun ada juga yang sudah merencanakan, misalnya ingin menjadi dokter bedah sehingga harus mengambil jurusan IPA di SMA.

Namun sebanyak apapun kita membuat rencana dan pilihan, tetap Tuhan lah yang memutuskan. Kita juga tidak akan tahu, bagaimana ketertarikan kita berubah seiring kita berproses di SMA, dari yang awalnya menyukai ilmu sains dan karena aktif berorganisasi jadi lebih suka mempelajari ilmu sosial dan hubungan antar pribadi.

Masa lalu sudah cukup menjadi cerita dan pembelajaran. Masa depan terlalu sulit kita ramalkan dan seringkali berbeda dari apa yang kita impikan. Lebih baik hidupilah apa yang ada sekarang, kerjakanlah apa yang ada dengan sebaik-baiknya. Semoga dengan keikhlasan dan kemauan untuk menerima, Tuhan akan melancarkan jalan untukmu menggapai mimpi kedepannya.

Percaya dirilah untuk mengeksplore apa yang belum kamu ketahui tentang ilmu yang benar-benar baru buatmu. Jangan patah arang dan teruslah memperbaiki di semester-semester selanjutnya, selamat berbenah! 

*Kristyar

Komentar