Karang Mumus, Sungai Vital di Samarinda yang Harus Diselamatkan

maxresdefault-6

 

 

Sungai Karang Mumus yang penting bagi masyarakat Samarinda akan tetapi tercemar akibat sampah dan limbah.

Bukti kepedulian pendidik untuk mengajarkan mahasiswanya aksi nyata dalam peduli terhadap lingkungan. Salah satu hal yang dilakukan beberapa mahasiswa dari Samarinda ini perlu dijadikan contoh, yakni mengadakan Praktikum Pengendalian Pencemaran yang dilakukan di Posko Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM), Samarinda, Kalimantan Timur didampingi Ibu Wiwin Suwinarti pada hari Sabtu, 23 April 2016 guna mendapatkan edukasi serta membersihkan sungai itu dari berbagai jenis sampah terapung, berserakan.Sungai Karang Mumus, salah satu sungai utama di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, yang airnya banyak dimanfaatkan warga tak luput dari tekanan lingkungan yang menyebabkan mutu airnya semakin menurun.

Kegiatan ini diprakarsai oleh Bapak Misman, awalnya sungai dijadikan tong sampah karena sungai merupakan bagian belakang rumah. Akibatnya hanya ikan sapu-sapu yang mampu bertahan di sungai yang tercemar tersebut. Filosofinya adalah jika memungut sehelai sampah maka jaminan surga yang diperoleh.

“Wejangan” yang diberikan beliau mengenai betapa berharganya arti sebuah sungai bagi kehidupan manusia dan makhluk Tuhan yang hidup di dalamnya, sehingga setiap orang wajib menjaga sungai dan tidak menjadikan Karang Mumus sebagai tempat pembuangan sampah.

Jika Indonesia menyatakan Darurat Narkoba karena banyaknya pengguna barang haram tersebut, maka GMSS-SKM menyatakan Darurat Karang Mumus karena banyaknya orang yang mengotori Karang Mumus.

Sejarah awalnya sungai menjadi sumber mata pencaharian yakni saat terjadinya banjir cup dimana kayu melintasi sepanjang sungai Mahakam dan banyak pendatang yang tergiur untuk menggeluti usaha di dekat sungai tersebut serta budaya suku-suku yang kehidupannya bergantung dengan sungai.

Jenis sampah ada tiga:

1. Sampah Dasar,

2. Sampah Terapung,

3. Sampah Tepi.

Menurut Bapak Yustinus S. Hardjanto, sampah berasal dari limbah domestik dan usaha. Akibatnya dahulu kedalaman sungai 7-15 m, sekarang hanya 5 m.

Saran yang dapat dilakukan:

  1. Adanya peran pemerintah untuk merelokasi masyarakat yang berada di pinggir sungai karena sejak tahun 2003 tidak mampu untuk merelokasi dan tidak ada pencegahan untuk rumah baru.
  2. Adanya peraturan daerah yang yang melarang membuang sampah dan air besar di sungai.
  3. Jemput wisata dengan membuat perubahan rumah menghadap ke sungai.
  4. Penanaman pohon lokal seperti Jabon (Anthocephalus cadamba Miq).
  5. Diharapkan agar pengetahuan dapat merubah perilaku. Contohnya “Kebersihan sebagian dari Iman
  6. Perlu rutinitas walaupun hanya segelintir relawan dan orang akan melihat kemudian konsistensi dipertahankan sehingga orang lain akan terlibat.
  7. Dikembangkannya teknologi pengolahan sampah sederhana dan bank sampah.

Komentar



error: Konten dilindungi!