Mental Illness, Salah Satu Penyebab Hidup menjadi Kelabu yang Masih Dianggap Tabu

stress

Pernahkah kamu merasa depresi atau tidak berminat melakukan segala hal karena memikirkan suatu hal tertentu? Seperti depresi karena dihujani tugas yang bertubi-tubi, urusan kepanitiaan yang buat kamu malas menghadapi kenyataan, atau bahkan masalah keluarga yang tidak kunjung selesai.

Tahukah kamu, perilaku depresi seperti ini termasuk salah satu mental illness atau gangguan jiwa? Sebenarnya banyak jenis-jenis mental illness, seperti bipolar disorder, drapetomania, ADHD, fobioa, psikopat, dan masih banyak lagi. Akan tetapi, pada tulisan kali ini saya mengambil contoh depresi karena paling banyak ditemukan di kalangan mahasiswa.

Yang masih disayangkan, masih banyak orang yang menganggap mental illness adalah hal yang tabu sehingga yang tergambar dalam pikiran mereka adalah sosok menakutkan berkelakuan aneh dan bicara sendiri. Tidak jarang ditemukan mindset yang salah itu hingga akhirnya menciptakan kata kata seperti “gila, miring, atau sarap” yang pada akhirnya melahirkan stigma di khalayak umum. Pada kasus-kasus gangguan jiwa, tindakan ini pada akhirnya membangun prejudice tanpa dasar yang mengarah pada usaha-usaha mendiskriminasikan penderita gangguan jiwa dalam banyak hal.

Hal ini tentu saja memperburuk keadaan karena para penderita gangguan jiwa semakin menarik diri—tidak mau terbuka karena takut dihakimi dan disudutkan. Yang lebih menyakitkan adalah ketika bayangan ketakutan akan dihakimi dan ditertawakan membuat penderita tidak mau mencari pertolongan ketika gejala-gejala gangguan jiwa mulai dirasakan, sehingga kebanyakan penderita berusaha membohongi diri sendiri dan menganggap gejala psikotik adalah hal yang biasa saja. Padahal, orang depresi itu hanya butuh didukung dan diyakinkan bahwa mereka tidak sendiri, bahwa mereka itu berharga bagi dirinya dan hal-hal di sekelilingnya.

Ujung-ujungnya, masalah ini akan menjadi semakin kompleks di kalangan pemberi layanan jiwa itu sendiri. Hal ini terutama tampak pada pelabelan penyakit penyakit jiwa yang oleh masyarakat umum diartikan berbeda. Tindakan dan perlakuan seperti memberi julukan penyakit jiwa terhadap para penderita udah biasa diterima masyarakat dan jadi hal yang wajar. Pada akhirnya, masyarakat menjadikan hal tersebut sebagai acuan bahwa penyakit jiwa memang sangat mengerikan.

Di satu sisi, pelabelan yang diberikan masyarakat kepada para penderita gangguan jiwa juga berakibat pada pribadi penderita itu sendiri. Bukannya membantu, justru malah memperburuk kondisi kejiwaan para penderita.

Selain dari stigma masyarakat, media turut memperparah stigma yang diterima para pengidap gangguan jiwa. Kita semua tahu kalau peran media adalah sebagai penyampai informasi, khususnya media televisi yang sering mempertontonkan penderita gangguan jiwa sebagai sosok yang berbahaya. Misalnya ada pemeran sinetron atau film yang menggambarkan kalau orang penderita gangguan jiwa sebagai sosok yang menakutkan, sadis, berbahaya, dan sering mengamuk tanpa alasan yang jelas. Nah, di sini media justru semakin membangun penghakiman tanpa dasar yang semakin memperparah kondisi kejiwaan penderita gangguan jiwa.

Padahal, penderita penyakit jiwa itu ada banyak sekali, bahkan di sekeliling kita dan bisa dialami siapa saja. Umumnya, para ahli mendefinisikan penyakit jiwa sebagai suatu kondisi serius yang mengganggu pikiran, pengalaman, dan emosi. Hal ini bisa memicu berkurangnya fungsi sebagai manusia utuh, disebabkan oleh terjadinya kesulitan dalam membina hubungan interpesonal, kesulitan dalam melakukan pekerjaan, dan bahkan bisa merusak diri sendiri. Sayangnya, masyarakat masih menganggap tabu hal ini sebagai sesuatu yang menakutkan dan harus dijauhi penderitanya.

Bagi pembaca, mari menerima penyakit itu sebagai bagian dari diri sendiri. Mulailah untuk jujur pada diri sendiri walaupun prosesnya rumit. Memang tidak mudah berdamai dengan penyakit yang masih dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat, tapi jangan sampai gangguan jiwa yang hanya terjadi pada saat momen-momen tertentu jadi menghambat keseluruhan hidupmu serta segala potensi dan prestasi yang ada. Percayalah, kamu berharga dan mampu untuk berkarya serta berprestasi. Kamu itu berarti bagi diri kamu dan orang-orang di sekeliling kamu.

Sumber referensi: AnakUIdotcom

Komentar



error: Konten dilindungi!