Mahasiswa, Pilar Perubahan Zaman

Mahasiswa ITB

Mahasiswa, mungkin saat ini banyak orang yang telah menganggapnya serta menyikapi sebutan tersebut biasa-biasa saja dengan berbagai perilaku dan sikap yang ditunjukkan mahasiswa dalam melihat problematika sosial dimasyarakat yang ada saat ini. Mahasiswa yang seharusnya menjadi pilar-pilar perubahan dalam melakukan transformasi sosial dan memberikan kontribusi-kontribusi positif dengan ide-ide solutifnya sudah mulai terkikis dengan kehidupan glamour terbawa arus modernitas zaman. Padahal sejarah telah membuktikan dalam tinta emasnya ditangan mahasiswalah perubahan itu terjadi. Dahulu mahasiswa yang sering diidentikkan dengan sebutan agent of change dan iron stock atau yang lainnya yang selalu ada digarda terdepan dengan gerakan-gerakan massif dan progressifnya ternyata kini bersikap apatis (tidak mau tahu) dan hedonis (masa bodoh atau mementingkan diri sendiri). Ya, memang tidak semua mahasiswa seperti hal yang diungkapkan diatas. Namun, terlalu banyak bukti bahwa hal tersebut terjadi baik di perguruan tinggi negeri ataupun swasta belakangan ini.

Didalam kampus sendiri mahasiswa tanpa disadari telah membangun blok-blok yang saling bersinggungan antara satu dengan yang lainnya, blok yang selalu bersitegang adalah blok aktivis dan blok apatis. Blok aktivis selalu menganggap bahwa bahwa kaumnya lah yang paling berjasa jika terdapat suatu kasus yang dapat mereka selesaikan dan selalu menyalahkan sikap “CUEK” nya dari kaum apatis. Sedangkan kaum apatis, menganggap kaum aktivis adalah sebagai kaum yang tidak memiliki pekerjaan karena sok menjadi pahlawan dengan selalu ikut campur urusan pihak lain serta selalu memberi “CAP” bahwa aktivis hanya bermodal mulut namun otaknya kosong.

Gerakan mahasiswa saat ini menjadi mandul. Idealisme yang dahulu selalu diagung-agungkan sejak masa lampau pada akhirnya tergerus oleh zaman yang menghadirkan persaingan yang tidak sehat. Mahasiswa kini tidak berdaya lagi dihadapan para birokrat. Kenapa serta apa sebabnya? Salah satu sebabnya karena mahasiswa saat ini tidak sejalan dan satu tujuan lagi dalam kehidupan di dunia kampus. Dengan sikap sombongnya mahasiswa selalu membanggakan teknologi yang mereka miliki, hilangnya komunikasi langsung yang membuat hubungan semakin memburuk anatar mahasisswa serta sikap anti social mahasiswa yang mendominasi kehidupan kampus saat ini membuat jarak semakin jauh antar mahasiswa.

Jadi, mau sampai kapan kita terjebak dalam digma seperti ini? Mari kita renungkan kembali apa saja yang telah kita lakukan selama menggunakan gelar “MAHASISWA”? Apa karyamu? Apa kontribusimu? Mari bangkit kembali, menghapus blok-blok yang telah tidak sengaja tercipta. Seperti kata bung karno pada statmentnya “berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncang dunia”. Dan memang begitu lah kenyataannya dan fakta yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. Hidup mahasiswa!

Komentar



error: Konten dilindungi!