Jurnalis Harus Tahu Tentang Jurnalistik Naratif!

journalism

Sabtu, 19 November 2016 lalu, KOPI atau Komunitas Pers Intern adalah salah satu organisasi kemahasiswaan di FEB UNPAD mengadakan training bagi anggotanya, membahas mengenai jurnalistik naratif atau sering juga disebut dengan jurnalistik sastra dengan pembicaranya kak Abdul Haris Azri. Sebelum membahas lebih lanjut apa itu jurnalistik naratif, akan lebih baik jika kita berkenalan dengan beberapa gaya penulisan jurnalistik seperti straight news, feature, dan narasi.

Berbeda dengan straight news di mana penulisannya sangat informatif, menjawab komponen 5W+1H, dan berbentuk piramida terbalik ataupun feature yang lebih menekankan pada data dan fakta namun tidak berpatok pada piramida terbalik. Gaya penulisan jurnalistik naratif menggunakan gaya narasi yang cenderung lebih detail, menggali fakta-fakta yang tersembunyi yang kelihatan di permukaan saja. Fakta yang tersembunyi ini bisa diketahui dari berbagai sumber dengan melakukan wawancara dengan pihak yang bersangkutan atas suatu kasus, berita surat kabar yang pernah ada, ataupun ulasan majalah dan buku.

Kaidah Jurnalisme Naratif

1. Tulisannya bersifat jurnalistik

Maksudnya bersifat jurnalistik adalah karena tercermin dari penggalian subyek berita yang sungguh-sungguh menerapkan asas-asas jurnalistik yang berdasar peristiwa aktual, wawancara atau datang langsung ke sumber berita, jujur, mencakup sumber dua arah, dan lainnya.

2. Tidak sekedar suatu laporan yang singkat dan dangkal

Berbeda dengan straight news yang biasanya diterapkan untuk berita-berita online, jurnalisme naratif lebih ke arah investigasi mendalam. Dalam training, kak Haris mencontohkan berita mengenai mahasiswa gay. Bukan hanya menjawab mengenai 5W1H tetapi juga kisah hidup semasa kecil, perjalanan hidup yang dilewati, pandangan dari orang-orang sekitarnya, sehingga dengan investigasi mendalam, berita yang menggunakan gaya penulisan naratif dapat menyentuh hati orang lain dan mampu membuat pembacanya membaca sampai akhir.

3. Sejenis feature yang ditulis berpola seperti orang bercerita

Lancar, mengalir, dan renyah ketika dibaca, seperti halnya saat kita membaca sebuah karya sastra. Bahasanya tidak kaku dan berat sebagaimana bahasa ilmiah, namun juga tidak dangkal sebagaimana tulisan straight news biasa. Pemilihan diksi yang tepat harus diperhatikan jika kamu ingin menulis dengan gaya jurnalistik naratif ini.

4. Riset mendalam dan melibatkan diri dengan subjek

Jurnalisme sastra membutuhkan waktu yang lama dalam melakukan reportase. Oleh sebab itu, data yang ada lebih akurat dan mendalam. Selain itu, para jurnalis sastra harus lebih mendekatkan diri kepada sumber berita agar data yang diperoleh semakin akurat serta memiliki tingkat kepekaan yang tinggi.

5. Jujur kepada pembaca dan sumber berita 

Pembaca merupakan hakim yang tidak boleh dibohongi penulis oleh karena itu, jurnalis harus menjaga hubungan baik dengan pembaca dan sumber berita.

Hubungan penulis dengan pembaca maksudnya penulis tidak boleh dengan sengaja mengkombinasi atau memperbaiki adegan demi adegan, mengagregasi karakter, memoles kutipan, atau mengubah keaslian materi liputan mereka. Ini yang membedakan jurnalis narasi dengan penulis fiksi.

Hubungan penulis dengan sumber berita maksudnya menyangkut cara mencari dan menjaga kepercayaan narasumber terhadap penulis. Penulis harus tetap bisa memperoleh informasi yang otentik berdasarkan kesepakatan dengan para narasumber seperti mitra bisnis, atau teman dekat.

6. Fokus pada peristiwa rutin

Untuk memudahkan penulis memperoleh bahan maka biasanya mereka mencarinya di tempat yang dapat dikunjungi dan berkaitan dengan berita yang akan dibuat. Misalnya mahasiswa gay ini suka pergi ke mana saja, tempat nongkrong nya di mana, dan lain-lain.

7. Menyajikan tulisan yang akrab-informal-manusiawi

Penulis harus menulis secara akrab, tulis ironis, keliru, penuh penilaian, dan manusiawi. Namun, tetap tanpa opini pribadi. Karena apa yang disajikan kepada pembaca adalah fakta.

8. Gaya penulisan yang sederhana dan memikat

Hal ini diperlukan untuk membuat pembaca tidak hanya melihat tetapi juga merasakan peristiwa.

9. Menggabungkan narasi primer dan narasi simpangan

Maksudnya adalah penulis menggabungkan antara kisah utama dengan kisah pendukung yang akan melengkapi laporan. Misalnya dalam contoh yang diungkapkan kak Haris, fokusnya seorang mahasiswa gay tapi kisah-kisah pendukungnya seperti kisah saat dia masih kecil, kisah saat dia remaja, ataupun kisah dari perempuan-perempuan yang pernah dekat dengan mahasiswa gay tersebut.

Kesimpulannya, struktur penulisan jurnalisme sastra adalah memiliki satu fokus namun ditulis dengan berbagai sudut pandang.

Sumber: Azri, Abdul Haris. Jurnalistik Naratif.

Komentar



error: Konten dilindungi!