Jika Informasi ini bermanfaat, jangan lupa share di medsos kamu :)

" />

Pengalaman Rivandi Pranandita Putra dan Tips Mendapatkan Beasiswa Erasmus Mundus (Lotus Project) di Universität Göttingen, Jerman

mt-sample-background

Alhamdulillah, setelah sekian lama, akhirnya saya berkesempatan menuliskan pengalaman saya ini, setelah cukup banyak “dicekoki” puluhan pertanyaan dari beberapa rekan saya tentang aplikasi saya ke program Erasmus Mundus ini. Bagaimana bisa sih, caranya, seorang anak ndeso bisa sampai belajar kesini segala??

Jujur nih, gemes juga dengernya kalau kebanyakan yang nanya. Nah daripada penasaran, dan saya merasa perlu membagikan pengalaman saya, maka pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan pengalaman (sekaligus perjuangan, halahh :p) saya untuk mendapatkan beasiswa penuh (full scholarship) dari Erasmus Mundus (biasa disingkat EM) program Lotus Unlimited untuk tipe mobility undergraduate exchange di University of Goettingen, Jerman.

Adapun program Erasmus Mundus merupakan sebuah program bergengsi Uni Eropa, berupa kerjasama dan mobilitas dalam bidang pendidikan tinggi dan kebudayaan yang bertujuan untuk mempromosikan Uni Eropa sebagai pusat keunggulan ilmu di dunia. Program ini didanai langsung oleh European Commision. Penerima EM disebut sebagai EM Awardee.

Perlu digarisbawahi, beasiswa ini termasuk beasiswa penuh, dimana seluruh biaya pendidikan, tiket pesawat PP dari home country ke host country, health insurance, dan uang bulanan 1000 Euro (kalau dirupiahkan mungkin sekitar 15,5 juta rupiah, untuk level S1 dan S2), 1500 Euro (untuk level Ph.D.), 1800 Euro (untuk Post-Doc), 2500 Euro (untukAdministrative and Academic Staff) akan ditanggung seluruhnya oleh European Commision.

Bahkan biaya tambahan seperti biaya airport tax, biaya pembuatan VISA, dll. bisa di-reimburse ke pemberi beasiswa sehingga kita sepeserpun tidak perlu mengeluarkan biaya. Ada beberapa macam program Erasmus Mundus, yang dibagi lagi menjadi EM Action 1 dan EM Action 2. Program EM Action 1 merupakan program pendidikan tinggi berupa project pendidikan langsung menjurus ke jenis program studinya, ada sekitar 116 program EM Action 1 yang ditawarkan; sedangkan project EM Action 2 merupakan program kerjasama antar institusi pendidikan Eropa dan negara lain di luar Uni Eropa.

Masa pendaftaran beasiswa EM Action 2 berbeda-beda dari satu proyek kerjasama universitas ke proyek lainnya. Pilihan program pasca sarjana yang ditawarkan lebih fleksibel dibandingkan dengan EM Action 1, tergantung dari ketersediaan courses di universitas yang dituju. Nah, terdapat banyak tipe mobility yang ditawarkan untuk program EM Action 2, yaitu undergraduate exchange, master (exchange), master (full degree), PhD (exchange), PhD (full degree), administrative staff exchange, dan academic staff exchange.

Nah, karena saya tidak mungkin membahas semua penjelasan tentang program ini, maka untuk lebih jelasnya tentang program beasiswa EM Action 1 dan 2, apa saja program yang ditawarkan, bagaimana mekanismenya, bisa dilihat lebih lengkap di web ini -> (http://eacea.ec.europa.eu/erasmus_mundus/). Cekidot gan! Liat langsung ke web supaya tidak bingung. Hehehe.

Nowback to my story, menurut saya pribadi, proses pendaftaran beasiswa ini tergolong cukup SIMPEL, karena beasiswa ini hanya menyeleksi aplikan berdasarkan dokumen yang kita kirimkan saja, tanpa ada proses lainseperti psikotest dan wawancara. Mekanisme pendaftaran dilakukan secara online.

Cukup dengan membuat akun online, kemudian mengisi formulir online dan mengupload beberapa dokumen yang diminta saja, dan jika sudah selesai klik SUBMIT APPLICATIONThat’s all. Bandingkan dengan program beasiswa lain yang kebanyakan harus melalui seleksi wawancara dan lain-lain. Terdapat beberapa persyaratan wajib yang harus dipersiapkan, antara lain transkrip nilai, Europass CV (CV dalam format eropa), language certificate (English atau bahasa lain yang digunakan di host university), letter of motivation, surat rekomendasi dari dosen, serta beberapa dokumen pendukung lainnyaseperti sertifikat prestasi, seminar, kursus, dan lain-lain.

Meskipun tergolong simpel karena hampir semua project hanya melakukan seleksi berkas saja, namun dalam mengurus beasiswa ini kita juga dituntut untuk sabar dan teliti karena kita harus memaksimalkan semua dokumen-dokumen sebelum kita kirimkan. Dengan memahami kriteria penilaian beasiswa, kita bisa memaksimalkan dokumen persyaratan yang diminta. Namun pada dasarnya modal sabar menjadi sangat penting.

Dalam mengurus beasiswa ini, tentu akan banyak memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Misalnya saja, kita harus mengejar dosen pembimbing kita untuk membantu mengkonsultasikan motivation letter yang mungkin masih perlu kita konsultasikan, meminta surat rekomendasi ke beberapa dosen yang mengenal kita, mengurus pencetakan transkrip dalam bahasa Inggris ke akademik fakultas, mengurus surat-surat ke TU fakultas, dan lain-lain. Hal ini terkadang tidak semudah yang kita bayangkan, terlebih ketika dosen yang bersangkutan mempunyai jadwal yang cukup padat, belum lagi kita harus meminta tanda tangan ke beberapa orang yang berbeda yang mengharuskan kita kesana kemari.

Capek, itu pasti. Apalagi, urusan kita tidak hanya sebatas ini. Tentunya masih ada setumpuk kegiatan lain di kampus yang mesti kita lakukan. Iya kan? Nah disini nih, niat, kesabaran, dan ketelitian yang besar sangat diperlukan karena jika tidak memiliki ketiganya kita bisa berhenti di tengah jalan. Hal ini pernah dialami beberapa teman yang akhirnya memilih mengundurkan diri.

Selain itu, kita juga harus mengeluarkan dana yang mungkin tidak sedikit jumlahnya untuk print/ scan dokumen-dokumen, dan lain-lain. Dalam pendaftaran program ini, kita harus siap bersaing dengan aplikan yang lain yang mungkin mencapai ribuan jumlahnya. Tidak hanya bersaing dengan aplikan di dalam negeri, namun juga aplikan dari luar negeri karena terdapat kuota penerima beasiswa pada tiap project.

Pada tahun 2013 kemarin, saya mendaftarkan diri di tiga program Erasmus Mundus untuk tipe mobility undergraduate exchange (ketiganya program EM Action 2 yaitu program GATE, Lotus Unlimited, dan AREaS+). Sebagai informasi, tiap tahunnya aplikan hanya bisamendaftar ke 3 program EM; baik Action 1 ataupun Action 2. Jika kita nekat mendaftar di lebih dari tiga program EM, maka secara otomatis sistem akan bisa mendeteksi dan aplikasi kita akan ditolak.

Saya pribadi, mulai menyiapkan semua dokumen 4 bulan sebelum deadline (Januari 2014), dimana waktu tersebut saya gunakan untuk mengurus semua persyaratan di dalam dan di luar kampus, meminta surat rekomendasi ke dosen, membuat CV Europass, mengurus pembuatan transkrip dalam bahasa inggris di bagian akademik fakultas, berkonsultasi motivation letter ke beberapa dosen, update informasi terbaru Erasmus Mundus, men-scan semua dokumen seperti TOEFL dan dokumen pendukung seperti sertifikat kursus/ prestasi dan lain-lain sehingga saya mempunyai waktu cukup.Pada saat melakukan pendaftaran, saya mencoba memaksimalkan dokumen lain seperti sertifikat kursus/ kepanitiaan/ prestasi dengan tujuan untuk menarik pihak penyeleksi.

Disana, saya saya mengupload semua keterangan pengalaman organisasi, seminar/ konferensi, kursus, dan prestasi yang pernah saya raih selama ini. Kriteria penilaian padatiap-tiap project berbeda-beda. Pada program Lotus Unlimited, penilaian didasarkan pada motivation letter (30%), academic achievement (40%), dan language skills(30%).

Nantinya, aplikasi dari semua peserta di Asia akan diranking dan masuk ke tiga kategori, yaitu accepted (masuk ke dalam main list), waiting list (cadangan/ diterima apabila ada main list yang mengundurkan diri), dan rejected (tidak diterima). Jika kita masuk waiting list, maka kita masih memiliki harapan untuk lolos  dan yang bisa kita lakukan adalah berdoa supaya ada peserta main list yang mengundurkan diri, namun jika status kita rejected, kita tidak diterima dan mereka biasanya menjelaskan alasan kenapa kita tidak diterima.

Meskipun demikian, perlu diketahui juga bahwa kriteria penilaian beasiswa ini bukan hanya dilihat dari keaktifan di dalam kampus tapi juga di luar kampus. Dibutuhkan waktu sekitar 2-3 bulan dari deadline hingga pengumuman hasil penerimaan beasiswa. Pengumuman dilakukan melalui email masing-masing aplikan. Setelah sekian lama berjuang dan menunggu, sekitar 2-3 bulan biasanya kita akan mendapatkan email mengenai status kita, apakah kita diterima, masuk waiting list, atau rejected. Oh iya, tadi kan saya bilang, kalau kita bisa mendaftar maksimal 3 program Erasmus.

Hal ini biasanya dilakukan untuk memperbesar kemungkinan lolos. Masalahnya, bagaimana kalau kita diterima di lebih dari 1 program? Kita harus memilih salah satu program yang ingin kita ambil. Tanpa bermaksud untuk pamer, saya hanya ingin membagikan contoh kasus saya, kebetulan saya kemarin mendaftar tiga program EM; dan alhamdulillah saya diterima di dua program EM yaitu program GATE di Universidad Politecnica de Valencia, Spain (10 bulan mobilitas) dan University of Goettingen, Germany (6 bulan mobilitas).

Sedangkan untuk program AREaS+, status saya rejected (tidak diterima). Jika kasusnya seperti saya, maka saya harus memutuskan dan memilih program mana yang ingin saya jalani dan melepas salah satu, apakah GATE atau Lotus. Sebagai informasi, karena deadline masing-masing program (GATE, Lotus, AREaS) berbeda, maka waktu pengumumannya pun berbeda.

Pengalaman saya, pengumuman GATE lebih awal dan saat dinyatakan diterima, batas maksimal konfirmasi sekitar 15 hari, sedangkan saat mendekati hari ke-15 saya belum mengkonfirmasi karena masih menunggu pengumuman Lotus dan AREaS. Saya agak ragu ketika itu belum ada pengumuman sama sekali dari pihak Lotus dan AREaS, sedangkan GATE harus segera dikonfirmasi, apakah saya bersedia menerima beasiswa itu atau tidak.

Karena beberapa pertimbangan dan saran dari orang tua, akhirnya dengan sangat berat hati saya melepas program GATE. Meskipun hati saya memilih UPV sebagai tempat exchange dan saya suka suasana Spanyol. Sebuah pilihan yang nekat telah saya ambil, ini gila, karena Lotus dan AREaS belum tentu diterima. Namun ternyata Allah berbaik hati memberikan saya jalan lain. Alhamdulillah saya juga diterima di program Lotus Unlimited di University of Goettingen, Germany setelah dengan berat hati melepas program GATE.

Nah, kalau kalian ingin mendapatkan kesempatan lebih besar, silahkan bisa mendaftar maksimal tiga program Erasmus. Setelah saya men-confirm kesediaan saya menerima beasiswa Lotus, beberapa hari kemudian saya mendapatkan Letter of Acceptance dari pihak Lotus yang menyatakan saya resmi diterima beasiswa. Dokumen tersebut digunakan untuk mengurus VISA: Pada tahap ini,saya mulai mempersiapkan VISA, sementara itu untuk tiket pesawat dana asuransi sudah dipersiapkan oleh pihak Lotus.

Untuk penerima beasiswa, akan mendapatkan akun online (kita sebut GHP/ Grant Holder Pages), yang mana dalam GHP tersebut digunakan untuk berkomunikasi antara penerima beasiswa untuk seluruh tipe mobilitas, mengupload data-data seperti hasil studi, boarding pass, dan lain-lain. Penerima beasiswa akan mendapatkan studi gratis selama 6 atau 10 bulan untuk tipe mobility undergraduate exchange, tiket pesawat pulang-pergi gratis, living cost 1000 euro perbulan, asuransi kesehatan, sertifikat penerima beasiswa, transkrip nilai dari host university, dan tentu saja sejuta pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Disini, saya tidak hanya belajar bersama mahasiswa Jerman, namun belajar bersama ratusan mahasiswa dari berbagai negara, seperti Amerika, Nigeria, Kanada, Meksiko, Italia, Spanyol, India, Ghana, Polandia, Turki, Iran, Kamboja, dan masih banyak lagi. Proses pengajaran disini menggunakan bahasa Jerman dan Inggris. Untuk program S1, kebanyakan diajarkan menggunakan bahasa Jerman, sedangkanuntuk program master (S2) dan doktoral (S3) diajarkan dalam bahasa Jerman dan Inggris. Namun jangan kuatir, di University of Goettingen, tersedia kursus bahasa Jerman gratis untuk mahasiswa penerima beasiswa Erasmus Mundus sebelum kegiatan perkuliahan dimulai.

Lumayan kan bisa menambah koleksi bahasa asing sepulang kita dari sini. Saya merasa mempelajari kedua hal ini sangat berguna terutama ketika kita berinteraksi dengan masyarakat sekitar dimana mayoritas masyarakat menggunakan bahasa Jerman dalam percakapan sehari-hari. Meskipun tidak terlalu menguasai bahasa ini, setidaknya saya menguasai kata-kata sehari-hari yang biasa dipakai. Saya merasakan hal ini sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari.

Mau tau tentang kegiatan perkuliahan disini? Oke akan saya ceritakan sedikit yah. So far so good, kegiatan perkuliahaan saya disini baik-baik saja, meskipun saya masih merasa agak “shock” dengan sistem pembelajaran yang benar-benar berbeda dengan di Indonesia. Disini, kita dituntut untuk aktif. Di dalam kelas, mahasiswa bahkan saling unjuk gigi untuk berpendapat dan enaknya, semua pendapat dihargai.

Disini, tidak ada absensi/ rekam jejak kehadiran kita saat kuliah. Penilaian hanya dilakukan melalui ujian akhir. Dan tidak ada yang namanya KRS. Tidak ada DPA (dosen pembimbing akademik). Kita hanya diberikan satu akun online (kita sebut StudentIP), disitu kita bisa memilih mau mengambil matakuliah apa saja, dan kita bebas masuk kelas yang kita sukai.

Tidak pernah masuk kelas pun tidak apa-apa selama satu semester asalkan si mahasiswanya mampu mengerjakan tugas akhir. Namun yang saya salut dari mereka adalah kedisiplinan. Sangat jarang saya jumpai mahasiswa yang absen tidak masuk kelas, meskipun tidak ada presensi seperti di Indonesia, sehingga mereka masuk kelas itu bukan karena sekedar mengisi presensi, namun karena kesadaran dan kebutuhan akan ilmu. Tentang kehidupan disini, asyik kok! Kita bisa berinteraksi dengan banyak orang, merasakan iklim yang berbeda (yang ditunggu-tunggu: SALJU!), merasakan kejamnya hawa musim dingin di Eropa, dan yang paling asyik, kita bisa jalan-jalan keliling negara-negara Eropa. Cukup dengan VISA Schengen, kita bisa bebas berkunjung ke 28 negara yang tergabung dalam kesatuan Uni Eropa (EU Countries).

Kita bisa melihat indahnya menara Pisa di Italia, romantisnya suasana di sekitar Menara Eiffel di Paris Perancis, bisa melihat aurora di musim dingin Finlandia, kincir angin dan indahnya tulip di Belanda, dan lain-lain. Semua itu bisa saya lakukan ketika weekend, saat libur hari Sabtu-Minggu. Itu sedikit tentang kehidupan disini, mungkin pada kesempatan yang lain akan saya tulis di note yang lain.

Dalam tulisan ini juga, saya pribadi memiliki 17 saran sekaligus tips bagi kalian yang memang benar-benar berminat apply program Erasmus Mundus ini, diantaranya:

  1. Berusaha kuat untuk sabar dan tekad yang besar. Sebagian teman yang awalnya mempunyai niat besar belajar di luar negeri merasa sibuk dengan urusannya masing-masing dan akhirnya memilih mengundurkan diri dari melamar beasiswa ini. Padahal mereka sudah melengkapi sebagian persyaratannya. Mereka merasa tidak sanggup karena mereka pikir persyaratannya terlalu complicated. Padahal kebanyakan beasiswa luar negeri yang ditawarkan memang seperti itu, membutuhkan banyak persyaratan yang harus disiapkan untuk mencari mahasiswa sesuai kriteria penyedia beasiswa, sehingga membutuhkan niat, kesabaran, serta usaha yang kuat dalam mengurusnya. Nah, secara tidak langsung, mereka menyeleksi dirinya untuk tidak diterima beasiswa. Padahal bagi penyedia beasiswa, persyaratan tersebut digunakan untuk referensi siapa diri kalian, apakah kalian orang pilihan yang sesuai kriteria mereka, atau bukan. Ingat! Tekad dan kemauan mengalahkan kecerdasan! 😀
  2. Kuasai bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Pastikan kita memiliki sertifikat IELTS atau TOEFL IBT; atau minimal TOEFL PBT dengan skor di atas 550. Merasa tidak mampu? Belajar! Manfaatkan kesempatan kursus dan pelatihan bahasa Inggris di kampus atau di luar kampus! Please noted, TOEFL is always being the best ticket for winning any foreign scholarships! Persyaratan satu ini memang nyaris selalu bisa dijumpai di setiap aplikasi beasiswa luar negeri (termasuk beasiswa Erasmus Mundus).
  3. Mulai mempelajari bahasa asing selain bahasa Inggris. Ikutilah kursus bahasa asing lain seperti bahasa Italia, Jerman, Spanyol, Belanda, Prancis, dll sesuai dengan negara yang kita ingin tuju. Kalau mau ke Jerman/Austria, ya ambil kursus bahasa Jerman; kalau mau ke Spanyol, ya kursus bahasa Spanyol; dan seterusnya. Jika kita sudah memiliki sertifikat tes bahasa asing tersebut, hal ini tentu akan menjadi nilai tambah di mata penyeleksi beasiswa. Ingat sob, pegang teguh prinsip bahwa bahasa Inggris saja tidak cukup! Learning foreign language is very nice!
  4. Jika kalian masih duduk di semester dimana masih mengambil kuliah, berusahalah mempertahankan IPK minimal kalian di angka 3,00, syukur-syukur kalau bisa lebih. 🙂 meskipun IPK bukan segalanya, tapi tetap harus diperhatikan batas minimal yang ditetapkan tiap host university.
  5. Pelajari persyaratan dan kriteria penilaian tiap project sedetail mungkin! Jika kalian mengetahui keduanya kalian akan mengetahui apa yang akan kalian lakukan. Terkadang ada informasi yang tidak kalian ketahui, seperti persyaratan passport bisa diganti dengan KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan sertifikat TOEFL/ IELTS bisa diganti dengan transkrip ESP LC. Hal-hal tersebut memang terkadang tidak tertulis di website resminya sehingga kita yang perlu aktif bertanya kepada mereka.
  6. Buat aplikasi EM kalian seawal mungkin!!! Buatlah akun online di web project yang akan kita daftar seawal mungkin. Pergunakan waktu untuk mengurus dokumen persyaratan sebaik mungkin! Jangan mepet deadline! Ingat, ini aplikasi kita ke orang luar negeri, jadi plis jangan bawa kebiasaan buruk “terlambat”. Tidak ada kata ampun buat keterlambatan. Pemberi beasiswa tidak segan-segan langsung menolak aplikasi kita jika kita apply beasiswa melebihi waktu deadline yang telah ditentukan.
  7. Jangan pernah ragu untuk bertanya kepada para alumni EM yang sudah mendapat pengalaman beasiswa! Biasanya di UGM, ada seminar/ promotional talk, atau sharing alumni tentang Erasmus Mundus yang diselenggarakan oleh Kantor Urusan Internasional (KUI), saya sarankan untuk datang (karena saya tahu program ini dari seminar). Sebaiknya rajin-rajinlah mengecek events yang diselenggarakan di KUI (website: http://www.oia.ugm.ac.id).
  8. Buatlah semenarik mungkin motivation letter (motlet) kalian, karena keduanya biasanya mempunyai kriteria penilaian yang  besar. Penyedia beasiswa akan membaca siapa diri kita di Motlet. Sebaiknya konsultasikan Motlet dengan dosen atau siapapun yang jago bahasa Inggris, terutama dalam hal grammar. Motlet dibuat jangan terlalu panjang, cukup sekitar 2 halaman A4, namun cukup meyakinkan pihak pemberi beasiswa kenapa mereka harus memilih kita. Buat motlet yang spesifik, termasuk rencana real apa yang akan kita lakukan selama mobilitas kita di Eropa (misalnya mau ambil tesis apa, mau ambil matakuliah apa saja, dll). Namun, jangan terlalu “menjual diri” disini, karena ini tentang motivasi kita, bukan pengalaman kita. Kalau mau “menjual diri”, lakukan itu di CV Europass. Ingat, motlet harus sepesifik!
  9. Buatlah CV Europass (CV dalam format Eropa) semenarik mungkin sesuai dengan format/ template yang ada. Lampirkan semua pengalaman organisasi, pengalaman kerja, riwayat prestasi, sertifikat seminar-seminar/ konferensi, kursus atau les yang pernah diikuti, dan lain lain yang pernah kita lakukan. Bagi yang pernah bekerja, ingat konsep “jual diri” seperti pada saat melamar pekerjaan. Ini akan menjadi nilai plus di mata Uni Eropa. Untuk format CV Europass, bisa didownload di website ini -> (https://europass.cedefop.europa.eu/en/documents/curriculum-vitae).
  10. Sertakan nilai plus yang kalian miliki seperti prestasi, pengalaman organisasi, karya tulis dan lain lain karena itu akan sangat membantu dan membedakan diri kita dengan orang lain! Sertakan surat aktif organisasi dan sertifikat prestasi! Jika pernah menerbitkan buku atau membuat PKM, lampirkan juga gambar karya tulis tersebut!; Namun ingat, semua dokumen harus di-translate dalam bahasa Inggris terlabih dahulu. Jangan pernah eman-eman mengeluarkan biaya untuk men-scan semua dokumen tersebut.
  11. Terkait recommendation letter, kalau bisa, sediakan lebih dari satu! Kita bisa meminta surat rekomendasi dari siapapun dosen yang mengenal kita. Rekomendasi bisa berupa rekomendasi dalam bidang akademik dan non-akademik. Bagi kalian yang pernah mengikuti LKTI/ PKM, mintalah surat rekomendasi ke dosen pembimbing kalian. Prinsipnya, semakin banyak surat rekomendasi, maka itu semakin baik!
  12. Kalau benar-benar ingin mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus ini, sebaiknya mendaftar di tiga program. Maksimalkan kesempatan yang diberikan Uni Eropa ini! Namun ingat maksimal hanya bisa mendaftar 3 program EM per tahun (harap diingat kalau mendaftar lebih dari 3 program nama kita akan di-black list oleh Uni Eropa). Ingat, kalau ada seribu peluang, kenapa hanya mengambil satu?
  13. Cermati satu persatu program studi yang ditawarkan di tiap host university. Bila perlu, kontak host university yang ingin kita tuju sebelum waktu deadline. Tanyakan persyaratan apa saja yang perlu dipenuhi disana sehingga kita bisa menyesuaikan pilihan universitas sesuai dengan kemampuan kita. Ada beberapa universitas yang meminta IPK/ TOEFL lebih rendah, dan banyak yang menetapkan standar yang lebih tinggi. Namun pada dasarnya semua sama, karena banyak universitas-universitas di Eropa yang sudah diragukan lagi kualitasnya, bukan? 😀
  14. Nah, pada saat mengisi form online, kita akan diminta untuk mengisi pilihan 1, pilihan 2 universitas yang akan dituju di Eropa. Sebisa mungkin isi keduanya, untuk memperbesar kemungkinan lolos. Pengalaman saya, waktu aplikasi GATE kemarin, saya tidak diterima di pilihan 1, namun ternyata lolos di pilihan kedua.
  15. Pada saat pemilihan program studi, kita bisa menentukan, apakah akan linear sesuai dengan jurusan kita sekarang atau tidak. Namun ingat, ilmu yang dipilih harus terkait. Ingat, pemilihan program studi kita akan menentukan diterima tidaknya kita di program beasiswa ini. Misalnya, saya dari pertanian bisa memilih program studi Biologi, Environmental Science, dll namun tidak untuk prodi Teknik Sipil/Mesin karena tidak saling terkait. Nah, kalau misalnya kamu sekarang belajar di program studi Kedokteran, mungkin bisa ambil linear atau ilmu lain namun yang tetap segaris seperti biologi atau MIPA.
  16. Pastikan kalian selalu update informasi terkini terkait dengan beasiswa yang akan dilamar. Jangan lupa pelajari kriteria penilaian yang mereka tetapkan, berapa persen untuk rekomendasi, berapa persen untuk akademik, berapa persen untuk bla bla bla… In principal, ikuti saja apa yang mereka mau. 🙂
  17. Ini nih yang paling penting: berdoa, berserah diri apapun hasilnya! PD aja guys! Gak usah takut! Stay cool, tetap optimis dan yakin. Kita tentu tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi. Ingat prinsip “Nothing’s Impossible!”. Yang terpenting, kita sudah ikhtiar, melakukan apa yang terbaik dan bertawakal. Toh kalau tahun ini tidak diterima, kita masih bisa daftar tahun depan! Just keep in fight, scholarships hunter! Tapi tetap jangan dijadikan beban yah 😉

Sekian pengalaman dan tips saya dalam melamar beasiswa ini. Man jadda wajadda. Jika kita bersungguh-sungguh, pasti Allah akan mengerti. Insya Allah hasil yang kita terima sebanding dengan usaha yang kita lakukan. Semoga tulisan saya yang sedikit ini bisa menginspirasi dan membantu. Ingat, Eropa menantimu, para hard workers!

Yang penting,Grab this chance as well! Disini saya mengatakan bahwa mendaftar program EM itu is not so difficult as people imagine! Kalau gak sekarang, kapan lagi bisa merasakan pendidikan dan kebudayaan di Eropa gratis? Trust me, everyone can be EM Awardee (kecuali bagi yang udah pernah tinggal lebih dari 12 bulan di Eropa selama 5 tahun terakhir).

Oh iya, untuk saat ini khusus untuk program EM Lotus Unlimited sudah berganti nama menjadi Lotus+ (Website -> http://www.lotusplus.eu). Bagi yang tertarik, silahkan pendaftaran sudah dibuka hingga Maret 2015. Untuk program lain selain Lotus+, telah dibuka juga pendaftaran program AREaS+ (Website -> http://www.areas.polito.it/).

Apapun hasilnya, setidaknya pernah mencoba lebih baik daripada tidak sama sekali kan? 🙂 Oiya, bagi temen-temen yang udah lulus S1, mungkin bisa apply untuk Master Program. Bagi yang sudah lulus S2, tidak ada salahnya kan untuk apply program Ph.D.?

Oh iya, btw, ini hanya pengalaman pribadi saya, mungkin ada EM awardee yang memiliki pandangan berbeda. Jadi jangan ditelan mentah-mentah ya 😀 Bagi EM awardee yang mungkin ada yang membaca note ini dan ada catatan saya yang salah atau berkenan di hati, mohon dikoreksi ya.  Sekian. Matur nuwun, danke sehrmerci, gracias, yang udah mau baca note saya sampe akhir. Das ist alles.

Goettingen, 27 November 2014

Salam hangat di tengah suhu yang semakin dingin,
Rivandi Pranandita Putra

Undergraduate Student, Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Indonesia

Undergraduate Exchange Student Mobility, Fakultät für Agrarwissenschaften, Georg-August-University of Goettingen, Germany

Komentar



error: Konten dilindungi!