Mahasiswa Stress & Depresi: Bagaimana Universitas Menangani Hal Ini?

14199661_10207291670719236_7814371080435264619_n

Foto ini adalah salah satu sudut Hampton House, University of Bristol Health Service.

Disini, stress dan depresi dianggap sebagai masalah sangat serius dan ditangani dengan serius. Penyebabnya bermacam-macam. Pressure/ tekanan yang sangat tinggi, bahasa yang berbeda (apalagi aksen Inggris terkenal cukup susah dicerna), sistem pendidikan yang berbeda, standar pendidikan yang tinggi, standar penilaian tugas/paper yang juga tinggi, homesicknes, lelah, tugas dan presentasi silih berganti, membuat banyak sekali mahasiswa yang pada akhirnya stress dan depresi. Pernah ketika sedang mengerjakan paper di study space, tiba-tiba ada seorang mahasiswa yang berteriak sambil memegang kepalanya, ada pula yang membentur-benturkan kepala ke tembok. Usut punya usut, dia stress karena akan mengadapi ujian. Saya sendiri pernah saking depresinya tiba-tiba menangis sesenggukan di tengah mengerjakan. Hingga beberapa mahasiswa yang duduk di sekitar saya mendekati dan berkata “do you want to talk to me?

Aih, jadi ingat drama korea Love Story in Harvard yang di beberapa scene nya mengisahkan betapa depresinya mahasiswa disana. Dan ternyata ini benar, saya sendiri merasakannya.

Beruntung, universitas sangat concern terhadap hal ini, salah satunya adanya layanan konseling dengan psikolog di health centre di universitas saya. Gratis. Selain itu, setiap mahasiswa memiliki seorang personal tutor yang merupakan seorang dosen yang akan memantau setiap perkembangan mahasiswa. Personal tutor ini akan mengatur jadwal konsultasi antara mereka dengan mahasiswa yang mereka pantau. Personal tutor saya, misalnya.

Bulan-bulan awal kuliah, saya merasa sangat inferior, seperti remahan rempeyek yang terlindas truk saat melihat mahasiswa native speaker sudah berbicara di kelas. Selain karena bahasa Inggris mereka sangat fasih (maklum lah ya bahasa ibu), critical thinking mereka juga sangat bagus. Sehingga saya yang mau menyampaikan apa saja masih harus mikir ini ngomongnya gimana ya, mendadak menjadi ciut, stress, cemas, depresi, merasa tidak akan bisa bertahan.

Bulan-bulan awal saya begitu tertekan hingga saya memutuskan menemui Dr. Woodfield, personal tutor saya. Selain memberikan semangat, beliau juga melakukan hal yang saya tidak mengiranya : di mata kuliah yang diampunya, beliau akan sedikit-sedikit melempar pertanyaan kepada saya ” Mimi, what do you think?” saat sedang mendiskusikan sesuatu. Belakangan saya tahu bahwa beliau sengaja melakukan itu untuk ‘melatih’ dan ‘memberikan ruang’ agar saya bisa ‘show off’ di kelas, sebelum ‘diserobot’ mahasiswa native. Hingga akhirnya sayapun terbiasa.

Stress dan depresi memang tidak bisa dianggap biasa, namun sayangnya, banyak orang yang masih menganggapnya bukan sebagai hal yang serius. Katakanlah di Indonesia (bukan bermaksud menjelekkan Indonesia, justru ini agar kedepannya ada perbaikan).

Ketika ada mahasiswa/siswa yang di kelas terlihat diam saja, seringkali kita memberinya label : ‘mahasiswa kok nggak berani ngomong!’ atau langsung diberi nilai rendah tentang keaktifan di kelas. Padahal bisa jadi ia mengalami seperti yang saya alami. Tapi ia hanya menyimpannya sendiri karena tidak berani mengungkapkan yang ia rasakan. Mungkin saja ia berniat mengungkapkan, hanya saja budaya bullying di negeri kita kadang membuat seseorang enggan menceritakan masalahnya.

Padahal sejatinya orang stress dan depresi itu butuh orang lain untuk mendengarkan keluh kesahnya, bukan orang yang langsung menghakiminya dengan pandangan negatif, bukan juga orang yang setelah mendengar masalahnya justru menertawakannya.

Percayalah, saat ada orang lain yang mendengarkan tanpa menyalahkan, itu sangat membantu untuk mengurangi rasa stress dan depresi yang menghantui. Saya, memang terlihat baik- baik saja. Narsis- narsis saja di setiap foto yang saya unggah. Padahal entah berapa kali saya menangis di kantor Dr. Woodfield saat saya menceritakan keluh kesah saya. Tapi begitu keluar ruangan, ada rasa plong luar biasa.

Setiap melihat seseorang murung, sedih, gelisah, seringkali orang-orang disini menawarkan : “Do you want to talk to me?“, “Do you need somebody to talk?“, atau “You can talk to me“. Karena memang itu tadi, orang disini mengerti bahwa orang stress dan depresi itu butuh orang untuk meluapkan isi hatinya, bukan orang yang menghakimi dan menyalahkannya. Bukan pula orang yang sedikit- sedikit mengatakan orang stress = orang yang “LEMAH IMANNYA” 🙂

Penulis : Fissilmi Hamida

Komentar



error: Konten dilindungi!