7 Jenis Wawancara Kerja yang Setiap Fresh Graduate Perlu Ketahui

ilustrasi-situs

Jika Anda baru lulus perguruan tinggi (fresh graduate), Anda mungkin bingung atau stres menghadapi wawancara kerja pertama Anda. Sebesar apa pun kebingungan atau rasa stres tersebut, mengetahui jenis-jenis wawancara kerja yang biasa dilakukan perusahaan merupakan langkah baik.

Mengapa? Pertama, Anda akan bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik. Kedua, Anda akan lebih percaya diri saat wawancara kerja sehingga bisa lebih baik dari kandidat lain. Terakhir, Anda lebih bersemangat menghadapi wawancara kerja.

Untuk membantu Anda wewujudkan ketiga manfaat tersebut, berikut 7 jenis wawancara kerja yang perlu Anda ketahui.

1. Wawancara Standar

Wawancara standar atau tradsional merupakan tipe wawancara kerja yang paling sering digunakan. Saat menjalani wawancara ini, Anda umumnya akan diwawancarai oleh seorang pewawancara. Dia bisa merupakan staf personalia, manajer departemen, atau utusan departemen.

Pertanyaan yang diajukan bertujuan mengetahui atau menguji apakah Anda kandidat yang tepat. Beberapa pertanyaan yang biasa diajukan adalah:

  • Ceritakan tentang diri Anda?
  • Mengapa Anda ada di sini sekarang?
  • Berada di mana Anda dalam lima tahun ke depan?

Sebagai contoh, Anda bisa menjawab pertanyaan “Ceritakan tentang diri Anda?” dengan rumus Sekarang-Masa Lalu-Masa Depan. Lebih rincinya, ceritakan posisi Anda sekarang, informasikan pengalaman dan keterampilan Anda, dan utarakan mengapa Anda tertarik bekerja di perusahaan tersebut.

Jika Anda seorang lulusan Jurusan Kimia, jawaban dengan rumus tersebut mungkin seperti ini:

“Saya lulusan Kimia dari Universitas Padjajaran. Saat penelitian, saya mensitesis katalis plastik dari bahan organik. Katalis yang dihasilkan dikarakterisasi dengan ICP dan NMR. Hasil uji aplikasi katalis menunjukkan bahwa rendemen plastik lebih banyak 10% dibanding rendemen katalis konvensional. Pengalaman dan keterampilan saya dalam membuat katalis plastik tersebut menjadi alasan saya tertarik bekerja di PT Plastik Jaya.”

2. Wawancara Perilaku

Wawancara perilaku (behaviour interview) fokus pada perilaku masa lalu Anda untuk memprediksi perilaku masa depan Anda. Sejumlah perusahaan menyukai jenis wawancara ini karena mereka menganggap perilaku sangat mempengaruhi kinerja seseorang. Dengan kata lain, kandidat yang perilakunya baik di masa lalu, akan baik juga di masa depan sehingga dia dapat bekerja dengan baik.

Di tipe wawancara ini, pewawancara bisa menanyai Anda dengan pertanyaan seperti ini:

  • Apa keberhasilan terbesar Anda?
  • Apa kegagalan terbesar Anda?
  • Apa yang Anda lakukan ketika sedang tidak kuliah?
  • Bagaimana cara Anda menyelesaikan tiga tugas kuliah yang berbeda?

Kunci menjawab pertanyaan wawancara perilaku adalah dengan menggunakan teknik STAR (situationtaskaction, and result). Anda menyebutkan situasi yang dihadapi, tugas yang didapatkan, tindakan yang dilakukan, dan hasil/pelajaran yang Anda peroleh.

Contoh penerapan teknik STAR ini bisa Anda lihat di postingan Cara Membuat Jawaban Wawancara Kerja yang Baik dan Berbobot.

3. Wawancara Situasional

Berbeda dengan wawancara perilaku, wawancara situasional fokus pada kinerja masa depan Anda. Umumnya, pewawancara kerja akan memberi Anda sebuah masalah dan bertanya bagaimana cara Anda menyelesaikan masalah tersebut.

Contoh masalah:

Atasan Anda sedang di luar kota karena tugas perusahaan selama empat hari kerja. Saat berada di luar kantor tersebut, dia menugaskan Anda menulis sebuah laporan untuk seorang klien, dan dia meminta draf laporan itu selesai dalam dua hari. Pada tenggat hari yang ditentukan, setelah mengerjakan draf tersebut, Anda berpikir semuanya sudah lengkap. Namun, ketika Anda mengecek email terbaru dari atasan Anda, ada beberapa pertanyaan yang jawabannya akan sulit dimasukkan dalam draf laporan tersebut. Apa yang akan Anda lakukan?

Apa pun masalah yang akan diberikan pada Anda, kiat menjawabnya adalah:

  • Jujur dan spesifik
  • Ketahui masalah, jelaskan solusi, dan tindakan yang akan Anda lakukan.
  • Jika masalah terkait keahlian Anda, masukkan keahlian tersebut dalam jawaban Anda untuk menunjukkan bahwa Anda akan mampu menyelesaikan masalah tersebut.

4. Wawancara Kasus

Wawancara kasus umumnya digunakan perusahaan konsultan. Wawancara ini fokus pada bagaimana Anda menyelesaikan sebuah atau beberapa isu bisnis yang spesifik. Pertanyaan yang diajukan bisa berupa pertanyaan kuantitatif untuk mengetahui bagaimana Anda menangani kasus yang diberikan.

Beberapa contoh kasus pada wawancara jenis ini adalah:

  • Sebuah bank online tumbuh dengan baik, namun bank tersebut belum untung karena belum bisa mencapai target profit. Apa yang salah dengan bank tersebut?
  • Anda menjadi konsultan untuk salah satu toko sepatu terbesar di kota Anda. Penjualan toko tersebut mulai turun dan manajemen toko berpikir untuk menjual makanan cepat saji di lokasi toko. Apa yang akan Anda rekomendasikan pada manajemen toko sepatu tersebut?
  • Anda menjadi konsultan untuk sebuah firma kecil yang menjual produk berkualitas dan ternama. Sebuah perusahaan besar mulai menjual produk sejenis dengan menggunakan teknonologi terbaru. Apa saran Anda untuk pemilik firma tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan wawancara kasus, bagi jawaban Anda menjadi lima bagian:

  • Identifikasi masalah – Tulis masalah dalam buku atau kertas yang disediakan.
  • Ketahui faktor yang yang terlibat – Identifikasi faktor-faktor yang terlibat pada masalah tersebut. Faktor ini bisa berupa sistem, peralatan, material, orang, kustomer, dan lain-lain.
  • Indentifikasi penyebab – Untuk setiap faktor yang Anda tulis pada langkah di atas, tulis sejumlah penyebab terkait faktor tersebut. Sebagai contoh, penyebab yang mungkin untuk faktor peralatan adalah rusak atau tidak dikalibrasi.
  • Pilih solusi terbaik – Dari sejumlah penyebab, tentukan penyebab utama dan solusinya. Jelaskan juga alasan Anda mengambil soulis tersebut. Jika diperlukan, buat diagram alir soulis tersebut lengkap dengan pemantauannya.
  • Informasikan pelajaran yang diperoleh – Informasikan pelajaran apa yang Anda peroleh dari kasus tersebut.

5. Wawancara via Telepon

Wawancara ini biasanya dilakukan perusahaan asing yang lokasinya tidak berada di negara si kandidat. Sebagai contoh, Anda melamar posisi Chemist di perusahaan asing yang berlokasi di Australia. Si perusahaan asing tersebut akan mewawancarai Anda via telepon yang umumnya sebagai saringan pertama apakah Anda kompeten atau tidak untuk mengikuti wawancara selanjutnya.

Meskipun via telepon, Anda tetap harus menjalani tipe wawancara ini dengan sebaik-baiknya. Persiapkan diri Anda layaknya akan menjalani wawancara tatap muka.

6. Wawancara Presentasi

Dalam wawancara presentasi, Anda akan diberi sebuah isu bisnis dan diminta mempresentasikan solusi ke satu atau lebih karyawan perusahaan. Waktu yang diberikan kepada Anda adalah 30 menit. Alokasinya adalah 15 menit untuk persiapan dan 15 menit untuk presentasi.

Kunci sukses menjalani wawancara ini adalah mempersiapkan bahan presentasi dengan cepat (maksimal 10 menit). Dalam lima menit pertama persiapan Anda, buat garis besar masalah dan tulis sejumlah solusi potensial yang muncul di kepala Anda.

Dalam lima menit kedua, lingkari solusi yang menurut Anda paling baik dan tulis poin-poin cara mengaplikasikan solusi tersebut. Saat menulis poin-poin tersebut, identifikasi juga sumber daya yang Anda perlukan. Gunakan sisa waktu 20 menit untuk mempresentasikan solusi tersebut.

7. Wawancara Panel

Biasanya, dalam wawancara panel Anda akan diwawancara oleh lima pewawancara. Mereka akan menanyakan beragam jenis pertanyaan. Kuncinya, jangan gugup kalau Anda menghadapai wawancara jenis ini. Gunakan teknik-teknik menjawab yang telah saya uraikan pada jenis wawancara kasus, situasional, atau perilaku.

Dengan mengetahui jenis-jenis wawancara kerja di atas, Anda yang notabene fresh graduate bisa percaya diri menghadapi wawancara kerja di perusahaan apa pun. Jika memungkinkan, beli satu atau dua buku yang membahas pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di suatu wawancara kerja. Persiapkan juga dokumen-dokumen terkait yang sekiranya akan ditanyakan pewawancara kerja.

Komentar