5 Hal yang Perlu Anda Ketahui tentang Mahasiswa PhD/S3

phd-survivor

Pagi itu, Alex menenteng dua raket squashnya menuju gedung School of Math, University of Bristol. Salah satu dari 50 kampus terbaik di dunia [1]. Dengan sigap, lelaki asal Manchester ini menuju laboratorium School of Math bergabung dengan rekannya, seorang PhD student yang lain, untuk menjadi tutor di kelas Computational Math. Alex terlihat antusias, tentu saja karena iming-iming gaji menjadi Teaching Assistant [2] yang besarnya 2 kali lebih besar dibanding minimum wage UK [3]. Setiap harinya, Alex hanya akan berada di office miliknya dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore. Itupun jika Alex sedang rajin. Waktunya sebagai PhD student tentu sangat flexibel. Dia bisa datang ke kampus sesukanya. Bisa juga meliburkan diri sesukanya. Lain waktu, Alex akan menghabiskan evening-nya dengan dinner bersama rekan satu grup risetnya atau nongkrong di bar and restaurant favorit mereka yang langsung berhadapan dengan indahnya cahaya lampu Bristol Suspension Bridge di Clifton Village. Jika bertemu dengan rekan-rekan semasa kuliahnya. Alex akan dipuji habis-habisan.

“Wow.. You are super smart! You got a full 4 years scholarships from ESPRC UK [4] and dealing with a brilliant research regarding climate change modelling. That is impressive.”

Ini adalah cerita Alex. Kisah nyata tentunya, bukan mengada-ngada. Menjadi mahasiswa S3 seperti Alex adalah fragmen kehidupan yang mungkin terlihat mengagumkan, brilliant, dan adalah pekerjaan bagi mereka yang super smart. Namun sayang, diluar pandangan orang tentang kerennya menjadi mahasiswa S3, apalagi di kampus-kampus terbaik di dunia, tidaklah seindah mereka yang menjalaninya. Dari data council of graduate school, USA, hanya sekitar 40 hingga 57% PhD student yang berhasil menyelesaikan studi doktoralnya. Yang lebih mencengangkan lagi, hanya 35% yang lulus dalam kurun waktu dibawah 5 tahun [5]. Sisanya, mereka menempuh dalam waktu 10 tahun atau berhenti sama sekali. Lalu apa saja sebenarnya hal-hal yang jarang Anda ketahui tentang mahasiswa S3?

(1) Merasa yang paling bodoh

Sama seperti Alex, rasanya saya sering mendapatkan cerita yang sama dari rekan-rekan sesama PhD student tentang betapa “tinggi”nya pandangan orang lain tentang derajat kecerdasan seorang PhD student. Kata-kata seperti “you must be really smart” dan sejenisnya memang sering sekali terdengar. Namun tahukah Anda, sebagian besar PhD student selalu merasa paling bodoh. Berhadapan dengan sesama rekan labnya yang “terlihat” lebih cerdas saja sudah sangat mengintimidasi mereka apalagi jika sedang berdiskusi langsung dengan supervisor mereka. Dijamin setelah itu mereka merasa menjadi orang paling bodoh di dunia (nah ini mungkin agak lebay!).

Dalam sebuah essay yang ditulis Martin Schawz di Journal of Cell Science, justru stupidity adalah hal yang penting untuk dirasakan dan dimiliki oleh seorang PhD research students [6]. Merasa bodoh cenderung membuat mereka terus bertanya dan mengexplore kemampuan mereka. Setiap peneliti sepertinya menyadari hal yang sama, bahwa the stupidity dalam dunia riset itu penting. Masalahnya adalah, seberapa tahan dan terbiasa Anda dengan perasaan merasa bodoh ini?. Bagi yang sudah terbiasa, mereka mungkin akan menjalani hari-hari risetnya dengan normal, tapi bagi yang merasa tertekan dengan perasaan bodoh ini, suatu waktu akan memutuskan berhenti dan memilih jalur karir yang lain. Seperti rekan Mr. Schawz yang akhirnya berhenti dari studi S3nya dan memilih mengambil master di Harvard law school yang kemudian mengantarkannya memiliki karir cemerlang sebagai pengacara.

Jadi jika ingin menjadi PhD student, bersiaplah untuk terus merasa bodoh. Tentu saja disepanjang studi S3 kalian. It is indeed not an easy task to deal with.

(2) Pekerja dengan gaji rendah

Jangan dikira mendapat kesempatan sebagai sponsorships PhD student di Universitas akan menjamin kualitas finansial Anda di atas rata-rata. Sebaliknya, menjadi “pekerja” di akademia, justru memiliki pendapatan dengan nilai yang cukup rendah dibanding ketika kalian memilih karir profesional setelah lulus S1. Data yang dikeluarkan oleh Association Graduate Recruiters (AGR), UK menunjukkan bahwa gaji seorang sarjana Teknik (tahun 2014-2015) yang bekerja di bidang Engineering berkisar di nilai GBP 25,750/tahun atau sedikit lebih rendah jika dibanding jika Anda bekerja di bidang IT dengan gaji GBP 28,500/tahun. Bandingkan dengan rata-rata gaji seorang sponsorship PhD student di Oxford University yang hanya berkisar di angka GBP ~16,000 per tahun [7]. Nilai ini tidak jauh beda dengan jumlah beasiswa yang didapatkan oleh penerima beasiswa LPDP dari Indonesia: GBP ~18,000/tahun. Atau jika dibandingkan dengan Swedia, gaji seorang PhD student di KTH royal Institute “hanya” sekitar KR 330,000/tahun, sedikit dibawah gaji rata-rata orang Swedia yaitu KR 360,000/tahun [8].

Saya yakin, banyak dari rekan-rekan saya yang sedang menjalani studi S3nya saat ini akan memiliki pendapatan yang lebih baik dari posisi mereka sekarang jika mereka memilih jalur profesional. Seperti rekan PhD student di lab saya dari China yang akhirnya mengundurkan diri dan memilih bekerja di perusahaan konstruksi terbesar di UK karena alasan finansial.

(3) Supervisor yang tidak bisa diprediksi

Katie Edwards, dalam sebuah tulisannya tentang 10 fakta yang tidak akan pernah diberitahu supervisor S3 kepada mahasiswanya, dengan gamblang menggaris bawahi persoalan hubungan mahasiswa dengan supervisor S3nya. Tidak bisa dipungkiri, untuk menghasilkan sebuah karya riset S3 yang berkualitas, seorang PhD candidate dituntut untuk membawa ide yang brilliant, yang punya novelty, dan mampu dikerjakan dalam waktu yang reliable (3-5 tahun). Sebaliknya, banyak kasus selama menjalani studi S3, sebagain besar mahasiswa S3 justru tidak memiliki hubungan yang baik dengan supervisornya. Supervisor mereka hanya peduli dengan karir dan publikasi, sedangkan jarang memberikan input yang membangun kepada mahasiswanya. Jadi jangan heran jika tulisan Anda bisa ditinggal berbulan-bulan tanpa dibaca sedangkan deadline penyelesaian PhD thesis Anda semakin dekat [9].

Jika Anda beruntung, Anda bisa mendapatkan supervisor yang menyenangkan. Yang selalu menyediakan waktunya tiap pekan untuk berdiskusi, yang memberikan kalian pekerjaan sebagai TA, atau menyisihkan uang proyek risetnya agar Anda bisa jalan-jalan lewat konferensi yang Anda ikuti. Untuk hal yang pertama, negara-negara di Asia Timur (Jepang, Taiwan dan Korea) sepertinya sedikit lebih baik karena paling tidak ada weekly meeting di setiap grup riset. Akan tetapi, pola pendidikan umum yang ada di UK tidaklah begitu. Pertemuan dengan supervisor sangat ditentukan dengan ketersediaan waktu supervisor Anda. Belum lagi masalah tuntutan untuk menghasilkan riset-riset yang bagus. Apalagi jika Anda berada di kampus-kampus terbaik di dunia. Kriteria word class research harus Anda capai agar bisa lulus sebagai seorang Doctor, jika tidak, Anda akan mengalami pressure yang tidak mudah untuk bisa mencapainya. Tidaklah heran jika ada saja yang akhirnya harus DO ketika melewati sidang tahun pertama atau terpaksa gagal mendapatkan gelar PhD karena tidak lulus di sidang viva PhDnya.

(4) Tidak siap menjadi seorang PhD student

Karena tidak punya opsi lain melanjutkan karir, ditambah dengan sulitnya mencari pekerjaan yang tepat, banyak dari para PhD student yang akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studi S3. Setidaknya hal ini saya lihat dari rekan-rekan negeri Tiongkok yang bertebaran di lab-lab di seluruh UK dan mungkin saja di Amerika. Ada beberapa pertanyaan penting yang harus Anda ketahui sebelum menjadi seorang PhD student [10]:

(a) Apakah Anda memiliki alasan personal yang cukup dan memuaskan untuk melanjutkan S3?

Jika hanya karena ingin selamat dari dunia pencarian kerja dan sejenisnya sebaiknya jangan melanjutkan S3.

(b) Apakah Anda pekerja keras selevel dengan tingkat kecerdasan Anda?

Tidak bisa dipungkiri, menjadi PhD student membutuhkan kemampuan otak yang cukup untuk berfikir karena disepanjang periode studi kita, kita akan senantiasa dituntut untuk belajar dan mencari tahu hal-hal baru. Proses ini bukan hanya membutuhkan kualitas kecerdasan yang memadai tapi juga kerja keras yang tak mudah untuk dilakukan. Jika Anda belum memilikinya maka pikir-pikir lagi sebelum melanjutkan S3.

(c) Apakah Anda cukup sabar melewati studi S3 Anda

Masalah kesabaran juga hal yang penting. Proses studi S3 adalah proses belajar yang panjang. Anda sedang berlari marathon, bukan sprint. Untuk itu Anda membutuhkan waktu yang panjang, nafas yang juga cukup untuk bertahan bertahun-tahun selama menjalani tekanan menjadi PhD student. Jadi sudah cukup sabarkah Anda?

(5) Rencana yang selalu meleset dari awal

Rahasia umum ini sepertinya sudah lumrah diketahui oleh mereka yang menjadi PhD student. Rencana awal yang mereka susun dengan baik seperti lulus tepat waktu, menerbitkan beberapa jurnal, presentasi di beberapa konferensi internasional, kemudian berakhir dengan cerita yang tidak seindah rencana mereka. Tak jarang, rencana-rencana itu semakin jauh dari kenyataan seiring dengan bertambahnya waktu menjalani studi S3. Rencana-rencana tersebut kemudian ditoleransi dengan menurunkan standar yang kemudian berujung kepada buruknya hubungan dengan supervisor karena kita dianggap tidak mampu menyelesaikan riset yang memadai.

Jadi jangan heran jika akhirnya studi S3 harus ditempuh selama 5 hingga 7 tahun atau bahkan hingga 10 tahun. Sebuah proses yang panjang, melelahkan dan butuh stok kesabaran yang tinggi.

Diluar itu semua, jika Anda tetap konsisten berikhtiar, berdo’a, dan senantiasa menjaga kualitas mental, maka proses menjalani studi S3 bisa berlangsung dengan baik.

“Selalu ada tantangan dalam proses panjang meraih gelar Doktor, namun tidak ada tantangan di dunia ini yang tak bisa ditaklukan jika Tuhan sudah mengijinkan. Tentu saja ijin dari Tuhan akan datang jika Anda sudah berusaha dan berikhtiar sebaik mungkin”.

Bristol, 4 Oktober 2016

-Ditulis seorang PhD student yang juga masih belajar dan terus belajar-

[1] http://www.topuniversities.com/university-rankings/world-university-rankings/2016

[2] Asisten dosen

[3] Upah minimum regional

[4] The Engineering and Physical Sciences Research Council (EPSRC). Lembaga sponsor riset terbesar di UK.

[5] http://www.fgereport.org/rsc/pdf/ExecSum_PathForward.pdf

[6] http://jcs.biologists.org/content/121/11/1771

[7] http://www.bbc.co.uk/news/health-34475955

[8] http://www.expatarrivals.com/sweden/cost-of-living-in-sweden

[9] https://www.timeshighereducation.com/features/10-truths-a-phd-supervisor-will-never-tell-you/2005513.article

[10] https://www.postgrad.com/advice/phd/are_you_ready/

Ditulis juga di: https://ariomuhammad.com/2016/10/04/journey-to-phd-39-5-hal-yang-perlu-anda-ketahui-tentang-mahasiswa-phd/

Komentar



error: Konten dilindungi!