Seleksi Beasiswa LPDP Susah? Ini yang Jarang Dibahas untuk Lolos LPDP!

timthumb.php

Bagaimana sih caranya lolos seleksi beasiswa LPDP? Baca dulu yuk artikel berikut!

Seleksi Beasiswa LPDP Susah? Ini yang Jarang Dibahas untuk Lolos LPDP!

Tak dimungkiri, serangkaian tes yang rigid membuat semangat mendapatkan beasiswa menjadi gentar. Apalagi terdapat ratusan bahkan ribuan pelamar yang siap menunjukkan keunggulannya untuk mendapatkan porsi bantuan pendidikan.

Eits, jangan khawatir! Berikut kami berikan tips-tips dari para penerima beasiswa LPDP agar kamu bisa lolos melewati serangkaian seleksinya.

1. Tonjolkan hal apa yang telah dan akan kamu lakukan untuk kemajuan Indonesia

Terdapat dua jenis beasiswa LPDP, yakni pertama, beasiswa master dan doktor untuk pendidikan di dalam negeri; dan kedua, beasiswa master dan doktor untuk pendidikan di universitas luar negeri yang bekerja sama dengan Indonesia.

Salah satu penerima beasiswa master pendidikan ke luar negeri adalah Rayyane Mazaya Syifa Insani. Rayyane, sapaan akrabnya, merupakan alumni Jurusan Kimia ITB. Pada Mei 2015 nanti, ia akan menjalani pendidikan S2 Biomedical Engineering di University of Melbourne.

Menurut pengalaman Rayyane, awal seleksi yang harus dijalaninya adalah tes administrasi, meliputi persyaratan IPK di atas 3,00; IELTS di atas 6,5; beberapa dokumen seperti ijazah, surat tanda kelulusan, surat keterangan izin kerja dari atasan (bagi yang telah bekerja, -red); dan menyiapkan esai. “Esai itu ada tentang ‘peranku bagi Indonesia’, ‘sukses terbesar dalam hidupku’, dan rencana studi. Tonjolkan hal apa yang telah kamu lakukan dan akan kamu lakukan untuk kemajuan Indonesia,” tutur Rayyane.

Saat itu, Rayyane menulis tentang pengalamannya mendapatkan hibah PKM Kewirausahaan dari DIKTI hingga dia bisa membuka lowongan pekerjaan untuk warga sekitar. “Bagi saya sukses adalah ketika apa yang kita lakukan mampu menimbulkan manfaat bagi orang lain. Dulu saya mendapatkan hibah PKM Kewirausahaan dari DIKTI dengan judul Pemanfaatan Limbah Biji dan Jantung Nangka Sebagai Peluang Usaha Makanan Bergizi,” kenang Rayyane.

Dalam usahanya tersebut, ia memanfaatkan biji dan jantung nangka segar yang bisa diambil di sekitar Cisarua, Bandung, bekerja sama dengan para penjual nangka yang mayoritas kesejahteraan hidupnya rendah. Kemudian ia merekrut beberapa orang di Cisarua tersebut untuk menjadi pekerjanya dan diberi pelatihan mengolah biji nangka untuk dijadikan pizza dan es krim, sedangkan jantung nangka dijadikan kripik. Melalui usahanya tersebut, Rayyane berhasil mengurangi tingkat pengangguran di Cisarua, menciptakan alternatif kuliner baru yang bernilai gizi tinggi, serta menumbuhkan green business. Inilah salah satu hal yang ia tonjolkan untuk memperoleh beasiswa LPDP.

“Lalu pada esai ‘peranku bagi Indonesia’ juga jangan lupa untuk mencantumkan visi misi ke depan yang akan dilakukan dan bermanfaat untuk Indonesia. Intinya fokuskan esaimu untuk mengembangkan negeri ini sesuai dengan ilmu dan keahlian yang dimiliki,” ungkap Rayyane.

2. Bisa mempertanggungjawabkan apa yang ditulis

Setelah dinyatakan lolos seleksi administrasi, sebulan kemudian Rayyane harus menjalani tes wawancara. Tes ini dibagi menjadi dua; tes antara pelamar dengan interviewer dan tes leaderless group discussion (LGD). Pada tahapan dengan interviewer, Rayyane berhadapan dengan satu psikolog dari UI, satu profesor bidang kimia dari UGM, dan satu profesor bidang kimia dari UI.

Pada tahap ini, interviewer akan menanyakan seputar tulisan yang kamu buat di esai. “Dalam wawancara, yang penting adalah apa yang kamu tulis di dokumen sesuai dengan apa yang kamu bicarakan nanti. Kalau apa yang dibicarakan tidak sesuai dengan apa yang kita tulis, itu nanti LPDP bisa curiga, ini orisinal atau enggak dokumennya,” kata Rayyane.

Hal yang perlu diingat juga, Rayyane memberi saran agar tidak lupa memberi salam, menyapa terlebih dahulu, menjabat tangan para interviewer dan memperkenalkan diri sambil tersenyum. “Jangan datang diam, menunggu disuruh duduk, itu kaku banget, jadi yang ramah aja. Begitu datang, langsung beri salam dan sapa dengan ceria. Kalau pewawancara itu diam, bilang saja ‘maaf Pak, boleh saya duduk?’ misalnya begitu,” kata Rayyane memberi saran.

Pada saat wawancara tersebut, Rayyane menjalani tanya jawab menggunakan bahasa Inggris. Rayyane juga menyarankan jika sasaran beasiswa adalah pendidikan ke luar negeri, sebaiknya persiapkan semuanya dalam bahasa Inggris.

3. LGD: sampaikan pendapat yang berbobot dan solutif tanpa mendominasi

Seleksi selanjutnya adalah leaderless group discussion (LGD), di mana peserta dikelompokkan dalam sebuah grup yang terdiri dari sepuluh orang. Kemudian peserta akan diberikan short topic yang harus dimusyawarahkan dengan anggota kelompok. “Karena namanya leaderless, jadi sebaiknya semua orang punya hak untuk bersuara, tidak boleh ada yang mendominasi dan wajib ada kesimpulan,” ungkap Rayyane.

Ia mengatakan, banyak peserta yang tidak lolos di tahap ini karena antaranggota saling ngotottanpa ada kesimpulan. Menurut Rayyane, LPDP bukan hanya mencari orang dengan intelektualitas tinggi tetapi juga yang memunyai etika dalam berbicara, bermasyarakat, dan menyampaikan pendapat juga ide.

Setiap kelompok diberi waktu untuk melakukan LGD selama 45 menit. “Nah, 45 menit itu kira-kira satu orang akan kebagian ngomong sekitar dua kali, ada juga yang tiga kali. Yang mendominasi itu orang yang ngomong lebih dari tiga kali,” kata Rayyane. Mendominasi LGD dapat dianggap tidak bisa menempatkan diri sehingga besar kemungkinan namamu akan di-blacklist.

4. Jangan menjatuhkan pendapat orang lain

Rayyane menyarankan, setelah anggota kelompok diumumkan, segera berkumpul dan diskusikan siapa yang menjadi notulen dan membagi tugas masing-masing anggota. Notulen bertugas mencatat pendapat dari setiap anggota sekaligus memberi kesimpulan di akhir musyawarah.

Menurut Rayyane, peserta yang bersedia membuka topik biasanya akan mendapat nilai lebih. Tentu jika pendapatnya juga berbobot dan solutif, bukan hanya asal bicara. Namun juga jangan sampai mendominasi dan men-judge pendapat lawan. “Men-judge maksudnya ada orang lain berpendapat, lalu dia jatuhkan di forum. Padahal leaderless group discussion tidak boleh begitu. Terpenting adalah anggota harus saling menguatkan pendapat, boleh menambahkan, boleh merevisi, tetapi jangan membantah secara terang-terangan,” tuturnya.

Berdasarkan pengalaman Rayyane, dari sepuluh orang anggota kelompoknya, hanya empat orang yang lolos. Keempatnya adalah orang yang memulai pembicaraan pertama kali, dengan pendapat yang berbobot dan solutif, serta mempersilakan orang lain untuk ikut berpendapat, dan merevisi.

5. Kuasai topik

Sebelum menjalani LGD, kamu perlu mencari tahu tentang situasi LGD sebelumnya. Ada forum komunikasi yang dibuat untuk komunitas pelamar beasiswa LPDP. Dalam forum tersebut, tergabung orang-orang yang telah menerima beasiswa LPDP. Menurut Rayyane, mereka akan memberikan informasi terkait pengalamannya.

Pengalaman Rayyane mengikuti seleksi LPDP, timnya harus menyimpulkan metode apa yang tepat untuk mengembangkan karakter guru di Indonesia agar tidak ada kasus Jakarta International School (JIS) yang terulang. “Jadi, dianjurkan sebelum LGD baca berita banyak-banyak karena takutnya bisa apa aja (topiknya, -red),” ungkap Rayyane.

Salah satu penerima beasiswa LPDP dalam negeri, Melkias Raubaba, juga menyarankan untuk banyak membaca buku sebelum menjalani wawancara. “Saran saya, perbanyak buku-buku pokok seperti buku-buku kepemimpinan, manajemen, dan masalah-masalah umum yang ada di Indonesia, misalnya BBM, pangan, ” ucap Melki.

6. Berani berkomitmen

Sebagai penerima beasiswa S2 di Jurusan Sosiologi UI, Melki menganjurkan agar para pelamar menjawab pertanyaan wawancara dengan yakin. Jika mendapat pertanyaan tentang kemampuan menjalani pendidikan di luar negeri, kamu harus menjawab dengan yakin bahwa kamu bisa. “Jangan mengatakan ‘kalau menurut kemampuan saya, saya rasa sih memang kurang mampu, tetapi kan ada program persiapan LPDP’. Nah, jawaban yang kayak gitu kan enggak menjamin,” katanya.

Apakah kamu juga pernah menerima beasiswa LPDP atau beasiswa lainnya? Yuk, bagikan tipsmu yang lain supaya lebih banyak lagi anak muda Indonesia yang terinspirasi. [CN]

Komentar



error: Konten dilindungi!