dr Darma, Menjaga Idealisme Profesi Dokter dengan Berbisnis

c40e9d1b-cadb-4ad7-9280-8e3c630adfc2_43

dr Darma, Menjaga Idealisme Profesi Dokter dengan Berbisnis

Jakarta, Dokter sebagai salah satu tenaga kesehatan memiliki fungsi utama untuk menolong masyarakat. Idealisme ini sangat dipegang teguh oleh dr I Gusti Nyoman Darmaputra, SpKK.

dr Darma, begitu ia biasa disapa, sadar betul bahwa ada anggapan di masyarakat soal dokter yang hanya mencari untung tanpa mementingkan kesembuhan pasien. Padahal menurutnya, hal tersebut tidak benar.

“Dokter kan menolong pasien. Tidak benarlah kalau dokter itu kerjanya hanya cari untung saja. Memang mungkin ada tapi sedikit. Jadinya kan mencoreng kita semua juga,” tutur dr Darma kepada detikHealth, ditemui di Senayan City, Jakarta Selatan dan ditulis Senin (14/9/2015).

Secara pribadi, dr Darma tetap berpegang teguh terhadap idealisme menolong dan sumpah dokter untuk mementingkan kemanusiaan. Untuk mewujudkannya, ia pun mulai menggeluti dunia usaha atau bisnis. Lho, bagaimana?

Memang secara kasat mata tidak ada kaitan langsung antara bisnis yang ia miliki dengan idealisme profesi dokter. Namun menurut dr Darma, bisnis membuatnya tidak mencari-cari keuntungan dari profesi yang ia jalankan.

“Dokter itu menurut saya harus punya usaha. Kenapa? Supaya nanti penghasilannya nggak dari jadi dokter aja. Kalau penghasilannya cuma dari jadi dokter saja, kan nanti duitnya nyari dari situ. Kasih obat yang mahal atau biaya jasanya digedein. Kalau begini kan kasihan pasien,” ungkapnya.

“Sementara kalau ada usaha lain kan sumber penghasilan utamanya dari usahanya itu. Jadi kecil kemungkinan cari duitnya lewat obat atau biaya jasanya. Profesi dokternya ya untuk mengabdi, menolong masyarakat,” tambah dokter yang memiliki bisnis klinik kecantikan tersebut.

Menjadi Dokter dan Pengusaha

Sekilas, dokter yang juga pengusaha memang tak lazim. Meski begitu, bukannya hal itu tak bisa dilakukan. Sudah berbisnis sejak 2011 dan kini memiliki klinik kecantikan dengan 10 cabang, dr Darma mengaku masih harus banyak belajar.

Salah satu tokoh yang menjadi idolanya adalah Chairul Tanjung, pendiri sekaligus Direktur Utama CT Corpora. Dikatakan dr Darma ia merasa memiliki pengalaman yang mirip dengan tokoh yang biasa disebut CT itu. Yakni sama-sama memiliki latar belakang di dunia kedokteran.

“Saya begitu baca bukunya Pak CT yang Si Anak Singkong langsung suka. Jadi latar belakang kedokteran pun tetap bisa jadi pengusaha yang sukses,” ungkapnya sambil tersenyum.

Mengaku sebagai orang yang well-prepared, pria kelahiran tahun 1980 ini sempat belajar soal bisnis melalui kursus online dan membaca buku. Bahkan untuk memperdalam ilmu soal kesehatan kulit, ia pun terbang ke Tiongkok untuk mengambil kursus soal bedah kulit di Tongji University.

Pulang ke Indonesia, klinik kecantikan D&I Skin Centre pun resmi berjalan pada tahun 2011. Mulanya ia hanya memiliki satu klinik di Kota Denpasar. Namun seiring meningkatnya minat soal kecantikan, cabang lain pun dibuka, antara lain di Singaraja, Renon dan Kedonganan. Total ada 10 cabang klinik D&I Skin Centre, 8 di Bali, 1 di Lombok dan 1 lagi di Jakarta.

“Sekarang soalnya wanita Bali sudah mulai memikirkan kecantikan. Dulu kan pakai make-up atau dandan itu istilahnya tidak baik untuk wanita Bali. Karena mereka kan harus mengurus anak, mengurus rumah, mengurus keluarga, jadi nggak sempat mikirin kecantikan. Tapi makin ke sini kesadaran juga semakin meningkat,” tambah dokter yang sedang menempuh pendidikan S3 ini.

Ke depannya, dr Darma berharap agar masalah kesehatan kulit tidak lagi dianggap remeh. Kesehatan kulit bukan hanya soal kecantikan, namun juga bagian dari kesehatan tubuh secara umum dan berpengaruh terhadap kualitas hidup.

[Detik/iCampus Indonesia]

Komentar