Dr Akhileswaran, Ahli Onkologi Radiasi yang Jadi Pakar Pelayanan Paliatif

120428_dclife
Dr Akhileswaran, Ahli Onkologi Radiasi yang Jadi Pakar Pelayanan Paliatif
Singapura, Pelayanan paliatif tidak akan berkembang tanpa ada sosok yang peduli bahwa pelayanan ini sangat perlu. Di Singapura, salah satu sosok yang berjasa dalam perkembangan pelayanan paliatif ternyata mantan ahli onkologi radiasi.

Bertubuh tinggi dengan kulit kecoklatan khas keturunan India di Singapura, pria bernama lengkap Dr Ramaswamy Akhileswaran merupakan sosok dibalik suksesnya HCA Hospice Care, lembaga pelayanan paliatif terbesar di Singapura. Dalam perbincangan dengan detikHealth, ia pun menceritakan awal mula mengapa ia ingin terjun di bidang pelayanan ini.

“Sebagai ahli penyakit kanker selama 16 tahun, hampir 60 persen pasien saya bisa tersembuhkan. Seiring perkembangan zaman, angka kesembuhan pasien meningkat menjadi 80 persen. 20 Persen sisanya sudah tak tertangani dan dipastikan akan meninggal dunia,” ungkap Dr Akhileswaran, dalam temu media Singapore International Foundation, di HCA Hospice Care, Singapura, Minggu (31/5/2015).

‎Sepanjang karirnya sebagai ahli kanker, Dr Akhileswaran merasa terusik dengan keadaan pasien kanker yang tak tersembuhkan. Sering kali, pasien meninggal dengan rasa sakit dan juga depresi. Tak ingin pasiennya merasakan hal seperti itu, ia pun memutuskan untuk terjun ke dunia pelayanan paliatif.

Memang awalnya, banyak rekan dan kolega yang bertanya mengapa Dr Akhileswaran ingin menekuni hal itu. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pelayanan paliatif tidak menghasilkan banyak uang dan membutuhkan ketekunan serta kesadaran yang luar biasa ketika melayani pasien.

Namun hal-hal tersebut tak membuat Dr Akhileswaran gentar. Bergabung di HCA Hospice Care pada 2001 dan menjadi CEO serta Direktur Medisnya pada tahun 200‎7, Dr Akhileswaran berhasil menyelamatkan lembaga ini dari keterpurukan.

“Ketika orang bertanya mengapa saya melakukannya, saya bertanya balik, mengapa kita tak harus melakukannya? Bagi saya, melihat pasien yang sudah berkutat dengan rasa sakit selama bertahun-tahun bisa kembali tersenyum dan pasien yang sebelumnya depresi bisa tertawa lepas adalah jawabannya,” ungkapnya lagi.

Prinsip itulah yang ‎dipegang Dr Akhileswaran hingga saat ini. Dalam perkembangannya, ia memperkenalkan beberapa terosoban di bidang paliatif. Sebut saja pelayanan paliatif di rumah yang bebas biaya, day care bagi pasien paliatif anak dan dewasa, serta pelatihan bagi caregiver serta keluarga.

Seluruh program tersebut bertujuan untuk meringankan beban pasien hingga sekecil-kecilnya. Perbincangan dengan pasien secara rutin mengurangi b‎eban psikososial pasien. Sementara bebas biaya sudah pasti akan mengurangi beban finansial dan ekonomi.

“Ketika kita tahu 20 persen pasien sudah tidak bisa disembuhkan dan mereka akan meninggal, kita masih bisa melakukan sesuatu. ‎Pasien tak harus meninggal dunia dengan rasa sakit dan depresi. Kita bisa membantu mereka hidup dengan sebaik-baiknya, dan membuat mereka menghadapi kematian dengan tenang dan nyaman,” urainya.

‎Peran Media dalam Pelayanan Paliatif

Dr Akhileswaran beberapa kali mengungkapkan pentingnya peran media dalam bidang pelayanan paliatif, terutama di Indonesia. Sebabnya, semakin banyak informasi yang benar dan tepat soal pelayanan ini, maka kebutuhannya tentu saja akan meningkat.

Singapura sendiri memiliki keorganisasian yang jelas untuk pelayanan paliatif. HCA Hospice Care merupakan salah satu anggota dari Singapore Hospice Counsil, organisasi yang memayungi lembaga pelayanan paliatif. Mereka juga mempunyai National Strategy for Paliative Care yang berfungsi mengatur konsep dan strategi pelayanan paliatif di Singapura.

Di Indonesia sendiri, pelayanan paliatif masih dalam tahap awal pengenalan. Untuk itu, Dr Akhileswaran mengatakan media berperan sangat besar untuk membantu menyebarkan informasi.

“Ketika informasi terpenuhi, maka masyarakat akan mengetahui pentingnya pelayanan paliatif. Hal ini membuat permintaan akan bertambah. Dengan permintaan bertambah, maka mau tidak mau pemerintah akan menyediakan sarana dan prasana yang dibutuhkan agar pelayanan ini bisa berjalan,” pungkasnya.

[Detik/iCampus Indonesia]

Komentar