Asap Rokok Tetap Berdampak pada Janin Meski Ibu Hanya Perokok Pasif

6f57ec58-0aef-40aa-a817-e76057363572_43

 

Asap Rokok Tetap Berdampak pada Janin Meski Ibu Hanya Perokok Pasif

Jakarta, Sudah menjadi rahasia umum bahwa merokok bisa berdampak buruk pada janin. Kondisi itu tidak hanya berlaku bagi ibu hamil yang merokok saja, tetapi juga bagi ibu hamil yang menjadi perokok pasif alias hanya terpapar asap rokok.

Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Prof Dr H.I Oetama Marsis SpOG mengatakan nikotin merupakan toksin utama perokok aktif sedangkan pada perokok pasif, toksin utama  rokok adalah benzo(a)pyrene. Pada perokok pasif, benzo(a)pyrene bisa menghambat pertumbuhan dan proliferasi folikel. Selain itu, benzo(a)pyrene juga memengaruhi kualitas ovarium.

“Akibatnya, kualitas ovarium rendah, lebih berisiko abortus spontan (keguguran-red) saat hamil. Benzo(a)pyrene juga berpengaruh pada oosit yang mengakibatkan kematian dan menghambat pertumbuhan janin,” tutur Prof Marsis dalam Seminar publik ‘ Rokok Ancam Generasi Emas 2045’ di Griya Jenggala, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (2/3/2016).

Bahkan, pada perokok pasif yang tidak hamil, paparan asap rokok dikatakan Prof Marsis bisa memengaruhi organ reproduksinya di mana ovarium bakal memproduksi sel telur yang tidak berkualitas. Akibatnya, ketika terjadi kehamilan pun nantinya janin lahir dengan tidak berkuallitas.

Selain itu, paparan asap rokok juga menyebabkan stres oksidatif intrafolliculer yang mengakibatkan kerusakan inti DNA. Tak hanya kualitas sel telur, rokok juga memengaruhi fertilias wanita dengan memperburuk fungsi uterus sehingga mempersulit proses konsepsi.

“Sehingga, dengan merokok kita tidak hanya membahayakan generasi saat ini saja tetapi juga generasi yang akan datang,” tegas Prof Marsis.

Hadir dalam kesempatan yang sama, Prof Dr Emil Salim mengingatkan jika di tahun 2025-2035 akan terjadi bonus demografi. Sayangnya, kualitas generasi muda saat ini ditinjau dari konsumsi produk merugikan misalnya rokok amat mengkhawatirkan.

“Terdapat 38 persen penduduk Indonesia yang merupakan perokok dengan prevalensi perokok usia 15-19 tahun sekitar 20 persen. Regulasi pengendalian tembakau yang masih lemah tidak bisa merespons masalah ini. Bahkan makin mengkhawatirkan dengan adanya RUU Pertembakauan yang saat ini di tahap harmonisasi di DPR RI. Dalam mewujudkan kualitas generasi muda maka tantangan dari produk yang merugikan seperti narkoba-rokok-alkohol harus diperhatikan,” tutur Prof Emil.

[Sumber : Detik dikutip ulang oleh iCampus Indonesia]

Komentar



error: Konten dilindungi!