LIPI: Penelitian Jangan Hanya Sekadar Selesaikan Skripsi

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyarankan kepada perguruan tinggi agar mahasiswanya dekat dengan penelitian. LIPI menekankan agar mahasiswa tidak mengorientasikan penelitian hanya sekadar syarat untuk menyelesaikan skripsi.

“Bobot riset di perguruan tinggi itu kecil. Dosen pun dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi ada tiga, yakni pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Bobotnya tidak rata,” kata Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain usai rapat kerja di Kebumen, Jawa Tengah, Jumat (25/3)

Jika ada total 16 rasio perbandingan, bobot 12 di antaranya digunakan dosen untuk pengajaran. Sementara penelitian hanya dua dan pengabdian juga dua. “Akibatnya, mahasiswa tidak dekat dengan penelitian,” katanya.

Iskandar mengatakan, umumnya penelitian yang hanya menyelesaikan skripsi hanya menyentuh tahap metodologi penelitian. Menurutnya, alasan mendasar penelitian tidak dikenal mahasiswa karena belum terinformasi dan masuk ke dalam sistem serta mekanisme pengajaran di perguruan tinggi.

Akibatnya, sarjana yang baru lulus tidak berminat menjadi peneliti dan beralih mencari profesi lain yang sesuai dengan program studinya. “Banyak (sarjana) yang sudah lulus ingin cari kerja. Untuk menjadi peneliti, harus ada ‘passion’ dan keyakinan penelitiannya dapat bermanfaat. Mereka harus benar-benar menyukai objek penelitiannya,” kata Iskandar.

LIPI pun ingin mendorong dikembangkannya sistem “Research University” dalam sebuah universitas yang memiliki bobot besar dalam penelitian.

Iskandar menjelaskan,para peneliti senior di LIPI akan segera pensiun. Namun saat ini belum ada kaderisasi guna meneruskan kompetensi penelitian yang bersangkutan.

Indonesia juga masih kurang untuk memenuhi jumlah peneliti yang ideal, yakni minimal seribu peneliti per satu juta penduduk. Jumlah peneliti Indonesia baru mampu mencapai 40 peneliti per satu juta penduduk.

Sumber : Republika 

Komentar



error: Konten dilindungi!