Menikah Saat Kuliah? Bisa? (1)

1443665865-menikah-ku
Mungkin banyak yang berfikir bahwa, idealnya kita melalui fase hidup dengan berurutan: SMA, trus kuliah, terus kerja, terus nikah. Tetapi pada prakteknya, nggak selalu bisa begitu.

Misalnya, urusan jodoh.

Banyak orang getol nyari jodoh tapi nggak ketemu-ketemu, bahkan ketika sudah memasuki “umur kritis”. Namun ada orang-orang yang jodohnya datang di saat yang pas… pas lagi kuliah. Nah, lho!

Kuliah adalah waktunya study hard, play hard! *tangan mengepal di udara* Jadi nggak kebayang ketika ada teman sesama mahasiswa yang memutuskan menikah saat masih kuliah.

Rempong nggak, sih? Nggak bisa seseruan di kampus, dong? Dan yang paling penting: kuliahnya bisa lanjut nggak?

Yuk, deh, langsung aja tanya ke para “pelaku”nya: berstatus mahasiswa tetapi sudah menikah.

Let’s meet Sakinah Lisa (Lisa), mahasiswi Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Drg. Sofie, alumni Fakultas Kedokteran Gigi Trisakti, Jakarta, dan Hamzah Muhammad Mardiputra (Hamzah) alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok.

Hai semua! Jadi kapan sih, kalian menikah?
Sofie (S): Saat kuliah semester 5. Sementara suami gue udah kerja.
Lisa (L): Setelah semester 5, sebelum semester 6 dimulai. Sekarang aku udah semester 7, lagi magang dan skripsi, sedangkan suamiku bekerja di luar kota. Jadi sementara ini kami long distance.
Hamzah (H): Sewaktu nikah, saya dan istri sama-sama kuliah semester 7.

Penasaran nih, kenapa memutuskan menikah saat masih kuliah? Nggak khawatir kuliahnya terhambat?
Sofie: Karena merasa sudah takdir dan jodoh. Gue sama sekali nggak khawatir kuliah terhambat, kok, karena gue merasa perempuan dianugrahi keterampilan multitasking, hehehe. Gue yakin, selama punya niat dan manajemen waktu yang baik, Insya Allah kuliah gue akan lancar jaya, rumah tangga pun aman terkendali.
Lisa (L): Karena dari awal menjalin hubungan, tujuan aku dan suami adalah nikah, dan kami berdua sudah merasa cocok, jadi buat apa ditunda? Lagian aku merasa nikah bukan penghalang cita-cita, kok.
Hamzah (H): Karena kebetulan saya ketemu perempuan yang cocok, dan merasa sudah siap menikah. Apalagi sewaktu ketemu, saya dan istri sama-sama sudah mau lulus, jadi saya yakin nikah nggak akan menghambat kuliah kami. Malah kami jadi bisa saling menyemangati.

Gimana reaksi teman-teman di kampus?
S: Di kampus, gue adalah mahasiswi pertama yang nikah, jadi pastinya teman-teman lain pada bertanya-tanya, kok mau, sih, kawin cepat? Dijodohin, ya? Kenapa nggak pacaran lama dulu?
Akhirnya gue menjelaskan ke mereka prinsip gue untuk married ketika sudah siap dan mampu. Bukan hanya mampu secara harta, lho, tetapi juga secara mental. Mereka bisa ngertiin, sih. Malahan gue jadi semacam pembuka jalan, karena setelah gue menikah, banyak teman-teman lain yang nyusul. Yeay!
L: Palingan teman-teman pada ngegodain. Aku, sih, santai aja. Tapi ada juga sih, yang bilang, Dosen-dosen juga tau kalau aku sudah nikah. Tapi ada juga sih yang bilang, “Ngapain masih lanjut kuliah?” Hahaha. Heran juga, sih, denger komentar kayak begitu.
H: Wah, pada heboh! Yang pasti, tanggapannya positif. Malah jadi ada yang ikutan pengen nikah saat masih kuliah.

Ada perbedaan nggak, ngampus saat masih single dan setelah nikah?
S: Setelah nikah, gue malah jadi lebih fokus belajar karena nggak ada godaan pergi pacaran, hihihi. Palingan nongkrong sama teman-teman aja sesekali.
L: Setelah nikah, kegiatanku di kampus jadi berkurang, tapi bukan gara-gara menikah, melainkan karena memang sudah semester akhir. Sebelumnya, aku sering ikut kepanitiaan acara kampus. Untuk kuliahnya sendiri, aku malah jadi tambah semangat, apalagi aku memang punya target lulus 3,5 tahun.
Yang agak berubah, aku jadi lebih berhati-hati membawa diri, karena sekarang aku ‘kan bawa nama baik suami. Aku menghindari aktivitas kampus di malam hari. Kalau nggak penting-penting banget, ya aku nggak ikutan atau izin pulang lebih cepat. Ini memang kesepakatanku dengan suami. Waktu masih single, aku bisa rapat acara kampus sampai dini hari. Kalau sekarang prefer morning activities.
Tapi aku masih suka jalan bareng teman-teman, sih. Mengerjakan tugas yang memang harus digarap sampai larut malam atau bahkan KKN 1,5 bulan di desa juga masih bisa aku jalani.
H: Karena saya dan istri sama-sama aktivis di organisasi kampus, kami jadi saling mengerti kalau ada kegiatan. Tapi setelah menikah, kami memang agak mengurangi keterlibatan di kampus.

Kepikiran nunda punya anak sampai lulus?
S: Nggak, tuh. Gue justru hamil pas kuliah semester 8. Setelah lulus, gue langsung kuliah lagi ngambil program Profesi Dokter Gigi selama 2 tahun. Nggak pakai cuti! Jadi, gue ngurus anak sambil belajar. Pernah sekali waktu, pengasuh anak gue mendadak sakit, akhirnya gue musti bawa anak kuliah. Tapi fun-fun aja, tuh. Anak gue malah dijagain dan disuapin teman-teman sekampus.
Alhamdulillah, walaupun nikah dan punya anak, gue berhasil lulus kuliah tepat waktu.
L: Nggak. Aku percaya bahwa hamil dan punya anak nggak menghalangi kuliah. Buktinya, banyak tuh, mahasiswi yang hamil atau punya anak tapi kuliahnya tetap lancar. Menurutku, perempuan itu kuat dan bisa menjalani semuanya. Jadi sebagai perempuan jangan underestimate diri sendiri. Optimis deh, kalau kita bisa.
H: Kami nggak nunda. Cuma memang ketika masih kuliah, kami belum diberi anak.

Jadiii… apa nih, sukanya menikah saat kuliah?
S: Ada yang bantuin ngetik tugas. Biarpun suami ngetiknya sambil ngedumel, tapi gue tetap dibantuin, hihihi.
L: Aku jadi belajar banyak dari suamiku. Salah satunya, belajar mengatur waktu dan kesibukan. Trus, aku jadi punya visi yang lebih jelas, mau apa ke depannya. Dulu sebelum menikah semuanya ‘kan serba santai.
Trus, aku juga jadi lebih tenang dan nggak emosian saat menghadapi sesuatu. Selain itu, dengan menikah, life goal aku menemukan pasangan hidup jadi terpenuhi.
H: Enaknya, jadi ada tempat untuk bercerita segala sesuatu tentang kampus. Di samping itu, karena status hubungan kami jelas, nggak ada anggapan negatif saat kami berdua-berduaan. Menikah juga bikin saya lebih dewasa dalam mengambil keputusan.

Sebaliknya, apa aja tantangan menikah saat masih kuliah?
S: Bagi waktu. Kalau nggak bisa bagi waktu, seseorang bisa berhenti kuliah setelah menikah. Kuliah dan nikah bersamaaan memang berat, sih.
Kebayang nggak, besok ada ujian yang bahannya banyak banget sementara anak lagi demam? Jadi gue ngompres kepala anak sambil baca buku dan menghafal. Bisa nggak tidur semalaman!
L: Harus bisa mengatur waktu dengan baik. Kuliah memang penting, tetapi jangan sampai menomorduakan pasangan. Harus seimbang, lah.
H: Tantangannya adalah membagi waktu. Sehari-hari, kita harus meluangkan waktu untuk keluarga, tapi di sisi lain, ada beban mengejar kuliah agar cepat selesai.

***

Beuh! Seru nggak, sih?

Masih banyak, lho, cerita tentang keseharian mereka. Misalnya, cerita tentang keribetan ngurus rumah, belajar, curi-curi waktu untuk pasangan, ngurus anak, ujian, skripsi, plus sidang. Huft! Jangan-jangan mereka bisa membelah diri, ya?

Pengen tau? Pengen tau banget atau pengen tau aja? #eaaa

Simak cerita lengkapnya di-posting selanjutnya! Ehm, ehm… mereka juga bakal kasih bocoran tips untuk survive menikah saat kuliah, lho. Baca di part 2, ya.

Oleh : Fatimah Ibtisam

Komentar