Lima Perempuan Hebat dan Berprestasi Lulusan Teknik ITB

1455158263-betti-s-al

Inilah lima perempuan hebat dan berprestasi lulusan Teknik dari Intitut Teknologi Bandung (ITB), Bandung. Setelah kenalan dengan mereka, anggapan kamu bahwa perempuan nggak cocok masuk jurusan Teknik pasti langsung pecah berkeping-keping! #halah

1. Nyoman Anjani
Gadis berdarah campuran Bali dan Bandung ini adalah alumnus jurusan Teknik Mesin ITB tahun 2014 silam. Setelah berhasil lulus dengan predikat cum laude, Nyoman sekarang bekerja di PT. Unilever Indonesia Tbk. Finalis Putri Indonesia Tahun 2010 ini seorang pecinta alam yang hobi naik gunung dan juga melukis, lho. Wah, jangan-jangan hobi melukis pemandangan gunung, ya? 😀

Prestasi Nyoman yang paling istimewa adalah mendirikan Ekspedisi Pelita Muda Indonesia, sebuah ekspedisi ilmiah yang bertujuan untuk membangun daerah-daerah tertinggal melalui penyaluran teknologi tepat guna. Melalui program ini, mahasiswa ITB bisa memilih salah satu daerah di Indonesia untuk dianalisa permasalahan dan kebutuhan masyarakatnya, diberikan solusi yang tepat, lalu akhirnya dikembangkan.

Menurut Nyoman, seorang pemimpin hebat bukanlah pemimpin yang bisa mengerjakan semuanya sendirian, melainkan pemimpin yang mampu menempatkan potensi-potensi hebat pada posisi yang tepat. Setuju!

2. Lidya Ignasia
Seperti Nyoman, Lidya juga baru saja lulus S1 dengan prestasi cum laude dari jurusan Teknik Kimia ITB tahun lalu.

Tahun lalu, Lidya juga sempat mewakili Delegasi Djarum Foundation di ajang Social Venture Challenge dan berlaga di Harvard World Model United Nations 2015, di Goyang-City, Korea Selatan. Hasilnya? Menang!

World Model United Nations sendiri adalah sebuah kompetisi dimana mahasiswa pesertanya harus memberikan solusi kreatif untuk berbagai permasalahan sosial di masyarakat. Di kompetisi ini, tim Lidya mempresentasikan resolution project House of Angklung (HOA) Surabaya, sebuah komunitas yang membina anak-anak jalanan dengan menggunakan angklung.

Target utama dari HoA adalah agar anak-anak jalanan yang bergabung dengan mereka bisa bermain dan menjadi pengajar angklung. Namun HoA nggak hanya berharap bisa memberikan kontribusi positif bagi dunia pendidikan anak, tetapi juga agar warisan kebudayaan Jawa Barat ini bisa tersebar ke daerah-daerah lain.

3. Karen Agustiawan
1455003350-karen-agus
Siapa, sih, yang nggak kenal Karen Agustiawan? Di Indonesia, Ibu Karen paling dikenal sebagai mantan Direktur Utama PT Pertamina. Beliau juga pemimpin PT Pertamina perempuan pertama semenjak perusahaan minyak negara ini berdiri pada tahun 1968. Artinya, selama 41 tahun, Pertamina selalu dipimpin oleh laki-laki sampai Ibu Karen datang!

Gimana, sih, awal mula Ibu Karen bisa menjadi dirut Pertamina? Beliau memulai karirnya di Pertamina sebagai staf ahli. Karena kinerjanya yang oke, ia lama-lama “naik pangkat” menjadi salah satu kandidat Direktur Utama Pertamina. Dulu, mantan menteri BUMN Bapak Sofyan Djalil menyatakan bahwa Kementrian BUMN akan melakukan uji kompetensi dan wawancara ke para kandidat Direktur Pertamina. Nah, di antara semua kandidat yang ada, hanya Ibu Karen Agustiawan yang lolos uji kompetensi dan wawancara tersebut.

Di masa kepemimpinan Ibu Karen, Pertamina mengalami kemajuan pesat. Ibu Karen bahkan mampu membawa Pertamina menjadi memiliki daya tawar yang cukup diperhitungkan di dunia internasional, dengan pendapatan sebesar 70 miliar dolar AS dan keuntungan sebesar 2,7 miliar dolar AS. Dengan kiprahnya yang nggak main-main, Ibu Karen pun pernah masuk daftar 50 Pelaku Bisnis Wanita Paling Kuat se-Asia versi majalah Forbes.

4. Audist Subekti
1455004427-audist-sub
Ibu Audist lulus S1 dari jurusan Kimia di ITB pada tahun 1994, lulus S2 dari jurusan Polymer Science di ITB pada tahun 1997, dan lulus S3 dari jurusan Chemical Engineering and Industrial Chemistry di University of New South Wales, Australia. Cinta beliau terhadap ilmu kimia memang nggak diragukan, ya!

Saat ini, Ibu Audist memimpin departemen teknis perusahaan 3M Indonesia dan menjadi anggota dari tim kepemimpinan 3M Indonesia. Beliau juga adalah Leader Technical Champion pertama untuk Indonesian Chapter Woman Leader Forum serta ditunjuk sebagai ahli materi pelajaran dalam menetapkan sistem manajemen keselamatan untuk kontraktor minyak dan gas di Indonesia. Intinya, beliau, tuh, ibarat guru keselamatan industri perminyakan deh, sob!

Nggak heran kalau Ibu Audist cinta mati sama kimia. Sejak kuliah aja, beliau memang sudah menjadi siswa Math and Chem buff yang selalu mencoba memecahkan persamaan tanpa bantuan apapun dan siapapun. Wow! *langsung buang kalkulator*

Passion-nya di bidang perminyakan pun sukses membuat Ibu Audist dianugerahi banyak perhargaan lokal dan internasional, salah satunya adalah The Outstanding Academic Merit of “Environmental Aspect of Geothermal Development”.

5. Betti Alisjahbana
1455158263-betti-s-al
Kalau Ibu Karen Agustiawan pernah menjadi pimpinan Pertamina perempuan pertama, maka Ibu Betti Alisjahbana pernah menjadi pimpinan perusahaan IBM tingkat negara perempuan pertama, di kawasan Asia Pasifik. Widiiih…

Selain pernah menjadi CEO IBM Indonesia, Ibu Betti juga founder dari perusahaan PT Quantum Business International yang bergerak di industri kreatif. Nggak hanya berbisnis, Ibu Betti pun mendedikasikan dirinya pada bidang pendidikan dan konsultasi. Beliau sering menjadi pembicara untuk topik-topik kewirausahaan, talent management, dan peran wanita di Indonesia.

Selain itu, Ibu Betti juga anggota kehormatan United States-Indonesia Societies (USINDO) yang dibentuk untuk menjalin hubungan yang lebih baik antara Amerika Serikat dengan Indonesia. Program-program USINDO tersebut di antaranya adalah kerjasama Amerika-Indonesia di bidang pendidikan, forum terbuka, kebudayaan serta Aceh School Project. Pada tahun 2006, Ibu Betti menjadi Ketua Yayasan ITB ‘79 dan memberikan banyak kontribusi besar bagi ITB.

Selain kiprahnya sebagai pimpinan, Ibu Betti juga terjun ke bidang tarik suara, bahkan sampai memproduksi sendiri album rekamannya. Hebatnya, seluruh dana hasil penjualan album Ibu Betti digunakan untuk sekolah anak jalanan.

***

Sadar nggak, sih, lima perempuan tersebut punya satu persamaan? Mereka nggak hanya sukses berkarir, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Ilmu mereka di bidang Teknik betul-betul terpakai dan mereka sangat passionate menjalankan semuanya.

Oleh Dian Ismarani via Yout Manual

Komentar



error: Konten dilindungi!