Agar Jago Menulis Esai

keep-calm-and-lets-practice-7

Meraih beasiswa studi ke luar Indonesia adalah impian banyak orang. Namun, untuk mendapatkannya, lembaga pemberi beasiswa memberikan sejumlah syarat yang perlu dipenuhi para kandidat. Indeks prestasi kumulatif (IPK) yang cemerlang dan kemampuan bahasa asing kerap menjadi bagian dari syarat-syarat itu.

Meski begitu, ada salah satu syarat yang ternyata menjadi titik lemah mahasiswa Indonesia untuk menerima beasiswa. Hal itu, kata Kepala Indonesian Scholarship and Research Support Foundation (ISRSF) Jeffrey Winters, yakni kemampuan menulis esai.

Guru besar ilmu politik di Northwestern University, Chicago, Amerika Serikat (AS), itu mengatakan, kemampuan menulis adalah modal penting untuk menjalani studi utamanya yang ingin mengambil jurusan sosial, sastra, dan komunikasi. Dengan menulis, kata Winters, seseorang dapat membaca masalah secara kritis. “Aplikasi esai lebih penting daripada IPK atau skor TOEFL,” ujar Winters dalam seminar Kiat Menulis Esai yang Baik di Pusat Kebudayaan AS @america, beberapa waktu lalu.

Winters menilai, IPK, TOEFL, dan skor lainnya memang penting untuk dipenuhi. Akan tetapi, hal itu hanya merupakan standar formal penilaian. Dalam tahapan selanjutnya, lembaga pemberi beasiswa akan membutuhkan esai si pelamar. Esai tersebut merupakan media untuk melihat gagasan dan semangat calon penerima beasiswa. Dari esai yang baik, pemberi beasiswa bisa merasa yakin untuk meletakkan kepercayaan dan memberi bantuan kepada kandidat.

Winters mengatakan, kemampuan menulis juga bermanfaat bagi mahasiswa dalam menyelesaikan perkuliahan. Ia menjelaskan, dalam dunia kampus tidak ada lagi ujian menggunakan pilihan ganda. Bentuk ujian, ujarnya, yakni dengan menuangkan gagasan lewat tulisan. “Jadi, menulis adalah cara untuk masuk kampus dan cara keluarnya,” ujar Winters.

ISRSF pun menggelar Kompetisi Esai Nasional 2015. Tujuan kompetisi tersebut, yakni memperkaya kemampuan mahasiswa Indonesia dalam menulis dan menyalurkan gagasan mereka. Terdapat tiga kategori dalam kompetisi tahun ini, yakni tentang perempuan, sejarah, dan ilmu sosial.

Para pemenang akan diberikan kesempatan melakukan tes wawancara untuk kuliah di Northwestern University, AS. Selain itu, esai-esai terbaik juga dikompilasi menjadi sebuah buku agar bisa menjadi rujukan pelajar dan mahasiswa Indonesia lainnya.

Juara pertama Kompetisi Esai Nasional ISRSF 2015 kategori sejarah, Rahadian Rundjan, punya cerita sendiri tentang keberhasilannya menyabet gelar bergengsi itu. Dia mengaku menyukai sejarah serta isu-isu sains dan teknologi. Ia pun mengombinasikan hal tersebut menjadi sebuah esai bertajuk “Years of Living Experimentally: Big Science Failure during Indonesia’s Guided Democracy 1959-1967.”

Esai tersebut memaparkan tekad Presiden Sukarno dalam era Demokrasi Terpimpin untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju di bidang iptek. “Cari topik yang benar-benar disukai agar memudahkan proses penulisan,” kata Rahadian memberikan tips suksesnya.

Rahadian mengatakan, untuk menulis esai, kita perlu memperbanyak bacaan dan bertemu dengan orang-orang baru, baik dari kalangan akademis maupun nonakademis. Hal itu baik untuk memperkaya khazanah keilmuan.

Selain itu, internet dan pusat-pusat arsip juga banyak memberikan referensi untuk sebuah penelitian. Ia mengaku, agar esai kuat, perlu mencari data sebanyak mungkin. Ia juga berpesan untuk tidak cepat merasa puas dengan esai yang ditulis. “Sering-sering periksa dan edit kembali agar esainya jadi lebih sempurna,” ujar Rahadian.
rep: Ahmad Fikri Noor, ed: Endah Hapsari

***
Endus Masalah

Ada satu hal yang perlu diingat ketika ingin membuat esai yang baik. Kepala Indonesian Scholarship and Research Support Foundation (ISRSF) Jeffrey Winters mengatakan, esai yang hebat harus mengandung bagian dari diri penulis. Hal itu bukan berarti esai adalah memoar atau catatan harian.

Penulis yang baik, kata Winters, memiliki suatu keresahan atau kekesalan pada suatu hal. Bisa saja hal itu adalah suatu tatanan yang salah dalam masyarakat, tekanan, atau ketidakadilan. “Seorang penulis harus mampu mengendus masalah,” ujarnya.

Penetapan masalah, kata Winters, adalah hal penting untuk menjadi pijakan awal dalam menulis esai. Dari titik itu, penulis bisa mengembangkan dan melakukan riset hingga mencapai kesimpulan.

Dalam menulis, Winters mengingatkan untuk tidak banyak menggunakan kata sifat. Esai yang mengandung kata sifat berlebih akan terasa menggiring opini pembaca. Biarkan isu dan fakta yang menggiring pembaca sesuai dengan tujuan penulisan esai tersebut. “Anda sedang mengarahkan pembaca, tapi jangan sampai terlihat,” ujar Winters.

Esai yang baik berlandaskan pada riset yang baik. Winters mengatakan, tidak mungkin semua orang mengetahui segala hal di dunia ini. Karena itu, seorang penulis perlu memberi banyak kutipan dari karya orang lain. “Semakin banyak penulis memberikan kutipan artinya bahan bacaannya banyak dan itu adalah hal yang bagus,” ujarnya.

Problem lain dalam penulisan esai yang ditemukan Winters adalah gagasan kurang tegas. Ia mengatakan, banyak karya mahasiswa yang ia temui justru memberikan kalimat deklaratif di paragraf kedua. Sedangkan, di paragraf pertama justru berisi bumbu-bumbu kalimat yang kurang tegas. Meski begitu, Winters mengingatkan untuk membuat kalimat deklaratif dan gagasan berpikir yang bisa dipertanggungjawabkan.

Dengan membuat kalimat deklaratif sejak awal tulisan, pembaca akan merasa terhanyut dalam gagasan si penulis. “Ide harus diletakkan di awal sebagai pikiran utama. Baik itu berupaya menggelitik maupun menantang pembaca agar lanjut membaca,” ujarnya.

Winters mengatakan, esai bukan novel misteri yang justru memberikan jawaban di akhir tulisan. Ia mengatakan, dalam menulis esai, hendaknya penulis memberikan kesimpulan di awal, lalu jelaskan kesimpulan itu, kemudian ingatkan kembali kesimpulan tersebut di akhir tulisan.

Satu hal yang perlu juga diingat, sebagai peneliti dan penulis, terdapat modal penting, yakni kebebasan berpikir dan integritas. Menurutnya, sangat disayangkan jika modal integritas justru hancur karena terlibat dalam masalah plagiarisme. Ia mengakui, dengan mengutip banyak sumber, seorang penulis justru akan terlihat lebih intelektual. “Ingat, saat ini sudah ada software yang bisa mendeteksi plagiarisme.” ed: Endah Hapsari

[Republika]

Komentar



error: Konten dilindungi!