Pengalaman Mengikuti Tes IELTS (+ Tips)

keep-calm-and-lets-practice-7

Postingan ini gue bikin sebagai janji kepada diri gue sendiri kalau dapat band score di atas 6.00, gue bakalan nulis di blog. Bukan sebagai dokumentasi sotoy-sotoyan, tapi buat berbagi ke sesama orang yang perlu tips dan juga sedikit gambaran tentang gimana sih rasanya ikutan tes IELTS. Susah ngga? Apa aja yang perlu disiapin, dll. Nah, untuk tujuan inilah gue nulis.. semoga berguna buat yang baca..

About the test
Tesnya diselenggarakan hari Sabtu, 13 Desember 2014 lalu di Hotel Cemara Menteng, ga jauh dari Sarinah Thamrin dan Grand Indonesia. Tes bakalan dimulai jam 9.00 WIB, tapi di email semua peserta diminta untuk datang minimal 30 menit sebelumnya. Karena gue ga suka terburu-buru dan pengen nyantai pas masuk ruang tes, gue pun datang jauh lebih awal. Alhasil, gue jadi peserta pertama yang datang dan udah nyampe sana jam 6.15 WIB. Mas-mas resepsionisnya sampe bingung gitu, hahaha~
Sebelum masuk ruang tes, semua peserta diwajibkan untuk menitipkan semua barang di tempat yang sudah disediakan. We were practically not allowed to take anything from our bag, only our passport. That’s it. Hah, terus gimana dong ngerjain tesnya kalo ga boleh bawa apa-apa? Tenang aja, karena pihak panitia sudah menyediakan alat-alat tulis berupa pensil (kayu dan mekanik), pulpen, penghapus dan juga sebotol kecil air mineral di atas meja.
Dan jangan kaget kalo di meja ada semacam pembatas tinggiii banget di meja. Ini untuk misahin pandangan supaya dua kandidat yang duduk bersebelahan ga nyontek kali ya. Tapi asli deh, sekalipun ga ada tuh pembatas, gue sama sekali ga sempat nyontek. Boro-boro nyontek, kepikiran aja nggak. Soalnya setiap bagian tes dirancang sedemikian rupa sehingga kita hanya punya sedikit waktu untuk melihat kembali lembar soal dan mengoreksi jawaban yang sekiranya dianggap salah.

Tes IELTS terdiri dari empat bagian yaitu Listening, Reading, Writing, dan Speaking. Untuk tiga sesi tes pertama, selang waktu antara satu tes menuju tes yang lain hanya sedikit. Mungkin sekitar 5 menit aja, itu pun dipakai untuk panitia mengumpulkan lembar soal dan jawaban. Setelah itu ya lanjut lagi pemerasan otak di sesi tes berikutnya.
Makanya, buat yang mau ikutan tes IELTS mesti banget belajar dan tenang saat ngerjain ujian. Karena ga ada kesempatan nyontek, kalaupun ada pasti ketahuan dan didiskualifikasi dari tes. Kalau ngerjain tes ga tenang, yang ada ga bisa fokus dan salah jawab. Banyak soal IELTS sebetulnya mudah, tapi tricky karena pakai vocabulary yang mungkin ga biasa kita dengar atau gunakan dalam percakapan sehari-hari. Untuk tau lebih lanjut tentang tesnya, berikut ini gue bikin review singkat per bagian tes.

IELTS review
Listening (band score: 7.5)

Kalo gue ga salah inget ini ada tiga bagian di dalamnya. Jadi semacam fill in the blank ngisi percakapan telepon, terus dengerin rekaman wawancara, dan (ini bagian yang paling gue benci) mendengarkan arahan dan mencocokkan peta lokasi atau denah suatu ruangan. Semuanya dalam aksen British kental, jadi kalo ga pasang kuping baik-baik kedengerannya kayak sekumpulan orang lagi kumur-kumur entah ngomong apa.
Secara umum semua bagian tes bisa gue kerjakan dengan baik, kecuali yang peta lokasi itu. Karena kemampuan spasial gue buruk jadi salah satu aja atau kalau skip dengerin satu hal aja, bisa salah ngejawab dua, tiga soal atau bahkan semuanya. Gue menargetkan bisa dapat skor 8 di Listening, tapi gue rasa bagian peta lokasi ini membuyarkan semuanya. Jadilah gue dapet 7.5.
Tips: Mohon korek kuping baik-baik sehari sebelum tes dan di pagi hari sebelum berangkat. Konsentrasi tingkat tinggi sangat diperlukan di sini karena rekaman suara hanya diputar sekali aja. Sebelum rekaman diputar, wajib liat semua soal per bagian untuk bisa mengira- ngira isi rekaman tentang apa. Jadi sewaktu mendengarkan, ga kagok dan bisa langsung isi di lembar jawaban sesuai dengan instruksi di awal.

Reading (band score: 8.0)

Gue ga inget ada berapa bagian reading, yang jelas ada satu bahan bacaan super panjang yang nyeritain tentang beberapa orang arkeolog dan penemuan mereka yang berhubungan dengan manusia prasejarah. Bacaan yang menarik tapi sedikit memusingkan karena paragrafnya kebanyakan, udah gitu banyak banget istilah-istilah ilmiah ga umum yang membuat gue sampai harus membaca keseluruhan kalimat atau paragraf dua kali untuk mengerti konteksnya.
Meski gue ga terlalu suka mengerjakan bagian tes ini, ternyata kontribusinya cukup besar untuk mengangkat overall band score. Enaknya reading adalah semua jawaban atas pertanyaan yang diminta ada di dalam bacaan yang disediakan. Jadi sebenarnya tes ini menuntut ketelitian kita dalam membaca dan seberapa jauh kemampuan komprehensi bahasa kita. As long as you are reading thoroughly, this test should be a piece of black forest cake.

Tips: Banyak membaca berbagai jenis bacaan. Terutama buku-buku non-fiksi, majalah luar negeri, atau situ-situs berita internasional dalam Bahasa Inggris. Ini penting untuk melatih kemampuan kita mencerna isi teks dan memahaminya dengan baik. Juga berguna buat nambah kosakata yang pastinya jarang dipakai dalam conversational English. Tiap kali nemu kata-kata yang unik atau dirasa unfamiliar, segera catat dan cari maknanya dalam Bahasa Inggris juga jangan dalam Bahasa Indonesia. Kalau diterjemahin dalam Bahasa Indonesia, kapan bisa hafal padanan kata, sinonim dan antonimnya?

Writing (band score: 7.0)
Hanya terdiri dari dua bagian aja, yaitu menulis surat dan sebuah esai. Untuk surat diminta minimal 150 kata, sedangkan esai minimal 250 kata. Menulis dalam Bahasa Indonesia aja udah jadi tantangan tersendiri ya, apa lagi nulis dalam Bahasa Inggris? Tapi tenang aja, selama banyak latian nulis, pasti bisa kok ngerjain bagian ini.
Untuk penulisan surat, di soal ujian yang gue dapat peserta diminta untuk menulis surat kepada seorang manajer bandara. Isi surat melaporkan tentang suatu masalah, alasan mengapa kita menulis surat, dan tawaran solusi atas masalah tersebut. Di bagian penulisan esai, disediakan sebuah topik tentang usulan untuk menambahkan porsi waktu lebih banyak untuk pelajaran drama, seni, musik, dan penulisan kreatif. Kita boleh setuju dengan usul tersebut, boleh juga tidak. Yang penting menyertakan alasannya.
Jangan berpikir bahwa writing itu semuanya tentang kecerdasan si penulis. Semakin cerdas atau banyak kata-kata dalam esainya, maka semakin besar nilainya. Salah. Dari banyak buku tips IELTS yang gue baca, justru dalam writing itu yang dinilai adalah grammar, koherensi antar paragraf, diksi atau pilihan kata serta struktur esai yang dibangun. Sounds too technical? Maybe. But you can tell whether or not an essay is good by examining those points of assessment.
Tips: Hindari menulis esai terburu-buru. Bangun dulu struktur esai atau surat yang mau ditulis supaya examiner nanti bisa mencentang banyak poin dari tulisan kita. Surat dan esai yang baik terdiri dari opening, body, and closing. Jadi kira-kira setiap esai akan terdiri dari tiga hingga lima paragraf yang rapi, koheren, dan nyaman dibaca. Jangan terlalu terlena dalam menulis, terutama kalau dapat topik yang memang kita kuasai. Ingat, examiner hanya punya waktu terbatas untuk memeriksa semua esai. Usahakan untuk membuat tulisan yang mudah dibaca, isinya sesuai dengan topik dan ga ngalor ngidul bikin yang baca jadi pusing.

Speaking (band score: 8.0)
Sesi ini bisa dibilang paling menyenangkan karena hanya sebentar saja, sekitar 10-15 menit gitulah. Kita akan berbicara dengan seorang native speaker, British pastinya, dan percakapan kita akan direkam dan diberi waktu. Sehingga jangan khawatir examinernya memberi penilaian subjektif atau ga sesuai dengan harapan. Karena pastinya mereka memeriksa speaking kita berdasarkan poin-poin penilaian yang sudah ditentukan.
Setiap orang dapat topik yang berbeda-beda dan biasanya topik yang ringan. Untuk speaking, grammar memang penting tapi bukan yang utama seperti dalam writing. Namanya juga ngobrol biasa, ya berbicaralah dalam conversational English, jangan terlalu baku gitu biar ga terkesan kayak robot. Sepertinya diksi sangat besar bobotnya di sini, karena pada saat gue menyebut beberapa kata yang unik dan ga begitu banyak dipakai dalam percakapan sehari-hari, examinernya tersenyum senang. Eh, apa gue aja kali ya yang kege-eran? Hahaha~
Untuk speaking, examiner pertama kali akan menanyakan sedikit tentang kita. Ya semacam self-introduction gitu. Sekarang lagi sibuk sekolah atau kerja di mana, terus cerita sedikit tentang studi atau profesi kita. Abis itu dikasih topik (tiap orang beda-beda topiknya) dan gue kebagian topik tentang “reading habit”. Ditanya-tanyalah opini gue tentang kebiasaan membaca orang Indonesia, orang dewasa pada umumnya, bagaimana perkembangan teknologi yang mendukung atau malah memundurkan minat membaca, dan bagaimana kebiasaan membaca anak seharusnya dimulai. Trus gue juga ditanyain tentang buku apa yang terakhir kali gue baca dan disuruh nyebutin apa kekurangan dan kelebihan buku itu. Udah gitu doang. Sederhana kan?
Tips: Just treat this test as a conversation between you and your work colleague. Pergunakan bahasa Inggris yang baik, semi-formal, tapi jangan kaku. Hindari “errr” atau “hmmm”, kalau emang perlu waktu untuk mikir sebelum menjawab bisa bilang, “interesting question” atau “let me think about it”. Ingat, percakapan kita direkam untuk kemudian dinilai. Menggumam bukan hanya ga enak didengar, tapi menghabiskan waktu dan terkesan bingung dengan pertanyaan yang diajukan. Be confident and just have fun on this test!

Overall IELTS Score: 7.5
Skor ini di luar target gue sebetulnya, tapi beberapa orang yang pernah mengikuti tes IELTS bilang skor ini udah bagus banget. Apalagi untuk gue yang first-timer dan mengikuti tes tanpa melalui preparation course sebelumnya. Sertifikat IELTS yang berisi rincian nilai dirilis 13 hari sesudah tanggal tes. Diambilnya di kantor British Council di Gedung Bursa Efek Jakarta Tower 2, Sudirman.
Buat yang mau ikutan tes IELTS, gue sarankan untuk banyak membaca dan latihan. Personally, gue hanya membaca tiga buku aja dan latihan dari satu website yang berisi banyak materi tes IELTS. Materi-materi ini kemudian gue print supaya lebih nyaman dibaca di atas kertas daripada lewat monitor dan tentunya bisa gue coret-coret dengan stabilo supaya mudah diingat. Berikut ini adalah referensi bahan belajar untuk tes IELTS yang gue andalkan sebelum tes.

1. Prepare for IELTS General Training Practice Tests
-> Ini buku harganya Rp 150 ribu, belinya di Gramedia Blok M Square waktu itu. Mungkin bisa dicek di toko buku terdekat stoknya ada atau ga. Buku ini bagus banget karena nyaman dibaca dan contoh-contoh soalnya relevan dengan tes yang gue ambil. Terdiri dari lima modul soal, kunci jawaban dan CD berisi rekaman listening yang berguna buat latian sebelum tes.
2. Cambridge English Top Tips for IELTS General Training
-> Buku ini dapet gratis dan jumlahnya terbatas, ga semua pendaftar bisa dapet buku ini. Kalau mau dapetin buku yang juga dilengkapin CD ini, silakan daftar IELTS langsung di kantornya.
3. Things Your English Books Don’t Tell You
-> Ini buku bacaan selingan aja, karena pada dasarnya gue gampang terdistraksi saat belajar. Jadi gue perlu bahan bacaan lain yang ga terlalu serius tapi tetap berguna buat persiapan tes. Baca buku ini lumayan berguna buat Speaking, karena di dalamnya ada banyak idiom dan penjelasan tentang penggunaan kata penghubung, sinonim, antonim dan masih banyak lagi.
4. Website www.dcielts.com
-> Seriously this is the best website ever that every IELTS test taker will love. Ada banyak banget tips, latihan soal dan pembahasan mengenai tes IELTS baik untuk Academic maupun General Training. Saking bagusnya materi-materi yang dikasih di sini, gue sampe merasa perlu untuk memprint out sampai hampir 50 halaman materi belajar pilihan. Pokoknya siapapun yang mau tes IELTS, mesti banget buka website ini deh. Highly recommended.

Itulah pengalaman gue mengikuti tes IELTS. Semoga berguna buat siapapun yang membaca. If you happen to be reading this because you were googling for IELTS tips, you have my support and I wish you a huge success on the test

Oleh : Dearmarintan

Komentar



error: Konten dilindungi!