Tak Ada yang Mustahil

Brian-2-300x300

Halo teman-teman,

Pertama-tama, perkenalkan nama saya Brian, mahasiswa tahun pertama program doktoral jurusan Ilmu Bahan (Materials Science) di University of Oxford. Pada kesempatan ini, saya akan membagi pengalaman saya meraih gelar S1, S2, dan menjalani program S3 di UK. Jika melihat ke belakang lagi, tidak pernah terpikir sedikitpun kalau saya akan berada di UK sekarang ini, apalagi belajar di salah dua dari universitas terbaik dunia, Oxford dan Cambridge (disingkat Oxbridge) yang sejak dahulu hanyalah sebuah angan-angan belaka.

Cerita dimulai ketika saya masih bersekolah di SMAK 1 BPK Penabur Jakarta. Meskipun ada beberapa alumni SMA saya yang masuk ke universitas top dunia seperti MIT, LSE, dan UC Berkeley, saya tidak berani untuk mendaftar ke universitas-universitas tersebut. Sebenarnya saya juga sudah kursus dan mengambil tes TOEFL, tetapi aplikasi saya ke universitas-universitas di Singapura dan US ditolak, dan saya pun memutuskan untuk belajar ke negeri Cina. Singkat kata, saya tidak merasa berkembang setelah menghabiskan 2.5 tahun di Cina, dan mulai memikirkan cara untuk pindah ke negara lain. Setelah berdiskusi dengan orang tua dan melakukan pencarian informasi yang sangat intensif, saya pun memutuskan untuk memilih studi ke UK. Pertimbangan utama saya adalah, selain banyak universitas di UK yang memiliki peringkat tinggi di dunia, saya berharap dapat menyelesaikan S1 dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Proses pindah dari Cina ke UK tidaklah mudah, dan memerlukan banyak persiapan. Saya pun pulang ke Indonesia untuk mempersiapkan IELTS sekaligus mendaftar ke beberapa universitas di UK. Karena tidak banyak universitas di UK yang menawarkan program Materials Science, saya pun hanya melamar ke empat universitas: Sheffield, Liverpool, Leeds, dan Manchester. Hasilnya, saya diterima di keempat universitas tersebut, dan memilih University of Manchester karena selain mereka menerima saya di tahun kedua, saya juga terkesan dengan prestasi School of Materials di sana yang menempati peringkat 3 nasional di bawah Oxbridge.

Kuliah di Manchester ini adalah titik balik dalam pendidikan saya karena banyak sekali yang saya pelajari di sini. Kondisi belajar mengajar di UK sangat berorientasi terhadap penelitian. Jadi, selain harus mempelajari berbagai macam teori, saya juga dituntut untuk melakukan hal-hal baru yang asing bagi saya dan melakukan riset secara mandiri. Karena sejak awal saya memang ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, saya benar-benar menaruh semua fokus saya ke pendidikan. Akhirnya pengorbanan selama dua tahun di Manchester terbayar dengan diterimanya saya di University of Cambridge untuk S2, bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan. Untuk universitas-universitas dengan kualitas setara, biaya kuliah dan biaya hidup (terutama untuk di luar London) tidak semahal di US atau Australia. Saya juga dapat menyelesaikan S2 dalam satu tahun, membuat UK sebagai tujuan belajar S2 yang sangat menarik untuk saya.

Sebagai dua universitas tertua di UK, Oxbridge memiliki banyak keunikan dibandingkan universitas lainnya. Salah satunya collegiate system di mana universitas terdiri dari beberapa colleges yang tidak hanya merupakan lingkungan tempat mahasiswa tinggal dan bersosialisasi, tetapi juga menyediakan perpustakaan, gym, kapel, common room, dan dining hall (ya, salah satunya adalah ruang makan di Christ Church College Oxford yang menjadi model di film Harry Potter) selain dari ratusan department tempat kegiatan riset dan belajar mengajar. Kedua universitas ini juga mempunyai sistem tutorial (Oxford) atau supervision (Cambridge), sesi intensif di mana mahasiswa dalam kelompok kecil (2-4 orang) dapat berdiskusi langsung dengan staff pengajar yang merupakan ahli di bidangnya masing-masing. Tahun ajaran di Oxbridge terdiri dari 3 term yang masing-masing lamanya hanya 8 minggu. Ini adalah tantangan tersendiri bagi para mahasiswa untuk menguasai materi dan menyelesaikan tugas yang banyak dalam waktu yang relatif singkat.

Aura Cambridge sebagai kota pendidikan dengan tradisi dan sejarah panjang dapat dirasakan di pusat kota, di mana terdapat banyak colleges yang berusia ratusan tahun dengan alumni seperti Isaac Newton, Charles Darwin, hingga Stephen Hawking. Tentunya tidak mudah untuk diterima di Cambridge, dapat dilihat dari proses aplikasi yang melibatkan wawancara dan tes tertulis. Program S2 saya di sini pada dasarnya merupakan tahun terakhir dari program undergraduate masters (di mana 4 tahun program sarjana atau undergraduate akan mendapat gelar S2 atau masters degree). Term yang sangat singkat berujung pada jadwal ketat seperti di pagi hari saya pergi ke kelas dan setiap sore dihabiskan di laboratorium mengerjakan berbagai eksperimen untuk bahan penelitian tesis saya. Namun, pengalaman belajar di Cambridge ini membuat saya semakin tertarik dengan dunia penelitian.

Di akhir studi saya di Cambridge, saya pada mulanya berpikir untuk melamar kerja. Namun, saya juga memiliki cita-cita untuk sekolah setinggi mungkin selagi masih muda. Di sisi lain, saya juga tidak ingin memberatkan orang tua dengan studi S3 dengan biaya sendiri. Dari pengalaman saya, sangat sulit untuk mahasiswa asing mendapatkan beasiswa. Jadi, karena tidak ada beasiswa di Cambridge, saya mencoba untuk mendaftar ke University of Oxford. Lagi-lagi saya harus mendatangi universitas tersebut khusus untuk diwawancara oleh tiga orang dosen. Saya khawatir karena pendaftaran beasiswa dari universitas sudah ditutup, tetapi untungya peluang beasiswa dari perusahaan masih terbuka. Itupun hanya mencakup biaya kuliah untuk mahasiswa lokal yang jauh lebih sedikit daripada biaya untuk mahasiswa asing. Meskipun begitu, saya memberanikan diri untuk bernegosiasi dan setelah penantian yang menegangkan, akhirnya saya berhasil mendapatkan beasiswa dari sebuah perusahaan di Amerika yang bersedia menanggung semua biaya sekolah dan biaya hidup saya.

Sekalipun mendapatkan beasiswa, saya masih menimbang-nimbang apakah akan melakukan studi S3. Program doktoral di UK pada dasarnya hanyalah proyek penelitian (pada umumnya 3-4 tahun). Walaupun harus menulis beberapa laporan, tetapi tidak ada kelas, apalagi PR. Selain harus memiliki rasa keingintahuan yang sangat besar, juga dibutuhkan semangat pantang menyerah (sangat penting untuk pekerjaan yang berhubungan dengan eksperimen di lab), dan kegigihan melakukan hal tersebut dalam jangka panjang agar dapat menyelesaikan program S3. Namun, khusus di bidang saya, sebenarnya Oxford mempunyai fasilitas yang sangat lengkap. Kebetulan, instrumen untuk eksperimen saya adalah fasilitas state of the art yang bahkan tidak tersedia di Cambridge, atau universitas lainnya di UK. Proyek penelitian saya juga merupakan bagian dari kerjasama berbagai perusahaan dan universitas di UK, Eropa dan US. Karena itu saya dapat bertemu langsung dengan ahli-ahli ilmu bahan dari berbagai perusahaan, universitas, dan pusat penelitian terkemuka di berbagai negara. Menyadari kesempatan ini tidak akan datang dua kali, saya pun mengambil offer tersebut.

Dari Cambridge, saya menyeberang ke rival abadi mereka, Oxford. Sangat unik memang, melihat rivalitas kedua universitas yang mengaku sebagai yang terbaik di UK tersebut. Hampir semua hal yang kita dapat temui di Cambridge juga ada di Oxford. Mulai dari collegiate system, museum, botanical garden, perpustakaan berkelas dunia, berbagai macam tradisi (seperti formal dinner), hingga bop dan punting (dapat di-Google untuk info lebih lanjut). Seperti halnya di Cambridge, kita dapat dengan mudah menemui orang mengenakan academic gown (jubah untuk wisuda) dalam berbagai macam kegiatan seperti ujian, formal dinner, dan matrikulasi di Oxford. Kedua universitas ini juga sering mengundang tokoh penting dari seluruh dunia seperti peraih hadiah Nobel, pemimpin negara, artis, dan olahragawan terkenal untuk memberikan presentasi langsung di hadapan kita. Sesuatu yang menurut saya unik di Oxbridge.

Melihat kembali cerita saya, saya menyadari bahwa jalan yang saya tempuh ini bukanlah jalan yang lurus dan mulus. Awalnya saya berpikir sangat sulit dan tidak semua orang dapat belajar di universitas ternama, tetapi keberanian dan optimisme saya membuat saya seperti sekarang ini. Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah memberikan kesempatan berharga di akhir perjuangan saya. Selama kita terus mencoba, tak ada yang mustahil. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi para calon mahasiswa Indonesia yang ingin belajar ke UK.

Kontributor : Brian Setiadinata
Editor : Tim Pesan Abang PPIUK /arm

Profil: Brian Setiadinata :
Riwayat Pendidikan:
– 2009-2011: University of Manchester BSc(Hons) (First Class) in Materials Science and Engineering
– 2011-2012: University of Cambridge MASt in Materials Science
– 2012-sekarang: University of Oxford DPhil in Materials Science (beasiswa Westinghouse Industrial Scholarship)

Beasiswa:
– Worshipful Company of Ironmonger Prize (2011) for the best project in ferroic-related topic
– Course Prize (2011) for the best overall students in the final year
– Corus Prize (2010) for best performance of second year student in Metallurgy-related subjects
– Beasiswa Westinghouse Industrial Scholarship (2012-2016)

[PPI UK/ ICAMPUS INDONESIA]

Komentar



error: Konten dilindungi!