Pengalaman Mahasiswa Indonesia Kuliah di Kawasan Australia Utara

Jika biasanya mahasiswa internasional memilih kota-kota besar, seperti Sydney dan Melbourne sebagai tujuan menimba ilmu, Rangga Daranindra justru memilih berkuliah di kota Darwin, Kawasan Australia Utara. Kota besar yang paling dekat jaraknya dengan Indonesia ini menjadikan pintu gerbang antara kultur Asia dan Australia.

Saya menuntut ilmu di Australia, tepatnya di Darwin-Northern Territory, sama sekali bukan karena sejak kecil saya memimpikannya, melainkan karena tidak ada pilihan lain bagi saya untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi setelah lulus SLTA.

Pada tahun 2010 saya memutuskan untuk mengikuti orang tua bertugas di kota ini untuk dapat melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, karena tahap demi tahap ujian masuk perguruan tinggi dapat saya lalui dan sayapun akhirnya terdaftar sebagai mahasiswa pada Charles Darwin University (CDU).

Sejak saat itu, saya dituntut untuk segera meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris serta bersosialisasi dengan mahasiswa lain, baik yang berasal dari Australia maupun dari berbagai negara lainnya. Saat orang tua saya berakhir tugas di Darwin pada tahun 2012,  saya pun segera mencari kerja part time untuk dapat membiayai kebutuhan sehari-hari.

Rangga Daranindra kedua dari kanan, Foto: Koleksi pribadi.
Rangga Daranindra kedua dari kanan, Foto: Koleksi pribadi.

Australia dikenal sebagai negara berbahasa Inggris yang sangat mengedepankan kualitas pendidikan dan memberikan perhatian besar kepada siswa internasional, tanpa memandang dari negara mana mereka berasal.

Australia juga dikenal sebagai negara yang memiliki banyak perguruan tinggi bergengsi, bahkan banyak diantaranya tergolong peringkat atas di dunia. Meski demikian, saya memiliki banyak alasan untuk tetap melanjutkan studi di Charles Darwin University.

Darwin adalah kota yang relatif kecil dan modern. Karenanya, saya cepat merasa seperti ”at home” di kota ini.

Secara geografis, kota ini berjarak paling dekat dengan Indonesia, dimana hanya memerlukan satu setengah jam penerbangan untuk tiba di Bali. Dengan iklim yang tidak terlalu berbeda dari Indonesia serta aneka ragam makanan yang mirip dengan makanan Indonesia telah memudahkan saya untuk beradaptasi di Darwin.

Rangga bersama teman-teman dari CDU. Foto: Koleksi Pribadi.
Rangga bersama teman-teman dari CDU. Foto: Koleksi Pribadi.

Charles Darwin University (CDU)  adalah merupakan salah satu perguruan tinggi peringkat atas di Australia, karenanya memperkuat tekad belajar saya hingga gelar Bachelor of Commerce dapat saya raih tepat pada waktunya, yaitu pada bulan Juli 2013.

Tak terasa sudah lebih dari lima tahun saya menuntut ilmu di negeri Kanguru ini. Masih teringat jelas langkah kaki saya menapaki bandara Darwin untuk pertama kalinya pada pertengahan bulan Januari 2010. Saya tiba di pusat kota Darwin pukul 11 malam. Suasana kota yang sangat sepi membuat saya merasa seolah tiba di kota hantu dan selintas muncul perasaan kecewa dan menyesal telah memilih Darwin sebagai tempat untuk melanjutkan sekolah.

Keesokan harinya saya memberanikan diri untuk berjalan kaki mengelilingi kota Darwin yang ternyata sangat kecil. Dengan kemampuan berbahasa Inggris yang seadanya, saya berhasil  membeli makanan, tiket bis dan kartu telpon. Saya sangat sadar bahwa keberhasilan saya berbelanja bukan karena keahlian saya berbahasa Inggris, melainkan karena keramahan dan kepedulian orang-orang Darwin. Hal ini membuat saya lebih tenang  dan percaya diri untuk berkomunikasi dengan orang setempat.

Pesona Indonesia, salah satu acara yang menampilkan festival Indonesia di Darwin. Foto: Koleksi pribadi.
Pesona Indonesia, salah satu acara yang menampilkan festival Indonesia di Darwin. Foto: Koleksi pribadi.

Sebagai mahasiswa internasional banyak sekali pengalaman yang saya dapat selama kuliah di Darwin. Diantaranya adalah kesempatan untuk bisa berorganisasi, berinteraksi dan bekerjasama dengan orang-orang dengan latar belakang budaya bermacam-macam. Mulai dari keseharian seperti cara berbicara, berinteraksi, dan bersosialisasi hingga dalam kegiatan-kegiatan akademik. Pengalaman ini banyak memberi saya pelajaran yang sangat berharga untuk karir dan pekerjaan ke depannya.

Selain di kampus, pengalaman yg paling berkesan juga selama belajar di Darwin adalah kesempatan untuk bergabung dengan organisasi international dan dalam negeri seperti Red Cross, Chief Minister Youth Round Table, dan Multicultural Youth Northern Territory, serta tentunya organisasi pelajar seperti Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) di Kawasan Australia Utara.

Darwin juga menawarkan kesempatan untuk bekerja part-time dengan pilihan bidang yang sangat luas. Di kota ini sudah tidak asing lagi bagi mahasiswa atau pelajar SLTA untuk memiliki paling tidak satu pekerjaan sambilan dalam masa studinya. Hal ini membuat Darwin sebagai destinasi studi yang digemari oleh mahasiswa asing yang ingin mencari pengalaman kerja di luar negeri dan atau memulai karirnya di Australia.

Bersama dengan mahasiswa internasional, mengusung semangat multikultur. Foto: Koleksi Pribadi.
Bersama dengan mahasiswa internasional, mengusung semangat multikultur. Foto: Koleksi Pribadi.

Warga NT sangat dikenal akan keramahannya, sikap toleran, dan menghargai perbedaan kultur. Setelah lima tahun menjalankan studi di kota ini, saya rasa Darwin dapat dijadikan tujuan yang sangat tepat untuk mahasiswa asal Asia tenggara, khususnya Indonesia.

Banyak sekali yang ingin saya pelajari tentang kota ini. Perpaduan antara kultur Asia yang kental dan kedisiplinan Australia membuat Darwin satu-satunya ibu kota negara bagian di Australia yang sangat unik.  Seperti yang disampaikan professor saya dalam sambutannya di depan mahasiswa baru “..and you know that studying abroad in Darwin basically ruined your life, because nothing else will ever compare”.

Keindahan menjalankan studi di Darwin memang sulit untuk digambarkan kepada mahasiswa Indonesia yang mengharapkan kota besar seperti Sydney dan Melbourne, namun jika ingin mendapatkan pendidikan berkualiatas di Australia sekaligus mendapatkan pengalaman yang bisa melatih kemandirian, baik dalam segi mental maupun finansial, saya rasa tidak ada kota yang dapat menyaingi Darwin.

*Tulisan ini adalah pendapat pribadi

*Tulisan ini adalah pendapat pribadi dari Rangga Daranindra adalah mahasiswa Master of Business Administration di Charles Darwin University yang ditulis di Radio Australia

Komentar



error: Konten dilindungi!